Sudah Saatnya Warga Ikut Menjaga Mereka yang Menjaga Kota
- account_circle Redaktur Lintas Jabar
- calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
lintasjabar.id, TASIKMALAYA — Setiap dini hari, ketika sebagian besar warga masih tertidur, para pengangkut sampah sudah mulai bekerja menyusuri sudut-sudut Kota Tasikmalaya. Mereka mengangkat karung demi karung sampah, mendorong gerobak berat, dan membersihkan tumpukan limbah yang ditinggalkan warga setiap harinya.
Pekerjaan itu bukan sekadar melelahkan. Mereka harus berhadapan langsung dengan bau menyengat, cairan kotor, cuaca ekstrem, hingga risiko tertusuk benda berbahaya dari dalam tumpukan sampah.
Namun di balik beratnya pekerjaan itu, ada satu hal yang sering terlupakan: para petugas kebersihan bukan mesin. Mereka manusia biasa yang juga punya keluarga, kesehatan, dan rasa lelah.
Ironisnya, masih banyak warga yang belum benar-benar peduli terhadap keselamatan mereka.

Sampah Bukan Sekadar Dibuang, Tapi Harus Dipikirkan
Masalah sampah sebenarnya tidak selalu dimulai di TPS atau TPA. Semua berawal dari rumah.
Ketika sampah dibuang sembarangan, dicampur tanpa dipilah, atau diletakkan asal-asalan di pinggir jalan, dampaknya bukan hanya membuat kota terlihat kotor. Beban paling berat justru jatuh kepada para petugas pengangkut sampah yang harus membersihkan semuanya.
Bahkan tak jarang mereka menemukan pecahan kaca, jarum, limbah medis rumahan, hingga benda tajam bercampur dengan sampah biasa tanpa pemberitahuan apa pun.
Hal-hal kecil seperti itu bisa membahayakan keselamatan mereka di lapangan.
Karena itu, kesadaran warga menjadi hal yang sangat penting. Jika ada limbah berbahaya atau benda tajam, setidaknya beri tanda atau informasikan kepada petugas agar mereka lebih berhati-hati saat mengangkutnya.
Sebab satu kelalaian kecil bisa berujung luka bagi orang yang setiap hari membantu menjaga kebersihan kota.
Kota Bersih Bukan Hanya Tugas Petugas Sampah
Selama ini banyak orang menganggap urusan sampah selesai setelah dibuang dari rumah. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Kota yang bersih tidak hanya bergantung pada petugas kebersihan, tetapi juga pada kepedulian masyarakatnya.
Mulai dari hal sederhana:
- tidak membuang sampah sembarangan,
- memilah sampah dari rumah,
- mengurangi sampah plastik,
- hingga ikut menjaga lingkungan sekitar.
Bahkan budaya gotong royong seperti perelek warga atau iuran sukarela untuk kebersihan lingkungan sebenarnya bisa menjadi bentuk penghargaan kecil bagi mereka yang bekerja di garis depan pengelolaan sampah.
Karena tanpa disadari, para pengangkut sampah telah membantu menjaga kesehatan dan kenyamanan seluruh warga kota setiap hari.
Mereka Menjaga Kota, Sudahkah Kita Menjaga Mereka?
Di tengah meningkatnya volume sampah dan keterbatasan armada pengangkut, para petugas kebersihan tetap bekerja tanpa banyak keluhan. Mereka tetap datang saat hujan, tetap mengangkut sampah saat bau menyengat menusuk, dan tetap bekerja ketika sebagian orang memilih menjauh dari tumpukan limbah.
Mungkin sudah waktunya masyarakat Kota Tasikmalaya melihat mereka bukan sekadar “petugas sampah”, melainkan orang-orang yang berjasa menjaga kota tetap layak dihuni.
Karena pada akhirnya, kebersihan kota bukan hanya soal truk pengangkut atau TPA semata, tetapi soal kesadaran bersama untuk saling menjaga.
Dan bentuk kepedulian itu bisa dimulai dari rumah sendiri. (red)
- Penulis: Redaktur Lintas Jabar

Saat ini belum ada komentar