Warga Binaan Lapas Tasikmalaya, Kreativitas di Balik Jeruji Besi
- account_circle Deny Heryanto
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA– Lapas Kelas IIB Tasikmalaya kembali menunjukkan sisi lain pembinaan warga binaan. Ratusan warga binaan sukses menciptakan berbagai kerajinan tangan berbahan dasar bambu hingga akar pohon yang disulap menjadi cenderamata premium bernilai jual tinggi.
Kegiatan tersebut dilakukan di ruang khusus pelatihan kerja, Sabtu (9/5/2026). Beragam karya unik lahir dari tangan para warga binaan, mulai dari miniatur kapal, rumah adat Sunda dan Minang, hingga replika hewan seperti biawak yang dibuat secara detail dan artistik.
Kerajinan tersebut bukan hanya menjadi aktivitas pengisi waktu selama menjalani masa hukuman, tetapi juga menjadi wadah pembinaan keterampilan agar warga binaan memiliki bekal saat kembali ke masyarakat.

Proses Pembuatan Tak Selalu Mudah
Salah seorang warga binaan berinisial EH (54), warga Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya mengungkapkan proses pengerjaan kerajinan tangan dilakukan hampir setiap hari. Namun, aktivitas produksi terkadang harus terhenti ketika ada kunjungan atau kegiatan lain di dalam lapas.
“Kalau kehidupan di dalam jeruji besi, terkadang kegiatan kita terganggu dengan banyaknya tamu. Seperti contoh pembuatan kapal perahu yang seharusnya selesai tiga hari, ini baru selesai dua minggu,” ujar EH.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam membuat kerajinan bukan hanya soal teknik, melainkan menentukan konsep atau bentuk karya agar memiliki nilai estetika tinggi dan diminati pembeli.
“Yang paling sulit itu mencari image seperti apa, karena harus sesuai dengan yang kita harapkan. Seperti membuat hewan biawak dari akar pohon kelapa, kemudian rumah Sunda dan Minang supaya terlihat estetik dan punya nilai jual tinggi,” katanya.
Seleksi Ketat untuk Masuk Tim Kerajinan
EH menambahkan, tidak semua warga binaan dapat mengikuti program pembuatan kerajinan tangan tersebut. Pihak lapas menerapkan proses seleksi dan skrining ketat sebelum seseorang diperbolehkan bergabung dalam kegiatan produksi.
“Yang masuk ke sini wajib lewat skrining ketat dan harus punya skill yang bisa lolos seleksi,” ungkapnya.
Hal itu dilakukan agar kualitas hasil karya tetap terjaga dan mampu bersaing sebagai produk kerajinan premium.
Pembinaan Jadi Bekal Masa Depan
Sementara itu, Kasubsi Kegiatan Kerja, Arief Setiyo Budiarto mengatakan setiap warga binaan yang masuk ke lapas akan mendapatkan pembinaan sesuai kemampuan dan bakat masing-masing.
“Kalau memang punya bakat dan tekun, langsung kita bina dan mengikuti pelatihan,” ujar Arief.
Ia menegaskan, program pembinaan keterampilan ini menjadi bagian penting dalam membentuk mental, kreativitas, serta kemandirian warga binaan selama menjalani masa pidana.
Menurutnya, setiap warga binaan memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi karya produktif dan bernilai ekonomi.
“Semua warga yang masuk ke Lapas Kelas IIB Tasikmalaya ini mempunyai bakat masing-masing,” pungkasnya.
(dh)
- Penulis: Deny Heryanto

Saat ini belum ada komentar