Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Editorial » THR Tasikmalaya: Ketika Tanggung Jawab Institusional Jadi Beban Personal

THR Tasikmalaya: Ketika Tanggung Jawab Institusional Jadi Beban Personal

  • account_circle Redaktur Lintas Jabar
  • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
  • visibility 28
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

LintasJabar.IdEDITORIAL – Polemik THR Tasikmalaya tahun ini memperlihatkan ironi yang sulit diabaikan. Di saat kebutuhan hidup meningkat tajam menjelang Lebaran—mulai dari kebutuhan pangan, sandang, hingga kewajiban sosial—aparatur sipil negara (ASN) justru tidak mendapatkan dukungan penuh dari institusi tempat mereka mengabdi. Dalam konteks kegagalan membayar THR di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya, yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara, perlahan berubah menjadi beban yang harus ditanggung secara personal.

Dalam logika kebijakan publik, THR bukan sekadar tambahan penghasilan. Ia dirancang sebagai instrumen penyangga ekonomi bagi aparatur menjelang momentum hari raya. Negara memahami bahwa Lebaran bukan hanya peristiwa spiritual, tetapi juga peristiwa sosial-ekonomi yang menuntut kesiapan finansial. Karena itu, kehadiran THR seharusnya menjadi bentuk nyata kehadiran institusi dalam menopang kebutuhan pegawainya.

Namun yang terjadi di Tasikmalaya justru sebaliknya. Ketika THR PNS di Kota Tasikmalaya tidak dibayarkan secara utuh dan tepat waktu, ASN dipaksa menghadapi realitas yang berbeda: mereka harus mengatur sendiri kekurangan, menyesuaikan pengeluaran, bahkan mungkin menunda rencana yang sudah disusun jauh hari. Dalam situasi ini, negara tidak lagi hadir sebagai penyangga, melainkan seolah mundur, meninggalkan individu untuk menyelesaikan persoalannya masing-masing.

Kondisi ini menjadi semakin problematis jika melihat fakta bahwa sebagian ASN hanya menerima THR dalam jumlah yang sangat terbatas. Dengan skema pencairan yang tidak penuh, terutama dari komponen TPP, banyak pegawai—khususnya di level staf—berpotensi hanya menerima nominal yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Lebaran. Artinya, beban ekonomi yang seharusnya dibagi oleh institusi melalui THR Tasikmalaya, justru jatuh sepenuhnya ke pundak individu.

Di titik ini, persoalan tidak lagi semata-mata tentang keterlambatan pembayaran, melainkan tentang pergeseran tanggung jawab dalam pengelolaan THR. Yang semestinya menjadi kewajiban institusional berubah menjadi urusan personal. ASN tidak lagi dilindungi oleh sistem, melainkan harus bertahan dengan kemampuan masing-masing di tengah polemik THR Tasikmalaya.

Lebih jauh, situasi pasca gagalnya pembayaran THR ASN di Kota Tasikmalaya ini juga mengungkap kelemahan dalam tata kelola pemerintahan daerah. Kebutuhan Lebaran adalah siklus tahunan yang sepenuhnya bisa diprediksi. Tidak ada unsur kejutan di dalamnya. Oleh karena itu, kegagalan dalam mengantisipasi kewajiban seperti THR di Kota Tasikmalaya menunjukkan adanya persoalan dalam perencanaan dan pengelolaan anggaran. Ketika perencanaan tidak mampu menjawab kebutuhan rutin, maka yang terjadi adalah tekanan yang dialihkan ke level paling bawah: individu ASN.

Di sisi lain, dampak psikologis dari persoalan gagal bayar THR ASN Tasikmalaya ini tidak bisa dianggap remeh. ASN yang seharusnya fokus pada pelayanan publik, justru dihadapkan pada kekhawatiran pribadi terkait kebutuhan keluarga. Dalam jangka pendek, ini mungkin terlihat sebagai persoalan individual. Namun dalam jangka panjang, kondisi akibat isu THR Tasikmalaya ini berpotensi memengaruhi motivasi kerja, loyalitas, bahkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Kasus gagal bayar THR ASN di Kota Tasikmalaya pada akhirnya menjadi pengingat penting bahwa negara—dalam hal ini pemerintah daerah—tidak boleh absen dalam momentum krusial seperti Lebaran. Kehadiran institusi bukan hanya diukur dari kebijakan yang dibuat, tetapi dari sejauh mana kebijakan tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh aparatur di lapangan.

Karena ketika institusi gagal hadir di saat yang paling dibutuhkan, maka yang tersisa hanyalah individu-individu yang berjuang sendiri menghadapi persoalan THR Tasikmalaya. Dan di situlah, tanggung jawab negara berubah menjadi beban personal—sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi dalam sebuah sistem pemerintahan yang sehat.

  • Penulis: Redaktur Lintas Jabar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kejuaraan Taekwondo Nasional Tasik Open 9 Resmi Digelar

    Kejuaraan Taekwondo Nasional Tasik Open 9 Resmi Digelar

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Deny Heryanto
    • visibility 22
    • 0Komentar

    lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Kejuaraan Tasik Open 9 resmi bergulir di GOR Sukapura, Kota Tasikmalaya. Ajang bergengsi tingkat nasional untuk nomor Kyorugi dan Poomsae ini berlangsung selama tiga hari, mulai 1 hingga 3 Mei 2026. Antusiasme peserta begitu tinggi. Sebanyak 1.250 atlet dari berbagai daerah di Indonesia ambil bagian dalam kejuaraan yang semakin mengukuhkan Tasikmalaya […]

  • Menguji Logika Penggabungan Kominfo di Era Digital

    Menguji Logika Penggabungan Kominfo di Era Digital

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Redaktur Lintas Jabar
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Lintasjabar.Id, OPINI – Kebijakan penggabungan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan Dinas Perhubungan (Dishub) di Kabupaten Tasikmalaya kembali memantik diskursus publik. Di tengah tuntutan digitalisasi yang kian kompleks, langkah ini tidak hanya menyisakan tanda tanya, tetapi juga menguji logika kebijakan pemerintah daerah dalam membaca arah zaman. Dalam konteks Peran Kominfo dalam Pemerintah Daerah, keputusan ini […]

  • RSUD KHZ Musthafa Tetap Layani Pasien Selama Idul Fitri

    RSUD KHZ Musthafa Tetap Layani Pasien Selama Idul Fitri

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Redaktur Lintas Jabar
    • visibility 9
    • 0Komentar

    LintasJabar.Id, BERITA TASIKMALAYA — Di saat sebagian layanan kesehatan membatasi operasional selama libur panjang Lebaran, RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya justru memastikan pelayanan selama Idul Fitri tetap berjalan bagi masyarakat. Rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya tersebut menyiapkan berbagai langkah antisipatif, mulai dari membuka poli rawat jalan khusus, hingga menyiagakan tim medis tambahan untuk mengantisipasi […]

  • Polres Garut Kawal Pelepasan Jemaah Haji 2026

    Polres Garut Kawal Pelepasan Jemaah Haji 2026

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Deny Heryanto
    • visibility 20
    • 0Komentar

    lintasjabar.id, BERITA GARUT — Suasana haru dan penuh doa menyelimuti Gedung Pamengkang Pendopo Garut saat ratusan calon jemaah haji Kloter 22 Gelombang II Tahun 1447 H/2026 M resmi dilepas menuju Tanah Suci, Kamis (7/5/2026). Di tengah momen sakral tersebut, jajaran Polres Garut turut memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan lancar. Kapolres Garut, Yugi […]

  • Kerusakan Jalan Kabupaten Tasikmalaya Picu Sorotan Publik

    Kerusakan Jalan Kabupaten Tasikmalaya Picu Sorotan Publik

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Redaktur Lintas Jabar
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Kerusakan Jalan Kabupaten Tasikmalaya Akibat Truk Overload LintasJabar.Id, BERITA DAERAH – Kerusakan Jalan Kabupaten Tasikmalaya kembali menjadi sorotan setelah kondisi ruas jalan di Desa Tawangbanteng, Kecamatan Sukaratu, dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah. Jalan yang berfungsi sebagai jalur utama konektivitas masyarakat tersebut kini dipenuhi lubang dan kerusakan struktural yang semakin meluas. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kerusakan […]

  • Bappelitbangda Kota Tasikmalaya

    Proyek Swakelola di Bappelitbangda Kota Tasikmalaya

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Redaktur Lintas Jabar
    • visibility 15
    • 0Komentar

    LintasJabar.Id, EDITORIAL —Di tengah kondisi fiskal daerah yang semakin ketat, setiap rupiah anggaran publik seharusnya dikelola dengan prinsip efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas. Karena itu, ketika muncul paket pengadaan bernilai ratusan juta rupiah yang menggunakan mekanisme swakelola di lingkungan Bappelitbangda Kota Tasikmalaya, wajar jika publik bertanya: apakah metode ini memang tepat digunakan? Pertanyaan tersebut bukan sekadar asumsi. Ia […]

expand_less