Lewati ke konten
Selasa, 03 November 2026
Daerah

Kaki Sampai Robek, Sandi Tempuh 95 Hari Demi Bertemu KDM

Redaktur Lintas JabarSeptember 20, 20264 menit baca56 dilihat
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA JAWA BARAT – Sandi, pemuda asal Padang Pariaman, menempuh perjalanan jalan kaki selama 95 hari hingga akhirnya bertemu KDM di Lembur Pakuan.

Pemuda asal Padang Melintang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, itu memilih cara yang tidak biasa. Bukan naik bus, bukan menumpang kendaraan pribadi, apalagi membeli tiket pesawat.

Ia berjalan kaki.

Selama 95 hari, langkah Sandi membawa dirinya melewati sejumlah wilayah di Sumatera hingga Jawa. Jarak yang ditempuh bukan lagi sekadar perjalanan antarkota. Bagi Sandi, setiap langkah adalah bagian dari keinginannya untuk melihat langsung sosok yang selama ini ia kagumi.

Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya ke Lembur Pakuan dan bertemu KDM.

Namun, ketika sampai, perjalanan tersebut ternyata meninggalkan cerita lain.

Kakinya sudah mulai robek.

Berangkat dari Padang Pariaman dengan Tekad Sendiri

Sandi merupakan lulusan SMP pada 2021.

Ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Sang ibu pernah mengalami stroke dan sempat menjalani pengobatan, sedangkan ayahnya bekerja sebagai petani jagung dengan lahan yang kurang lebih setara satu petak sawah.

Kondisi keluarga tersebut tidak membuat Sandi mengurungkan niat.

Ia justru memutuskan berjalan kaki karena mengaku kagum melihat apa yang dilakukan Dedi Mulyadi.

Dari Padang Melintang, ia memulai perjalanan menuju Solok.

Rutenya kemudian berlanjut melewati Padang Panjang, Tanah Garam, Sungai Lasi, Tanjung Gadang, Sijunjung hingga Dharmasraya.

Dari Sumatera Barat, langkahnya terus bergerak menuju wilayah Jambi.

Muara Bungo dan sejumlah wilayah lainnya dilewati sebelum perjalanan berlanjut semakin jauh.

Dari Sumatera Menyeberang ke Jawa

Perjalanan Sandi tidak berhenti di Pulau Sumatera.

Ia terus berjalan hingga melewati kawasan Tulang Bawang dan Menggala. Salah satu bagian perjalanan yang cukup panjang dilaluinya di tengah perkebunan tebu sepanjang sekitar 45 kilometer.

Di siang hari, ia berjalan bersama Babinsa dan personel TNI yang mendampinginya.

Setelah melewati sejumlah wilayah, Sandi akhirnya mencapai Merak.

Dari sana, perjalanan memasuki babak baru: menyeberang menuju Pulau Jawa.

Ia kemudian bermalam di Cilegon bersama komunitas persatuan orang Minang atau PKDP.

Perjalanan berikutnya terus mengarah ke Jawa Barat.

Purwakarta, Karawang, Cikampek, Cikopo, Sadang, Cijaya hingga Kalijati menjadi bagian dari rute yang dilaluinya sebelum akhirnya sampai di tujuan.

Setiap daerah meninggalkan cerita.

Ada warga yang memberikan makanan. Ada pula orang-orang Minang yang ditemuinya sepanjang perjalanan dan memberikan bantuan.

Bahkan, untuk beberapa perjalanan penyeberangan, Sandi mendapatkan bantuan gratis dari warga.

Perjalanan yang awalnya dilakukan seorang diri perlahan berubah menjadi perjalanan yang juga mempertemukannya dengan banyak orang.

Sampai Tujuan, Kaki Justru Jadi Cerita

Setelah 95 hari berjalan, kondisi fisik Sandi mulai terlihat.

Kakinya mengalami luka hingga bagian tertentu sudah robek.

Namun, ia mengaku belum sempat mendapatkan perawatan dari dokter.

Meski demikian, langkahnya tidak berhenti sebelum sampai ke tempat yang dituju.

Dan tujuan itu adalah Lembur Pakuan.

Tempat di mana akhirnya Sandi bisa bertemu langsung dengan KDM.

Momen pertemuan tersebut kemudian direkam dan dibagikan melalui kanal Kang Dedi Mulyadi Channel.

Video bertajuk “Tempuh Perjalanan 95 Hari | Sandi Jalan dari Padang Pariaman ke Lembur Pakuan” tersebut menjadi perhatian publik dan telah memperoleh ratusan ribu penayangan.

Bukan Sekadar Ingin Bertemu

Kalau dilihat sekilas, perjalanan Sandi mungkin terlihat seperti aksi seorang pemuda yang ingin bertemu tokoh yang dikaguminya.

Tetapi perjalanan 95 hari itu menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.

Ada keluarga yang ditinggalkan sementara.

Ada orang tua yang tetap menjalani kehidupan di kampung.

Ada ibu yang pernah terkena stroke.

Ada ayah yang sehari-hari bertani jagung.

Dan ada seorang anak muda lulusan SMP yang memilih menempuh ribuan kilometer dengan kedua kakinya sendiri.

Sepanjang perjalanan, Sandi juga tidak sepenuhnya berjalan sendirian.

Orang-orang yang ditemuinya ikut membantu. Makanan diberikan. Penyeberangan dibantu. Komunitas perantau Minang menjadi tempat beristirahat ketika ia tiba di Cilegon.

Sedikit demi sedikit, perjalanan itu menjadi rangkaian kebaikan dari orang-orang yang bahkan sebelumnya tidak dikenalnya.

Dari Padang Pariaman ke Lembur Pakuan

95 hari tentu bukan waktu yang sebentar.

Terlebih perjalanan tersebut ditempuh dengan berjalan kaki dan melewati berbagai kondisi jalan serta cuaca.

Ketika akhirnya tiba di Lembur Pakuan, Sandi membawa sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: pengalaman perjalanan panjang yang mempertemukannya dengan banyak orang.

Kakinya memang terluka.

Tetapi perjalanan itu akhirnya sampai pada tujuan.

Sandi datang dari Padang Pariaman bukan dengan rombongan besar atau kendaraan mewah.

Ia datang dengan langkah kaki, bekal seadanya, bantuan warga yang ditemuinya, serta satu keinginan yang membuatnya terus berjalan selama 95 hari: bertemu langsung dengan KDM.

Dan setelah ribuan langkah itu, pertemuan tersebut akhirnya terjadi. (red)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaKDM Siapkan Asuransi Nelayan, Anak Nelayan Ikut Dijamin Berita SelanjutnyaTangkapan Melimpah, Tapi Tak Ada yang Beli: Drama Udang Korosok Pangandaran
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza