Lewati ke konten
Selasa, 03 November 2026
Nasional

Lava Fountain Anak Krakatau Bikin Langit Memerah, Sebenarnya Fenomena Apa?

Redaktur Lintas JabarSeptember 5, 20264 menit baca163 dilihat
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA NASIONAL – Sunda kembali dibuat geger oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 4–5 September 2026, gunung api yang berada di perairan Lampung Selatan itu mengalami erupsi menerus dan memunculkan semburan merah menyala yang dikenal sebagai lava fountain.

Fenomena tersebut menjadi salah satu bagian paling mencolok dari erupsi kali ini. Bukan sekadar cahaya merah di tengah gelapnya malam, lava fountain merupakan fenomena ketika lava pijar keluar dari kawah dalam bentuk pancaran seperti air mancur.

Badan Geologi menyebut aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau kali ini menyerupai lava fountain dan menghasilkan aliran lava. Fenomena tersebut dapat berlangsung selama beberapa jam dan merupakan salah satu bentuk aktivitas erupsi yang umum terjadi pada kondisi tertentu.

Lantas, sebenarnya apa itu lava fountain?

Lava fountain bukan air mancur biasa

Istilah lava fountain secara sederhana berarti “air mancur lava”. Bedanya, yang dipancarkan bukan air, melainkan material batuan cair bersuhu sangat tinggi dari dalam gunung api.

Ketika magma bergerak naik menuju permukaan, kandungan gas di dalam magma dapat mengalami pelepasan tekanan. Pada kondisi tertentu, proses tersebut mendorong material lava keluar melalui lubang kawah dalam bentuk pancaran.

Karena material yang keluar berada dalam kondisi sangat panas, pancarannya dapat terlihat merah menyala, terutama ketika terjadi pada malam hari.

Fenomena inilah yang membuat erupsi Anak Krakatau pada Jumat malam terlihat begitu mencolok.

Secara umum, lava fountain banyak berkaitan dengan magma basaltik yang relatif lebih cair. Kondisi tersebut memungkinkan lava bergerak dan keluar dari saluran vulkanik dengan lebih mudah dibandingkan magma yang jauh lebih kental.

Jadi, ketika melihat pancaran merah seperti air mancur dari gunung api, yang sedang terjadi bukanlah gunung “menyemburkan api” secara sederhana. Ada proses pergerakan magma, pelepasan gas, tekanan, dan keluarnya material vulkanik yang berlangsung secara bersamaan.

Erupsi Anak Krakatau disertai dentuman

Erupsi kali ini juga bukan hanya soal pemandangan merah di langit.

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau disertai suara dentuman dan gemuruh yang cukup kuat. Laporan pengamatan periode 00.00–06.00 WIB pada Sabtu, 5 September 2026, mencatat satu kali gempa letusan dengan amplitudo maksimum 70 milimeter.

Suara dentuman dan gemuruh bahkan terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Di sejumlah wilayah sekitar, getaran juga dilaporkan terasa hingga membuat pintu dan jendela rumah bergetar.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa erupsi Anak Krakatau kali ini bukan aktivitas kecil yang hanya terlihat secara visual. Ada energi vulkanik yang cukup kuat sehingga menghasilkan suara dan getaran yang dapat dirasakan dari kejauhan.

Anak Krakatau masih berstatus siaga

Di tengah ramainya perhatian masyarakat terhadap fenomena lava fountain, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah status gunung tersebut.

Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut sudah ditetapkan Badan Geologi sejak 2 Juli 2026 setelah terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.

Pada Level III, masyarakat, wisatawan maupun pendaki tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Rekomendasi tersebut bukan tanpa alasan. Badan Geologi masih memperhitungkan potensi bahaya berupa lontaran material pijar, lava, awan panas, maupun hujan abu.

Artinya, semakin menarik fenomena yang terlihat dari jauh, bukan berarti semakin aman untuk didekati.

Justru sebaliknya.

Erupsi dengan lava fountain merupakan pengingat bahwa gunung api sedang menunjukkan aktivitas nyata. Melihat dari jarak aman tentu berbeda dengan nekat mendekati kawah demi mendapatkan video yang dianggap spektakuler.

Jangan buru-buru percaya isu tsunami

Aktivitas Anak Krakatau juga berpotensi memunculkan kepanikan, terutama karena sejarah letusan kawasan Krakatau yang sangat kuat dalam ingatan masyarakat Indonesia.

Namun, masyarakat diminta tidak membuat kesimpulan sendiri hanya berdasarkan suara dentuman, cahaya merah, maupun video yang beredar di media sosial.

Badan Geologi sebelumnya menegaskan masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung agar tetap tenang dan mengikuti informasi resmi. Status Level III juga tidak otomatis berarti tsunami sedang terjadi.

Karena itu, informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau sebaiknya diperoleh dari PVMBG, Badan Geologi, BNPB, BPBD, atau kanal resmi pemerintah lainnya.

Fenomena lava fountain memang terlihat dramatis. Langit yang memerah, material pijar yang menyembur dan suara dentuman dari kejauhan tentu membuat siapa pun penasaran.

Tetapi di balik pemandangan tersebut ada proses vulkanik yang serius.

Gunung sedang bekerja.

Dan bagi manusia yang berada di sekitarnya, pesan paling penting bukan bagaimana mendapatkan gambar paling dekat, melainkan bagaimana tetap berada pada jarak yang aman.

Lava fountain Anak Krakatau boleh menjadi tontonan dari kejauhan. Keselamatan tetap harus menjadi prioritas. (red)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaPrediksi Inter vs Napoli 5 September 2026: Inter Unggul? Berita SelanjutnyaDedi Mulyadi Soroti SMP Berlantai Tanah di Cianjur, Usul Sekolah Terpadu Jadi Jalan Keluar
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza