Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Normalisasi Sungai Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan

Normalisasi Sungai Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan

  • account_circle Redaktur Lintas Jabar
  • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
  • visibility 119
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

LintasJabar.Id, OPINI – Pendangkalan sungai bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan persoalan nyata yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Di berbagai daerah di Indonesia, fenomena ini terus berulang, termasuk pada sejumlah sungai di wilayah Kendal, yang mengalami penurunan kapasitas aliran akibat akumulasi sedimen yang tidak terkendali.

Dalam konteks ini, normalisasi sungai seharusnya tidak lagi dipandang sebagai proyek sesaat, melainkan sebagai kebutuhan mendesak yang harus ditangani secara sistematis dan berkelanjutan.

Pendangkalan Sungai: Masalah yang Terus Diulang

Kasus di Kendal menjadi gambaran nyata bagaimana sedimentasi yang tidak tertangani dapat menyebabkan pendangkalan sungai secara masif. Material pasir, lumpur, dan kerikil yang terbawa dari hulu terus mengendap di bagian hilir, mempersempit alur sungai dan mengurangi kapasitas tampung air.

Akibatnya sudah bisa ditebak: saat musim hujan datang, air meluap dan menggenangi permukiman warga.

Fenomena ini sejatinya mungkin juga bisa terjadi di banyak sungai lain di Indonesia, termasuk pada sistem Sungai Ciwulan di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Bedanya, apakah kita memilih belajar dari kasus yang ada, atau justru menunggu masalah yang sama terjadi?

Normalisasi Sungai: Solusi, Bukan Ancaman

Sayangnya, di lapangan sering muncul pendekatan yang keliru. Aktivitas pengerukan pasir sungai kerap dipandang semata sebagai pelanggaran, tanpa melihat konteks yang lebih besar.
Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks.
Yang dibutuhkan bukan sekadar larangan, tetapi pengelolaan.

Di hilir, pengerukan pasir sungai perlu dilakukan secara terukur, terencana, dan diawasi, sebagai bagian dari normalisasi sungai, bukan sekadar direcoki lalu dilarang.

Penguatan tebing, pengendalian sedimentasi, dan sistem mitigasi banjir harus menjadi bagian dari solusi jangka pendek.
Namun itu saja tidak cukup.

Hulu yang Terlupakan

Perbaikan sungai tidak bisa hanya dilakukan di hilir. Masalah utama justru sering berasal dari wilayah hulu yang mengalami tekanan lingkungan cukup berat.

Alih fungsi lahan, pembukaan kawasan tanpa konservasi, hingga minimnya vegetasi penahan erosi menjadi penyebab utama meningkatnya suplai sedimen ke sungai.

Perbaikan harus dimulai dari hulu

Reboisasi, pengendalian alih fungsi lahan, dan pengelolaan daerah aliran sungai secara terpadu adalah langkah mendasar yang tidak bisa ditunda. Tanpa itu, pengerukan pasir sungai hanya akan menjadi solusi sementara yang terus diulang.

Abai terhadap masalah di hulu, pada faktanya hanya melahirkan pahlawan-pahlawan kesiangan.

Sungai Adalah Sistem, Bukan Titik

Sungai bukan sekadar aliran air yang berdiri sendiri. Ia adalah sistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.
Sungai tidak bisa diselamatkan dari satu titik saja. Ia adalah sistem yang saling terhubung, dari hulu hingga hilir.

Dan di tengah semua itu, warga tidak seharusnya dibiarkan memilih antara melanggar aturan atau menghadapi banjir.

Ketika mereka melakukan pengerukan pasir sungai, itu bukan sekadar pelanggaran. Itu adalah tanda bahwa solusi belum benar-benar hadir.

Antara Larangan dan Kenyataan

Jika pendangkalan dibiarkan dan pengerukan pasir sungai hanya dilarang, maka yang tersisa hanyalah satu kepastian: sungai akan tetap dangkal, dan risiko akan terus mengalir ke permukiman.

Memangnya sungai bakal jadi kembali normal cuma karena gara-gara anggota legislatif teriak-teriak di koran?

Pertanyaan ini mungkin terdengar satir, tetapi mencerminkan realitas di lapangan. Tanpa kebijakan yang berbasis pada data dan pengelolaan yang terintegrasi, persoalan pendangkalan sungai hanya akan menjadi siklus yang terus berulang.

Saatnya Berpikir Terintegrasi

Pendekatan normalisasi sungai harus diarahkan pada keseimbangan antara aspek lingkungan, teknis, dan ekonomi.

Pengelolaan sedimen secara legal dan terkendali bukan hanya membantu mengurangi pendangkalan, tetapi juga membuka potensi ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan daerah.

Belajar dari kasus di Kendal, sudah saatnya kita berhenti melihat sungai sebagai masalah, dan mulai melihatnya sebagai sistem yang harus dikelola secara cerdas.

Karena pada akhirnya, sungai yang terawat bukan hanya mengalirkan air, tetapi juga mengalirkan keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya. (red)

  • Penulis: Redaktur Lintas Jabar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Forum Nyemah Atikan Priangan Timur: Konten Lokal Belum Jadi Arus Utama 

    Forum Nyemah Atikan Priangan Timur: Konten Lokal Belum Jadi Arus Utama 

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Redaktur Lintas Jabar
    • visibility 50
    • 0Komentar

    LintasJabar.Id, BERITA TASIKMALAYA — Kondisi dunia penyiaran di wilayah Priangan Timur kembali menjadi sorotan. Dalam Forum Nyemah Atikan Priangan Timur, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Barat, Dr. Adiyana Slamet, S.IP., M.Si., menegaskan bahwa konten lokal hingga saat ini belum sepenuhnya menjadi pilihan utama masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan yang berlangsung di […]

  • Peran Penting Media Lokal, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Soroti Fungsi Strategis Pers Daerah

    Peran Penting Media Lokal, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Soroti Fungsi Strategis Pers Daerah

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Redaktur Lintas Jabar
    • visibility 33
    • 0Komentar

    LintasJabar.Id BERITA TASIKMALAYA — Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara, menegaskan bahwa peran penting media lokal tidak dapat dipandang sebelah mata dalam mendorong pembangunan daerah. Hal tersebut disampaikannya dalam forum penyiaran di Tasikmalaya, Selasa (21/4/2026), yang menjadi momentum refleksi atas posisi strategis pers daerah di tengah dinamika informasi saat ini. Dalam keterangannya, Diky mengaku […]

  • Pembongkaran Tenda Aksi KRPL di Bale Kota Tasikmalaya: Antara Ketertiban dan Kebebasan Berpendapat

    Pembongkaran Tenda Aksi KRPL di Bale Kota Tasikmalaya: Antara Ketertiban dan Kebebasan Berpendapat

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Redaktur Lintas Jabar
    • visibility 34
    • 0Komentar

    LintasJabar.Id, BERITA TASIKMALAYA — Pembongkaran Tenda Aksi KRPL (Komunitas Rakyat Peduli Lingkungan) di depan Bale Kota Tasikmalaya dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kota Tasikmalaya. Aksi yang telah berlangsung hampir dua bulan itu akhirnya dihentikan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Tasikmalaya pada Senin sore (20/4/2026), dengan alasan penegakan ketertiban umum dan menjaga […]

  • Silaturahmi dan Audiensi Komunitas SWAKKA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektoral di Kota Tasikmalaya

    Silaturahmi dan Audiensi Komunitas SWAKKA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektoral di Kota Tasikmalaya

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Redaktur Lintas Jabar
    • visibility 71
    • 0Komentar

    LintasJabar.Id, BERITA TASIKMALAYA – Pasca deklarasi Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif (SWAKKA) pada 12 Februari 2026 di Kota Tasikmalaya, komunitas ini mulai mengimplementasikan program kerja awal yang berfokus pada penguatan kemitraan lintas sektoral. Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan silaturahmi dan audiensi komunitas SWAKKA dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Tasikmalaya, sebagai upaya membangun […]

  • Musda XVI KNPI Molor, Sorotan Disiplin dan Profesionalisme Pemuda

    Musda XVI KNPI Molor, Sorotan Disiplin dan Profesionalisme Pemuda

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Deny Heryanto
    • visibility 28
    • 0Komentar

    LintasJabar.Id, BERITA TASIKMALAYA – Pelaksanaan Musda XVI KNPI di Kabupaten Tasikmalaya menuai sorotan setelah agenda pembukaan mengalami keterlambatan lebih dari satu jam dari jadwal yang telah ditetapkan. Kegiatan yang semestinya dimulai pukul 09.00 WIB baru resmi dibuka sekitar pukul 10.39 WIB, memicu kritik dari sejumlah peserta yang hadir. Keterlambatan ini menjadi catatan tersendiri dalam forum […]

  • Kabupaten Tasikmalaya: Polisi Sisihkan Gaji untuk Santri, Wujud Kepedulian Nyata

    Kabupaten Tasikmalaya: Polisi Sisihkan Gaji untuk Santri, Wujud Kepedulian Nyata

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Deny Heryanto
    • visibility 50
    • 0Komentar

    LintasJabar.Id, BERITA TASIKMALAYA – Sosok anggota kepolisian yang dekat dengan masyarakat kembali hadir di Kabupaten Tasikmalaya. Kali ini, perhatian publik tertuju kepada Bhabinkamtibmas Desa Cikeusal, Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Aipda Arif Rachman. Melalui aksi nyata, ia menunjukkan bahwa tugas seorang polisi tidak hanya sebatas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga hadir membawa manfaat bagi […]

expand_less