Ferdiansyah: Kepala Sekolah Harus Cerdas Kelola Sampah
- account_circle Kang Doel
- calendar_month 22 jam yang lalu
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Anggota DPR RI Komisi X Ferdiansyah menegaskan bahwa kepala sekolah harus cerdas kelola sampah sekaligus mampu membangun ekosistem pendidikan yang kuat di lingkungan sekolah. Menurutnya, kepala sekolah saat ini tidak bisa lagi hanya berperan sebagai pengawas kegiatan belajar mengajar, tetapi harus tampil sebagai manajer yang memahami persoalan sekolah secara menyeluruh.
Pernyataan itu disampaikan Ferdiansyah saat menyoroti pentingnya penguatan kepemimpinan kepala sekolah, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia pendidikan, mulai dari keterbatasan anggaran hingga persoalan lingkungan seperti sampah. Ia menilai kepala sekolah perlu memiliki cara pandang yang luas, cepat membaca masalah, dan mampu mengubah persoalan menjadi peluang.
Menurut Ferdiansyah, kepala sekolah pada dasarnya merupakan pemimpin utama di lingkungan pendidikan. Karena itu, kepala sekolah harus memahami ekosistem sekolah secara utuh, mulai dari siswa, guru, orang tua murid, hingga lingkungan sosial di sekitar sekolah seperti RT dan RW. Seluruh unsur tersebut, kata dia, perlu diberdayakan melalui perencanaan yang matang.
“Kepala sekolah itu bukan hanya mengurus kelas atau administrasi. Ia adalah manajer sekolah, bahkan kalau memakai istilah yang lebih tegas, direktur utama sekolah. Karena itu harus paham ekosistem sekolah dan mampu memberdayakan semua komponen yang ada,” ujarnya.
Kepala Sekolah Harus Paham Ekosistem Sekolah
Ferdiansyah menilai penguatan peran kepala sekolah menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan pendidikan yang semakin kompleks. Sekolah, menurut dia, tidak bisa terus bergantung pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk menutup seluruh kebutuhan.Dibutuhkan pemimpin sekolah yang berintegritas, kreatif, dan memiliki kemampuan membangun kolaborasi.
Ia menyebut, kepala sekolah harus mampu melihat sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan. Hubungan dengan guru, siswa, orang tua, hingga masyarakat sekitar harus dibangun sebagai bagian dari satu ekosistem yang saling mendukung. Dengan cara itu, sekolah dapat memiliki kekuatan lebih besar untuk menyelesaikan persoalan internal maupun eksternal.
Dalam pandangan Ferdiansyah, setiap orang yang ingin menjadi kepala sekolah semestinya dibekali pendidikan kepemimpinan khusus. Tujuannya agar mereka tidak hanya paham urusan administrasi, tetapi juga mampu mengambil keputusan strategis, menyusun perencanaan, dan memimpin perubahan di sekolah.
Ferdiansyah Sorot Masalah Sampah di Lingkungan Sekolah
Selain soal kepemimpinan, Ferdiansyah juga menyoroti persoalan sampah yang menurutnya masih menjadi tantangan di banyak sekolah. Ia menegaskan bahwa kepala sekolah kelola masalah sampah bukan sekadar soal kebersihan, melainkan bagian dari kepemimpinan dan kemampuan membaca potensi lingkungan.
Menurutnya, sekolah harus mulai memandang sampah sebagai sesuatu yang bisa diolah dan dimanfaatkan. Sampah organik, misalnya, dapat diubah menjadi pupuk yang kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Dalam konteks tertentu, hasil pengolahan itu bahkan bisa menjadi nilai tambah bagi sekolah maupun masyarakat sekitar.
Ferdiansyah mencontohkan, sekolah yang berada di wilayah pedesaan bisa membangun kerja sama dengan petani setempat. Sampah organik dari lingkungan sekolah diolah menjadi pupuk, lalu hasilnya dapat ditukar atau dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu. Pola semacam ini dinilai sebagai bentuk terobosan yang lahir dari kepemimpinan yang kreatif. Karena itu, kepala sekolah harus cerdas kelola sampah dan tidak melihat persoalan lingkungan sebagai beban semata. Justru dari persoalan itu, sekolah bisa membangun budaya peduli lingkungan sekaligus mencari solusi atas keterbatasan anggaran.
Sampah Bisa Jadi Peluang Tambahan Pendapatan Sekolah
Ferdiansyah juga mendorong sekolah untuk lebih inovatif dalam memanfaatkan barang bekas dan limbah yang ada. Menurut dia, berbagai jenis sampah nonorganik bisa diolah kembali menjadi barang bermanfaat, termasuk perlengkapan sekolah. Ia mencontohkan limbah plastik yang dapat diolah menjadi bahan bangku sekolah atau produk lain yang memiliki nilai guna.
Gagasan itu, kata dia, sejalan dengan upaya membangun sekolah yang mandiri dan tidak hanya menunggu bantuan. Bila dikelola dengan baik, pemanfaatan sampah dapat menjadi bagian dari pembelajaran kewirausahaan, pendidikan lingkungan, sekaligus penguatan ekonomi sekolah.
Ia menilai sekolah menengah, terutama SMA dan SMK, memiliki peluang besar untuk mengembangkan inovasi tersebut. Jika didukung fasilitas dan peralatan yang memadai, sekolah bahkan bisa tumbuh menjadi pusat industri kecil yang menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Ferdiansyah menegaskan, penguatan ekosistem sekolah tidak boleh dimaknai secara sempit. Kepala sekolah dituntut berpikir luas, jeli melihat kebutuhan, serta cepat merespons persoalan di lingkungan sekitarnya. Mulai dari urusan kepemimpinan, pembiayaan, hingga penanganan sampah, semuanya membutuhkan kepala sekolah yang adaptif dan berani berinovasi.
Dengan demikian, sorotan Ferdiansyah bukan hanya soal kritik terhadap pola pikir kepala sekolah, tetapi juga ajakan agar pemimpin sekolah lebih siap menghadapi tantangan zaman. Dalam konteks itu, pesan utamanya jelas: kepala sekolah harus cerdas kelola sampah, memahami ekosistem sekolah, dan mampu mengubah masalah menjadi peluang untuk kemajuan pendidikan. (KRS/Doel)
- Penulis: Kang Doel


Saat ini belum ada komentar