lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Delapan aparatur sipil negara (ASN) dari Pemerintah Kota Tasikmalaya masuk dalam daftar perwakilan daerah untuk mengikuti Seleksi ASN Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026.
Delapan nama tersebut berasal dari sejumlah perangkat daerah dan unit pelayanan, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Tenaga Kerja, rumah sakit, puskesmas, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, hingga sekolah dasar.
Namun, ada satu kata yang perlu digarisbawahi dari poster yang beredar: “kandidat”.
Artinya, delapan ASN tersebut belum menjadi pemenang. Mereka baru menjadi perwakilan atau kandidat Kota Tasikmalaya yang akan bersaing dalam seleksi tingkat Jawa Barat.
Jadi, belum waktunya pasang mahkota.
Bukan Cuma Pejabat, Ada Puskesmas hingga Sekolah Dasar
Delapan kandidat tersebut terbagi dalam empat kategori.
Dua orang masuk kategori Kandidat Pimpinan Tinggi Terbaik, yakni dr. Asep Hendra Hendriana, HM dari Dinas Kesehatan dan Drs. H. Deni Diyana, M.Si dari Dinas Tenaga Kerja.
Kemudian kategori Kandidat Administrator Terbaik diisi Dr. dr. RR Titie Purwaningsari, MHRS dari UPTD Khusus RSUD dr. Soekardjo dan Suryaningsih, S.Sos, MH, M.K.M dari Dinas Kesehatan.
Sementara kategori Best Employee diwakili Rizki Maulana, A.Md dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Feni Yulta, AMG dari UPTD Puskesmas Kawalu.
Adapun dua nama lainnya masuk kategori PPPK Terbaik, yakni Asep Zuhairi Saputra, S.Pd dari SDN 2 Tanjung dan Lilis Saodah, S.Kep., Ners dari UPTD Puskesmas Sukalaksana.
Komposisinya cukup menarik: dua kandidat pimpinan tinggi, dua administrator, dua best employee, dan dua PPPK.
Dengan kata lain, yang dibawa Tasikmalaya ke arena provinsi bukan hanya mereka yang duduk di kursi struktural. Ada pula ASN yang sehari-hari bekerja di pelayanan kesehatan, administrasi kependudukan hingga sekolah.
Statusnya Masih Kandidat, Bukan Juara
Bagian ini penting supaya publik tidak salah menangkap informasi.
Keberadaan delapan nama tersebut dalam poster resmi Pemerintah Kota Tasikmalaya tidak otomatis berarti mereka telah dinobatkan sebagai ASN terbaik Jawa Barat.
Mereka masih harus mengikuti proses seleksi.
Dalam sosialisasi Seleksi ASN Berprestasi Jawa Barat 2026, proses disebut dilakukan secara berjenjang. Untuk kandidat dari kabupaten/kota, pemerintah daerah dapat merekomendasikan kandidat sesuai mekanisme yang ditetapkan penyelenggara.
Tahap berikutnya mencakup pemeriksaan administrasi dan portofolio. Penilaian terhadap dokumen dan portofolio menjadi bagian dari proses sebelum kandidat ditentukan untuk melaju ke tahap berikutnya.
Jadi, kalau memakai bahasa pertandingan, delapan nama tersebut baru masuk daftar pemain yang dibawa ke babak berikutnya. Peluit akhir belum berbunyi.
Yang Dicari Bukan Sekadar ASN yang Rajin Masuk Kantor
Seleksi ASN Berprestasi Jawa Barat 2026 juga tidak dirancang sekadar untuk mencari siapa yang paling lama duduk di belakang meja.
Dalam mekanisme penilaian ASN berprestasi, aspek seperti kompetensi, kinerja, potensi dan integritas menjadi bagian penting. Inovasi, kontribusi serta dampak nyata terhadap masyarakat juga menjadi hal yang menarik untuk dilihat dari rekam jejak masing-masing kandidat.
Ini membuat label “berprestasi” menjadi menarik untuk diuji.
Sebab ASN yang terlihat sibuk belum tentu menghasilkan perubahan. Sebaliknya, pekerjaan yang tidak banyak muncul di media bisa saja justru memberikan dampak besar bagi masyarakat.
Di titik inilah portofolio dan rekam jejak menjadi penting.
Bukan soal siapa yang paling sering difoto saat menerima penghargaan, tetapi apa yang memang pernah dikerjakan dan seberapa besar manfaatnya.
Delapan Nama, Delapan Rekam Jejak yang Akan Diuji
Bagi Kota Tasikmalaya, keberadaan delapan kandidat tentu menjadi kesempatan untuk menunjukkan kualitas aparatur daerah di tingkat Jawa Barat.
Tetapi bagi publik, justru ada pertanyaan yang lebih menarik.
Apa inovasi yang pernah dibuat masing-masing kandidat? Apa persoalan publik yang pernah mereka selesaikan? Berapa banyak masyarakat yang merasakan dampaknya? Dan apakah prestasi tersebut benar-benar lahir dari kerja kandidat yang bersangkutan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui siapa saja yang masuk poster.
Sebab pada akhirnya, seleksi ASN berprestasi bukan kontes foto profil dengan latar belakang resmi dan bingkai emas.
Yang Diuji Adalah Rekam Kerja.
Penghargaan ASN berprestasi pada dasarnya diarahkan untuk mendorong budaya organisasi yang memberi ruang bagi ASN berkembang berdasarkan prestasi dan kompetensi.
Karena itu, delapan ASN Tasikmalaya tersebut kini punya pekerjaan rumah yang sama: membuktikan bahwa label kandidat memang ditopang prestasi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Dan bagi publik, menarik untuk menunggu siapa yang akhirnya mampu mengubah status “kandidat” menjadi “terbaik”. (red)

