Lewati ke konten
Selasa, 03 November 2026
Daerah

Shelter Dadaha Tasikmalaya Siap Bangkit, PKL Siapkan Konsep Kuliner hingga Hiburan

Redaktur Lintas JabarOktober 8, 20264 menit baca147 dilihat
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Shelter Dadaha Tasikmalaya sedang mencoba menulis cerita baru. Kawasan yang sebelumnya dikenal lengang dan kurang terkelola itu kini mulai ditempati para pedagang dan disiapkan menjadi ruang kuliner sekaligus tempat berkumpul masyarakat.

Bukan sekadar memindahkan lapak, para pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Kecil dan Mikro (PPKM) Dadaha ingin mengubah pola lama. Jika selama ini pedagang mencari keramaian, kini mereka justru ingin menciptakan keramaian agar masyarakat datang dengan sendirinya.

Gagasan tersebut dikembangkan pengelola dengan konsep Shelter Recreation Center, sebuah kawasan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat berjualan, tetapi juga diarahkan menjadi ruang kuliner dan aktivitas publik.

Shelter Dadaha Tasikmalaya Tak Mau Lagi Sekadar Jadi Tempat Jualan

Ketua Pengelola Shelter Dadaha, Ana Nuryana, melihat persoalan kawasan ini bukan hanya soal ada atau tidaknya pedagang.

Menurut dia, sebuah kawasan perdagangan membutuhkan alasan agar orang mau datang. Karena itu, pengelolaan Shelter Dadaha ke depan akan diarahkan untuk menghadirkan aktivitas yang membuat masyarakat tertarik berkunjung.

Gagasan tersebut menjadi pembeda dari pola sebelumnya. Pedagang tidak ingin hanya menunggu orang yang kebetulan melintas, tetapi berupaya menjadikan shelter sebagai tujuan.

Konsepnya akan dibuat menyerupai kawasan kuliner bernuansa kafe, tetapi tetap mempertahankan karakter utama pedagang kaki lima: harga terjangkau dan menu yang dekat dengan masyarakat.

Kuliner Khas Jadi Senjata Utama

Salah satu kunci yang disiapkan pengelola adalah membangun identitas kuliner.

Menu yang dijual nantinya tidak ingin sekadar mengulang makanan yang mudah ditemukan di tempat lain. Pengelola ingin memilih makanan yang memiliki karakter sehingga orang mempunyai alasan khusus untuk datang ke Shelter Dadaha.

Dengan pola tersebut, pengunjung diharapkan bukan hanya datang karena sedang membutuhkan makanan, tetapi karena ingin mencari menu tertentu.

Konsep ini sekaligus menjadi upaya menciptakan pasar bagi para pedagang yang baru menempati kawasan tersebut.

Sekitar 70 pedagang disebut sudah terdaftar. Sementara lapak yang terisi di kawasan shelter mencapai sekitar 80-an, termasuk pedagang yang sebelumnya sudah menjadi penghuni bawaan UPTD.

Tak Cuma Kuliner, Ada Rencana Hiburan

Untuk membuat kawasan lebih hidup, PPKM Dadaha juga menyiapkan berbagai aktivitas pendukung.

Gagasannya antara lain menghadirkan acara musik, nonton bareng pertandingan sepak bola, karaoke hingga kegiatan yang dapat melibatkan anak-anak.

Dengan demikian, Shelter Dadaha diharapkan tidak hanya ramai pada jam makan. Aktivitas kawasan bisa diperpanjang hingga malam setelah berbagai fasilitas pendukung siap digunakan.

Konsep semacam ini menjadi penting karena tantangan terbesar kawasan tersebut bukan hanya menyediakan tempat berjualan, melainkan mendatangkan pengunjung secara konsisten.

Sejumlah pedagang bahkan sebelumnya menyampaikan rencana membuka aktivitas hingga malam setelah instalasi pendukung selesai.

Masalah Lama Belum Selesai: Fasilitas dan Pengelolaan

Semangat para pedagang menghidupkan Shelter Dadaha tetap menyisakan pekerjaan rumah.

Kondisi fisik sejumlah fasilitas masih membutuhkan pembenahan. Pengelola menyoroti beberapa bagian shelter yang perlu diperbaiki, termasuk talang yang mengalami kebocoran.

Persoalan lainnya adalah bagaimana status pengelolaan kawasan tersebut ke depan.

Para pedagang memang sudah mulai menempati shelter, tetapi sebelumnya sempat muncul persoalan mengenai kepastian legalitas dan bentuk kerja sama pengelola dengan pemerintah. Ketua PPKM Dadaha juga menyebut belum ada nota kesepahaman resmi terkait penggunaan shelter.

Artinya, menghidupkan kawasan bukan hanya soal membuat lapak ramai. Ada urusan tata kelola yang harus dibereskan agar aktivitas ekonomi tersebut memiliki kepastian dan dapat berlangsung dalam jangka panjang.

PKL Ingin Pemerintah Tidak Hanya Menyediakan Tempat

Dalam konsep yang ditawarkan pengelola, pemerintah memiliki peran penting sebagai penyedia fasilitas dan regulator. Sementara aktivitas pengelolaan kawasan membutuhkan pihak yang fokus menghidupkan kegiatan sehari-hari.

Karena itu, pengelola mendorong komunikasi yang lebih terbuka dengan UPTD maupun pemerintah daerah.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemindahan pedagang. Pemerintah, pengelola dan pedagang perlu memiliki pembagian peran yang jelas, termasuk menyangkut kebersihan, ketertiban, fasilitas, promosi hingga pengembangan kawasan.

Pendekatan ini sebenarnya sejalan dengan arah penataan Dadaha yang sejak awal dirancang bukan hanya sebagai kawasan olahraga. Pemerintah Kota Tasikmalaya menyebut Dadaha diarahkan menjadi ruang publik yang dapat menampung aktivitas olahraga, ekonomi, seni budaya, wisata, ruang terbuka hijau dan kegiatan masyarakat.

CSR Dibidik untuk Mengubah Wajah Shelter Dadaha

Persoalan biaya pembenahan juga mulai dipikirkan.

Pengelola berencana menjajaki dukungan perusahaan swasta maupun BUMN melalui program Corporate Social Responsibility atau CSR.

Dana tersebut diharapkan dapat digunakan untuk memperbaiki fasilitas sekaligus memperkuat identitas visual kawasan. Dengan begitu, beban pembiayaan tidak seluruhnya dibebankan kepada pedagang.

Gagasan CSR juga dinilai relevan karena sebagian besar pelaku usaha di shelter merupakan pedagang kecil. Mereka membutuhkan tempat yang layak, tetapi kemampuan investasi mandiri tentu terbatas.

Dadaha Sedang Ditata, Shelter Jangan Sampai Bernasib Sama

Di sinilah tantangan sebenarnya dimulai.

Shelter Dadaha Tasikmalaya memang mulai menunjukkan aktivitas baru. Pedagang sudah masuk, konsep kuliner mulai disusun dan sejumlah kegiatan dirancang untuk menarik pengunjung.

Tetapi kawasan yang hidup tidak cukup hanya dengan seremoni pembukaan.

Keramaian harus dipelihara. Fasilitas harus dirawat. Pedagang harus mendapatkan kepastian. Pengunjung harus merasa nyaman. Pemerintah juga perlu memastikan fungsi ruang publik tetap berjalan tanpa mengorbankan aktivitas ekonomi masyarakat.

Jika semua unsur tersebut bertemu, Shelter Dadaha berpeluang menjadi salah satu simpul ekonomi baru di kawasan Dadaha Kota Tasikmalaya.

Sebaliknya, jika hanya mengandalkan semangat awal tanpa tata kelola yang jelas, bukan tidak mungkin kawasan ini kembali menghadapi persoalan lama: ramai sesaat, kemudian sepi lagi.

Karena itu, mimpi menjadikan Shelter Dadaha sebagai Recreation Center sebenarnya bukan perkara mengisi lapak dengan pedagang. Tantangan terbesarnya adalah membuat orang punya alasan untuk datang, punya alasan untuk kembali, dan pada akhirnya membuat pedagang benar-benar bisa hidup dari keramaian yang tercipta. (Red)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaKDM Siap Gandeng Pakar UI dan ITB Kawal AMDAL Data Center Jatiluhur Berita SelanjutnyaPolemik Ijazah Gibran, DKPP hingga KPU Kini Jadi Sorotan
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza