Lewati ke konten
Selasa, 03 November 2026
Daerah

KDM Targetkan Kebakaran Gunung Ciremai Padam Total, Hujan Buatan Disiapkan

Redaktur Lintas JabarOktober 24, 20263 menit baca120 dilihat
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA KUNINGAN – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menargetkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Ciremai segera padam total. Untuk mempercepat penanganan, pemerintah mengandalkan pemadaman manual oleh petugas dan warga, penyiraman air melalui helikopter atau water bombing, serta menyiapkan langkah modifikasi cuaca agar hujan turun di sekitar kawasan terdampak.

Upaya tersebut dilakukan setelah kebakaran yang mulai terdeteksi pada Rabu malam, 21 Oktober 2026, terus ditangani oleh tim gabungan. Medan terjal, angin kencang, dan keterbatasan sumber air di sejumlah lokasi menjadi tantangan dalam menjangkau titik api.

Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Dedi menargetkan penanganan kebakaran dapat dituntaskan. Namun, target tersebut masih harus dibuktikan dengan kondisi lapangan, termasuk memastikan tidak ada lagi titik api maupun bara yang berpotensi memicu kebakaran susulan.

Water Bombing Dioptimalkan untuk Menjangkau Titik Api

Pemadaman dari udara menjadi salah satu strategi utama karena sebagian lokasi kebakaran sulit dijangkau melalui jalur darat. Helikopter digunakan untuk menjatuhkan air ke titik-titik api yang dinilai membutuhkan penanganan segera.

Sementara itu, petugas di darat bersama warga dan relawan melakukan pemadaman manual serta membuat sekat bakar. Langkah ini bertujuan membatasi pergerakan api agar tidak merambat ke vegetasi lain yang masih kering.

Dedi juga menyatakan akan memantau pelaksanaan pemadaman dari udara agar penyiraman dapat diarahkan ke lokasi prioritas.

Meski sejumlah titik api dilaporkan berhasil ditangani, proses pemadaman belum bisa dianggap selesai hanya berdasarkan berkurangnya kobaran yang terlihat. Bara di bawah serasah, semak, atau material kering masih berpotensi menyala kembali ketika tertiup angin.

Karena itu, pendinginan dan pemeriksaan ulang pada area yang telah dipadamkan menjadi bagian penting sebelum penanganan dinyatakan tuntas.

Hujan Buatan Disiapkan sebagai Upaya Tambahan

Selain mengandalkan pemadaman manual dan helikopter, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan koordinasi untuk mengupayakan modifikasi cuaca atau hujan buatan bersama pihak terkait.

Langkah ini diharapkan membantu meningkatkan kelembapan kawasan dan mengurangi kondisi kering yang membuat api mudah menyebar. Namun, pelaksanaan modifikasi cuaca tetap bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan dukungan teknis, serta hasil kajian instansi yang berwenang.

Dengan demikian, hujan buatan masih harus dipahami sebagai upaya yang disiapkan, bukan sebagai tindakan yang sudah dipastikan terlaksana atau langsung berhasil memadamkan kebakaran.

Apabila kondisi cuaca mendukung dan hujan benar-benar turun di lokasi yang membutuhkan, air hujan dapat membantu proses pemadaman serta mengurangi risiko bara kembali menyala. Meski demikian, petugas tetap perlu memastikan kondisi lapangan secara langsung.

Jumlah Titik Api dan Luas Kebakaran Perlu Dipastikan

Perkembangan jumlah titik api menjadi salah satu indikator penting untuk menilai keberhasilan penanganan kebakaran Gunung Ciremai. Angka yang beredar dalam laporan pada 24 Oktober menunjukkan perbedaan, sehingga kondisi terbaru perlu dipastikan melalui pemantauan lapangan dan pemetaan petugas.

Selain jumlah titik api, luas kawasan terdampak juga harus ditetapkan melalui pengukuran yang dapat dipertanggungjawabkan. Data tersebut penting untuk menentukan kebutuhan personel, peralatan, serta langkah pemulihan setelah api berhasil dikendalikan.

Di tengah upaya mengejar target pemadaman, keselamatan petugas dan warga yang membantu di lapangan juga perlu menjadi perhatian. Medan yang terjal dan perubahan arah angin dapat meningkatkan risiko selama proses penanganan berlangsung.

Pemadaman Tuntas Harus Diikuti Pencegahan Kebakaran Susulan

Keberhasilan penanganan kebakaran tidak hanya diukur dari hilangnya kobaran api, tetapi juga dari kemampuan memastikan tidak ada bara tersisa yang dapat memicu kebakaran kembali.

Setelah api terkendali, pemantauan pada area terdampak perlu dilanjutkan, terutama di lokasi dengan vegetasi kering dan medan yang sulit dijangkau. Penelusuran penyebab kebakaran juga penting agar langkah pencegahan dapat dilakukan secara tepat.

Kebakaran di kawasan Gunung Ciremai menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas pihak, kesiapan sarana pemadaman, serta keterlibatan masyarakat. Target padam total yang ditetapkan pemerintah kini perlu diikuti verifikasi kondisi lapangan agar kawasan hutan benar-benar aman dari ancaman api susulan. (Red)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaPolres Tasikmalaya Edukasi Pelajar soal Safety Riding, Dua Siswa Dapat SIM Berita SelanjutnyaEl Clasico Memanas! Yamal Unggul atas Mbappe, Legenda Madrid Prediksi Menang 3-1
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza