lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA — Situs Batu Gores Tasikmalaya yang terletak di kawasan Gunung Tandala, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, kembali menarik perhatian. Bukan hanya karena keberadaan satu batu yang dikenal masyarakat sebagai Batu Gores, tetapi juga karena ditemukan sejumlah batu lain dengan bentuk, cekungan, lubang dan karakter permukaan yang beragam di sekitar lokasi.
Temuan tersebut membuka kemungkinan adanya cerita yang lebih panjang mengenai kawasan tersebut. Namun, sejauh ini belum ada kesimpulan ilmiah yang memastikan apakah batu-batu tersebut merupakan tinggalan aktivitas manusia pada masa lalu atau terbentuk akibat proses alam.

Karena itu, kawasan tersebut dinilai layak mendapatkan penelusuran lebih lanjut, terutama karena lokasinya berada di kawasan Gunung Tandala yang juga memiliki jejak sejarah keagamaan Syekh Abdul Ghorib.
Bukan hanya satu batu yang menarik perhatian
Dokumentasi lapangan menunjukkan adanya beberapa batu dengan bentuk yang tidak seragam.
Batu yang dikenal sebagai Batu Gores memiliki permukaan dengan alur memanjang dan sejumlah cekungan. Di sekitarnya terdapat batu lain dengan lubang pada permukaan, batu pipih berukuran cukup besar, serta beberapa bongkahan dengan bentuk dan permukaan yang berbeda.
Keberadaan bentuk-bentuk tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruhnya merupakan benda peninggalan sejarah.

Dalam kajian arkeologi, bentuk batu harus dilihat bersama konteks lingkungannya. Sebuah cekungan pada batu, misalnya, belum otomatis menunjukkan bahwa batu tersebut merupakan benda hasil aktivitas manusia.
Begitu pula alur pada permukaan batu belum dapat dipastikan sebagai goresan buatan tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Karena itu, diperlukan dokumentasi, pengukuran, identifikasi jenis batuan serta penelitian arkeologi untuk mengetahui asal-usul dan kemungkinan fungsi masing-masing batu.

Berada di kawasan yang menyimpan jejak Syekh Abdul Ghorib
Yang membuat keberadaan Situs Batu Gores semakin menarik adalah konteks geografisnya.
Kawasan Gunung Tandala juga dikenal sebagai lokasi Makam Syekh Abdul Ghorib di Cibeas. Dalam penelitian arkeologi, makam tersebut tercatat berada di kawasan perbukitan Kampung Cibeas, Desa Gunung Tandala, Kecamatan Kawalu.
Syekh Abdul Ghorib disebut berasal dari Kudus dan hidup sekitar abad ke-17. Penelitian arkeologi mencatat perjalanan keagamaannya hingga ke Mekkah sebelum kemudian berpindah ke Jawa Barat.
Dalam riwayat yang diteliti, Syekh Abdul Ghorib juga disebut pernah bertemu dengan Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan.
Sekitar 1708 Masehi, Syekh Abdul Ghorib kemudian mendirikan pesantren di wilayah Tasikmalaya. Kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Kampung Pasantren dan berkembang menjadi Kampung Cibeas.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa kawasan Gunung Tandala memiliki keterkaitan dengan sejarah perkembangan Islam di Tasikmalaya.
Cerita warga tentang hubungan Abdul Ghorib dan Abdul Muhyi
Penelusuran lapangan juga menemukan cerita masyarakat mengenai hubungan Syekh Abdul Ghorib dengan Syekh Abdul Muhyi.
Sebagian warga menyebut keduanya memiliki hubungan sebagai kakak dan adik.
Namun, cerita tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Sumber tertulis yang tersedia menyebut adanya hubungan “saudara”, sementara penelitian arkeologi menguatkan fakta bahwa Syekh Abdul Ghorib pernah bertemu dengan Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan.
Belum terdapat bukti yang cukup untuk memastikan bahwa hubungan tersebut merupakan hubungan kakak-adik kandung.
Karena itu, cerita masyarakat tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari sejarah lisan yang masih perlu diverifikasi melalui silsilah, naskah lama dan sumber sejarah lainnya.
Status Batu Gores perlu ditelusuri
Hal lain yang tidak kalah penting adalah status situs tersebut.
Nama Situs Batu Gores telah dikenal masyarakat dan tercantum pada sejumlah direktori lokasi. Namun, status dan latar belakang sejarah Batu Gores Gunung Tandala perlu dibedakan dari situs lain yang menggunakan nama serupa di daerah Jawa Barat.
Dalam data kebudayaan Kota Tasikmalaya, Makam Syekh Abdul Gharib di Cibeas telah tercatat sebagai salah satu benda, situs dan kawasan cagar budaya.
Namun, belum ditemukan keterangan yang cukup untuk menyatakan bahwa Batu Gores Gunung Tandala juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Karena itu, diperlukan verifikasi khusus mengenai apakah lokasi tersebut pernah diinventarisasi oleh pemerintah daerah, diteliti oleh arkeolog, atau masuk dalam pendataan objek diduga cagar budaya.
Pemkot Tasikmalaya perlu melihat potensi yang ada
Keberadaan Batu Gores dan sejumlah batu unik di sekitarnya menjadi alasan untuk melakukan penelusuran lebih mendalam.
Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui dinas yang membidangi kebudayaan memiliki peran penting untuk memastikan apakah lokasi tersebut mempunyai nilai sejarah, arkeologi atau kebudayaan yang perlu dilindungi.
Langkah awal dapat dilakukan melalui inventarisasi dan dokumentasi lokasi, kemudian dilanjutkan dengan kajian oleh tenaga ahli apabila ditemukan indikasi tinggalan budaya.
Apalagi Pemkot Tasikmalaya telah memiliki kebijakan mengenai pemajuan kebudayaan daerah dan cagar budaya.
Dengan penelitian yang tepat, keberadaan Situs Batu Gores tidak harus langsung diarahkan menjadi destinasi wisata baru.
Yang lebih penting adalah memastikan terlebih dahulu nilai sejarah dan konteks budayanya.
Jika ternyata batu-batu tersebut memiliki hubungan dengan aktivitas manusia pada masa lalu, hasil penelitian dapat menjadi data baru untuk melengkapi sejarah kawasan Gunung Tandala.
Sebaliknya, apabila penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk tersebut merupakan proses alam, informasi itu pun tetap penting untuk menjelaskan karakter geologi dan bentang alam kawasan tersebut.
Puzzle sejarah Tasikmalaya yang belum selesai
Situs Batu Gores Gunung Tandala saat ini berada pada posisi menarik.
Di satu sisi, masyarakat telah mengenalnya dan menyimpan cerita mengenai lokasi tersebut. Di sisi lain, keberadaan sejumlah batu dengan bentuk unik belum banyak mendapatkan penjelasan ilmiah yang dapat diakses publik.
Kawasan di sekitarnya juga memiliki jejak sejarah Syekh Abdul Ghorib yang telah menjadi bagian dari catatan sejarah dan kebudayaan Kota Tasikmalaya.
Karena itu, penelitian terhadap Batu Gores tidak semata-mata penting untuk mengetahui asal-usul sebuah batu.
Lebih jauh, penelitian tersebut dapat membantu menjawab apakah kawasan Gunung Tandala menyimpan lapisan sejarah yang lebih panjang, mulai dari aktivitas masyarakat pada masa lampau hingga perkembangan Islam dan kebudayaan di Tasikmalaya.
Untuk saat ini, Situs Batu Gores berpotensi menjadi salah satu situs yang telah dikenal masyarakat tetapi belum banyak ditulis dan dikaji secara akademis.
Di tengah semakin kuatnya upaya pelestarian sejarah dan budaya daerah, lokasi tersebut layak mendapatkan perhatian dan verifikasi dari pihak berwenang.
Bukan untuk buru-buru memberi label sebagai situs bersejarah, melainkan untuk memastikan apakah ada bagian dari sejarah Tasikmalaya yang selama ini masih tersembunyi di balik batu-batu tersebut. (red)

