lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Dugaan Bullying Siswa SMA Tasikmalaya, yaitu yang terjadi kepada siswa kelas 10 di salah satu SMA negeri di Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya, mulai terungkap.
Jika sebelumnya kasus ini baru terungkap melalui dua video yang diterima redaksi dan masih menyisakan banyak pertanyaan, kini keluarga korban membeberkan kronologi yang lebih rinci. Peristiwa yang diduga melibatkan siswa kelas 12 sebagai senior tersebut juga telah dibawa ke jalur hukum.
Kasus ini mencuat setelah seorang ibu mendatangi tempat berkumpulnya para senior untuk mencari anaknya yang diduga menjadi korban kekerasan.
Keluarga menyebut peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 24 September 2026.
Berita sebelumnya: Dugaan Aksi Bullying di Salah Satu SMA Negeri Tasikmalaya, Keluarga Korban Kirim Dua Video
Berawal dari Korban Dijemput dari Kelas
Menurut keterangan keluarga, persoalan bermula ketika kegiatan belajar mengajar masih berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB.
Korban bersama seorang rekannya diduga dijemput paksa dari dalam kelas oleh sejumlah siswa kelas 12.
Keduanya kemudian disebut mendapat perlakuan kasar dan diarak melewati sejumlah ruang kelas sebelum dibawa menuju ruang Bimbingan Konseling (BK).
Di ruang tersebut, korban dan rekannya disebut mendapatkan peringatan berkaitan dengan persoalan senioritas.
Namun, menurut keluarga korban, persoalan tidak berhenti di lingkungan sekolah.
Setelah kegiatan di sekolah selesai, korban dan dua rekannya justru diminta datang ke sebuah lokasi di luar sekolah yang disebut menjadi tempat berkumpul para senior.
Dari Ruang BK Berlanjut ke Gubuk
Sekitar pukul 14.00 WIB, korban bersama dua temannya mendatangi lokasi yang telah ditentukan.
Tempat tersebut disebut berupa sebuah gubuk di luar kawasan sekolah.
Di lokasi itulah dugaan kekerasan fisik terjadi.
Menurut keterangan keluarga, korban dan rekannya diduga dipukul, ditendang serta ditampar secara bergiliran. Mereka juga disebut dipaksa untuk saling menampar.
Keterangan tersebut memperluas informasi yang sebelumnya diterima redaksi.
Dalam pemberitaan Lintas Jabar pada 25 September, redaksi sebelumnya menulis bahwa dua video yang dikirim pihak yang diduga keluarga korban memperlihatkan situasi di sekitar lokasi yang disebut berkaitan dengan dugaan bullying. Namun saat itu, rangkaian kejadian dan hubungan para siswa dalam video belum dapat dipastikan secara independen.
Kini, keluarga korban memberikan kronologi lebih lengkap mengenai apa yang mereka klaim terjadi sebelum dan setelah video tersebut beredar.
MZ Cari Anak hingga Menemukan Tongkrongan Senior
Kejadian tersebut mulai terbongkar ketika ibu korban, yang dalam pemberitaan ini disebut MZ, merasa cemas karena anaknya belum juga kembali.
Kekhawatiran itu semakin besar setelah keluarga kesulitan mendapatkan informasi mengenai keberadaan korban.
Dengan bantuan informasi dari seorang alumni, keluarga akhirnya memperoleh petunjuk mengenai lokasi berkumpulnya para siswa senior.
Sekitar pukul 16.30 WIB, MZ kemudian mendatangi lokasi tersebut.
Di sana, ia disebut menemukan anaknya bersama sejumlah rekannya dalam kondisi tertekan setelah diduga mengalami kekerasan.
Peristiwa ibu korban mendatangi tempat berkumpul para senior sebelumnya juga telah muncul dalam pemberitaan media lain pada 27 September. Laporan tersebut menyebut korban merupakan siswa kelas 10 dan pihak yang diduga melakukan kekerasan merupakan siswa kelas 12.
Keluarga Soroti Budaya Senioritas
Bagi keluarga, persoalan ini tidak berhenti pada tindakan kekerasan terhadap korban.
MZ menilai dugaan praktik senioritas di lingkungan sekolah perlu mendapat perhatian serius.
Menurut keterangan keluarga, pihak sekolah sebenarnya mengetahui adanya persoalan senioritas. Namun mereka mempertanyakan sejauh mana pengawasan dilakukan, terutama terhadap aktivitas siswa di luar lingkungan sekolah yang masih berkaitan dengan relasi senior dan junior.
Keluarga berharap penanganan tidak berhenti pada penyelesaian sesaat.
Mereka meminta sekolah ikut membenahi akar persoalan agar budaya intimidasi dan kekerasan dengan mengatasnamakan senioritas tidak kembali terjadi.
Sebab jika benar siswa kelas 10 dapat dijemput dari ruang kelas, kemudian diarahkan ke tempat di luar sekolah dan akhirnya mengalami dugaan kekerasan, maka persoalannya tidak lagi sekadar soal perselisihan antarsiswa.
Ada pertanyaan yang lebih besar mengenai pengawasan, perlindungan peserta didik dan bagaimana sekolah mencegah kekerasan sebelum terjadi.
Kasus Resmi Dibawa ke Polisi
Keluarga korban kini memilih membawa persoalan tersebut ke jalur hukum.
Laporan resmi telah disampaikan kepada pihak kepolisian dengan harapan dugaan penganiayaan dan perundungan tersebut dapat diperiksa secara menyeluruh.
Langkah hukum itu juga menjadi perkembangan penting dibanding informasi awal yang diterima redaksi.
Sebelumnya, Lintas Jabar masih menempatkan kasus tersebut sebagai dugaan karena kronologi dan pihak-pihak yang terlibat belum dapat diverifikasi secara independen. Redaksi juga membuka ruang klarifikasi bagi pihak sekolah maupun pihak lain yang disebut berkaitan dengan kejadian.
Kini, laporan polisi diharapkan dapat menjadi pintu untuk mengurai apa yang sebenarnya terjadi, siapa saja yang terlibat, bagaimana rangkaian peristiwanya, serta apakah dugaan kekerasan tersebut merupakan kejadian yang berdiri sendiri atau berkaitan dengan pola senioritas yang lebih luas.
Jangan Sampai Senioritas Menjadi Alasan Kekerasan
Dalam lingkungan pendidikan, hubungan antara siswa senior dan junior semestinya menjadi bagian dari proses pembentukan karakter, bukan ruang untuk intimidasi.
Jika dugaan dalam kasus ini terbukti, maka tindakan memukul, menendang, menampar atau memaksa siswa lain melakukan kekerasan bukan lagi persoalan “tradisi senioritas”.
Itu adalah persoalan yang harus ditangani secara serius, dan diharapkan dapat menjadi perhatian publik dan pihak-pihak terkait di Kota Tasikmalaya.
Di sisi lain, proses pemeriksaan tetap harus berjalan berdasarkan bukti dan keterangan seluruh pihak. Para siswa yang disebut terlibat juga masih harus mendapat kesempatan untuk memberikan penjelasan, sementara status hukum mereka ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan kepolisian.
Yang paling penting saat ini adalah memastikan korban mendapatkan perlindungan dan pendampingan, sementara akar persoalan di lingkungan sekolah tidak ikut terkubur setelah kasus mereda.
Sebab persoalan terbesar dari dugaan bullying bukan hanya siapa yang memukul dan siapa yang menjadi korban.
Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa budaya senioritas bisa berkembang hingga seorang siswa merasa harus meninggalkan ruang kelas, mengikuti perintah senior dan datang ke sebuah tempat di luar sekolah.
Dan ketika seorang ibu akhirnya harus datang sendiri mencari anaknya ke tongkrongan para senior, publik tentu berhak bertanya: sebenarnya sejauh mana sekolah mengetahui apa yang terjadi di antara siswa mereka? (red)


1 Komentar