Lewati ke konten
Selasa, 03 November 2026
Daerah

PAPIGG, Panggung Kecil dan Cerita Besar dari Gang Gurame

Deny HeryantoAgustus 29, 20266 menit baca332 dilihat
PAPIGG, Panggung Kecil dan Cerita Besar dari Gang Gurame
ADS BANNER
728 x 90

Lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA. Malam itu, sebuah gang di tengah Kota Tasikmalaya punya cerita.

Di halaman Bapak H. Saip samping Masjid Baiturrohman, Jalan Veteran, Gang Gurame, Kelurahan Nagarawangi, Kecamatan Cihideung, Jumat (28/8/2026), panggung sederhana berdiri di antara kerumunan warga.

Anak-anak menunggu giliran untuk menari. Ibu-ibu bersiap menyatukan suara dalam paduan suara. Di hadapan mereka, warga duduk berdekatan. Sesekali telepon genggam terangkat, merekam anak, saudara atau tetangga yang malam itu mendapat giliran menjadi bintang.

Tak ada jarak yang benar-benar terasa antara panggung dan penonton.

Sebab mereka yang tampil bukan orang asing. Mereka adalah anak-anak yang setiap hari berlarian di gang yang sama, ibu-ibu yang saling bertegur sapa, dan para pemuda yang sejak jauh hari bekerja di balik layar.

Malam itu, Pemuda Pemudi Gang Gurame (PAPIGG) bersama warga RW 11 sedang merayakan HUT ke-81 Republik Indonesia.

Mereka mungkin tidak memiliki panggung yang megah.

Namun dari panggung kecil itulah, sebuah cerita besar tentang kebersamaan bermula.

PAPIGG dan Tangan-Tangan Muda di Balik Panggung Gang Gurame

Jauh sebelum suara musik terdengar, ada tangan-tangan yang lebih dulu bekerja.

Para pemuda Gang Gurame menyiapkan panggung, menyusun dekorasi, hingga menghias latar pertunjukan dengan mural. Mereka bekerja dengan apa yang tersedia—memanfaatkan bahan-bahan bekas dan cat seadanya.

Di tangan mereka, keterbatasan tidak menjadi penghalang.

Bahan yang mungkin dianggap tak lagi berguna mendapat kehidupan baru. Cat bertemu dengan imajinasi. Sedikit demi sedikit, bidang-bidang kosong berubah menjadi mural dekoratif yang kemudian menjadi latar bagi anak-anak menari dan ibu-ibu bernyanyi.

Tak harus sempurna.

Sebab nilai panggung itu bukan terletak pada mahalnya dekorasi, melainkan pada siapa yang membuatnya dan untuk siapa ia dibuat.

Di situlah PAPIGG tak sekadar menjadi nama organisasi pemuda yang tercetak dalam rangkaian acara. Mereka menjadi tangan-tangan di belakang panggung—menghubungkan gagasan, tenaga, dukungan dan partisipasi warga.

Pesta Rakyat PAPIGG menjadi bagian dari rangkaian HUT RI ke-81 di RW 11 Gang Gurame. Kegiatan sebelumnya diawali dengan jalan sehat pada 17 Agustus 2026.

Setelah pesta rakyat pada Jumat malam, kemeriahan berlanjut Sabtu (29/8/2026) melalui penampilan band lokal dan dangdut elektun. Rangkaian perayaan kemudian dijadwalkan ditutup dengan Tabligh Akbar pada Minggu (30/8/2026).

Berbeda acara, berbeda suasana. Namun semuanya bertemu pada satu tujuan: memberi ruang agar warga kembali berkumpul.

Bagi Helmi Nurjaya, Ketua Pelaksana Pesta Rakyat PAPIGG, keramaian yang terlihat malam itu merupakan ujung dari perjalanan panjang yang dikerjakan banyak orang.

Ada waktu yang diberikan. Ada tenaga yang disisihkan. Ada dukungan yang datang. Ada pula warga yang membantu tanpa banyak bicara.

“Kami sangat bahagia dan bersyukur karena Pesta Rakyat ini bisa terselenggara dengan baik. Ini semua tidak terlepas dari kekompakan Pemuda Pemudi Gang Gurame, dukungan para tokoh masyarakat, para donatur, serta partisipasi seluruh warga,” ujar Helmi.

Bagi Helmi, kemeriahan bukan tujuan akhir.

Di balik musik, pertunjukan dan tepuk tangan, ada sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih penting: membuat warga kembali bertemu.

“Yang paling penting bagi kami bukan hanya kemeriahannya, tetapi bagaimana kegiatan ini bisa menjadi ruang untuk berkumpul, bersilaturahmi dan membangun rasa memiliki terhadap lingkungan,” katanya.

Helmi juga menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang ikut menopang terselenggaranya rangkaian kegiatan, khususnya PD Gurame Tatang Faisal, Biro Jasa Legalitas Usaha DenLegal, serta warga RW 11 Gang Gurame.

“Rasa terima kasih yang tak terhingga kami sampaikan kepada PD Gurame Tatang Faisal, Biro Jasa Legalitas Usaha DenLegal, serta seluruh warga RW 11 Gang Gurame yang telah berpartisipasi. Semoga setiap kebaikan yang kami terima dibalas dengan kebaikan dan keberkahan oleh Allah SWT,” tutur Helmi.

Suatu saat panggung akan dibongkar. Cat pada mural mungkin memudar. Musik pun akan berhenti.

Namun Helmi berharap ada satu hal yang tidak ikut selesai bersama perayaan.

“Mudah-mudahan kekompakan seperti ini bisa terus dipertahankan, bukan hanya ketika memperingati HUT RI,” ujarnya.

HUT RI ke-81, Saat Kreativitas Warga Menemukan Ruangnya

Cerita dari Gang Gurame itu turut mendapat perhatian Plt Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Porabudpar) Kota Tasikmalaya, Agus Fauzi, S.Pt., M.Si.

Dalam wawancara pada agenda terpisah, Agus melihat perayaan HUT RI ke-81 di Gang Gurame bukan semata-mata kegiatan seremonial.

Ada kreativitas yang tumbuh. Ada partisipasi masyarakat. Dan yang terpenting, ada ruang bagi berbagai generasi untuk mengambil peran.

“Kami mengapresiasi kreativitas dan kekompakan masyarakat Gang Gurame dalam memperingati HUT RI ke-81. Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan secara seremonial, tetapi juga melalui kebersamaan dan kreativitas masyarakat,” ujar Agus.

Di panggung itu, peran memang terbagi dengan sendirinya.

Anak-anak mendapat ruang untuk menunjukkan keberanian.

Ibu-ibu membawa suara mereka ke hadapan warga.

Sementara para pemuda bekerja di balik panggung, memastikan semuanya dapat berjalan.

Masing-masing mengambil bagian dari cerita yang sama.

“Ketika masyarakat diberikan ruang untuk tampil dan berkreasi, di situlah kita melihat potensi yang ada di lingkungan. Anak-anak bisa belajar percaya diri, ibu-ibu bisa menunjukkan kreativitasnya, dan para pemuda menjadi penggerak kegiatan. Ini sangat positif,” kata Agus.

Agus pun memberikan apresiasi kepada orang-orang yang bekerja dan memberikan dukungan di balik rangkaian peringatan kemerdekaan tersebut.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada panitia, PAPIGG, warga RW 11 Gang Gurame, Kelurahan Nagarawangi, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya rangkaian kegiatan HUT RI ke-81 di RW 11 Gang Gurame,” ujarnya.

Namun pesta rakyat selalu memiliki batas waktu.

Ketika Agustus berlalu, warga akan kembali pada pekerjaan dan kesibukan masing-masing. Justru di sanalah, menurut Agus, semangat yang lahir selama perayaan perlu dijaga.

“Saya berharap kegiatan seperti ini terus dipelihara. Bukan hanya meriah saat peringatan kemerdekaan, tetapi semangat gotong royong, kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan juga tetap berjalan setelah acara selesai,” katanya.

Sebab kemerdekaan barangkali memang paling berarti ketika semangatnya tidak berhenti pada perayaan.

Pesta Rakyat PAPIGG, Cerita Besar yang Tertinggal Setelah Panggung Sepi

Malam semakin larut.

Anak-anak telah menyelesaikan tariannya. Suara ibu-ibu sempat memenuhi halaman. Tepuk tangan datang dan pergi. Telepon genggam menyimpan potongan-potongan peristiwa yang suatu hari mungkin akan kembali dibuka sebagai kenangan.

Di belakang semuanya, mural buatan para pemuda masih berdiri.

Panggung itu sederhana.

Namun tidak dengan cerita di baliknya.

Ada orang yang menyumbangkan tenaga. Ada yang memberikan waktu. Ada yang membawa gagasan. Ada yang membantu melalui dukungan. Ada pula warga yang cukup datang, duduk bersama tetangganya dan memberikan tepuk tangan.

Barangkali begitulah sebuah kampung menjaga dirinya tetap hidup.

Bukan hanya dengan rumah-rumah yang berdiri berdampingan, tetapi dengan orang-orang yang masih merasa perlu untuk saling mengenal dan melakukan sesuatu bersama.

Dari jalan sehat pada 17 Agustus, Pesta Rakyat PAPIGG pada 28 Agustus, panggung hiburan pada 29 Agustus hingga Tabligh Akbar pada 30 Agustus, warga Gang Gurame merayakan kemerdekaan dengan bahasa mereka sendiri.

Bahasa itu tidak selalu berupa pidato.

Kadang ia terdengar dari suara ibu-ibu yang bernyanyi.

Terlihat dari langkah kecil seorang anak yang menari di hadapan keluarganya.

Tertinggal dalam sapuan cat pada mural yang dibuat dari bahan sederhana.

Hadir dalam keringat pemuda yang masih bekerja ketika orang lain menikmati pertunjukan.

Dan terasa ketika orang-orang yang sehari-hari mungkin hanya sempat berpapasan di sebuah gang, malam itu memilih berhenti, duduk berdampingan, tertawa dan bertepuk tangan bersama.

Kelak panggung itu akan kembali sepi.

Musik akan berhenti. Dekorasi akan diturunkan. Warga kembali menjalani rutinitas.

Namun sebuah pesta rakyat tak pernah benar-benar diukur dari berapa lama lampu panggung menyala.

Ia diukur dari apa yang masih tinggal ketika lampu itu telah padam.

Di Gang Gurame, melalui PAPIGG, yang ingin ditinggalkan bukan sekadar kenangan tentang perayaan HUT RI ke-81.

Melainkan rasa memiliki.

Gotong royong.

Dan kebersamaan.

Sebab dari panggung kecil di Gang Gurame itu, lahir cerita besar tentang orang-orang yang merayakan kemerdekaan dengan cara paling sederhana: mengerjakannya bersama-sama. (DH)

ADS BANNER
728 x 90

Deny Heryanto

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaSiswa Naik Rakit ke Sekolah, KDM Langsung Turunkan Tim ke Saguling Berita Selanjutnya220 Becak Listrik Tiba, Mang Becak Lansia Tasikmalaya Jadi Prioritas
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza