Lewati ke konten
Selasa, 03 November 2026
Daerah

Petani Tasikmalaya Tak Bisa Menunggu Bantuan, Air Dicari Sendiri

Redaktur Lintas JabarAgustus 27, 20264 menit baca107 dilihat
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Ketika hujan tak kunjung turun dan lahan pertanian mulai membutuhkan air, petani tidak punya banyak pilihan. Menunggu hujan berarti mempertaruhkan tanaman. Menunggu bantuan juga belum tentu datang tepat waktu. Hal ini memicu ide kincir air Petani Tasikmalaya.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah petani di Tasikmalaya memilih mencari jalan keluar sendiri.

Mereka memanfaatkan aliran Sungai Citanduy dengan membuat kincir air secara swadaya. Alat sederhana itu diputar arus sungai untuk membantu mengangkat air menuju lahan pertanian.

Bagi petani, kincir tersebut bukan sekadar alat bantu.

Di tengah kemarau, kincir menjadi salah satu cara agar sawah tetap mendapatkan pasokan air dan tanaman tidak begitu saja dibiarkan menghadapi kekeringan.

Kincir Air Jadi Andalan di Tengah Kemarau

Pemandangan kincir air di aliran Sungai Citanduy kembali menjadi bagian dari aktivitas petani di Tasikmalaya.

Sejumlah kincir dipasang di sungai dan dimanfaatkan untuk mengalirkan air ke area persawahan.

Cara tersebut dipilih karena sumber air untuk pertanian semakin terbatas ketika curah hujan menurun.

Alih-alih menunggu kondisi kembali normal, petani memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar mereka.

Kincir dibuat secara swadaya dengan memanfaatkan material yang bisa digunakan untuk menggerakkan mekanisme pengambilan air.

Air dari sungai kemudian dialirkan menuju lahan yang membutuhkan.

Sederhana, tetapi cukup berarti bagi petani yang sedang berhadapan dengan musim kering.

Empat Kincir Dipakai Mengairi Sawah

Dalam kondisi kemarau, keberadaan sumber air menjadi persoalan utama bagi petani.

Aliran Sungai Citanduy menjadi salah satu tumpuan karena masih dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan.

Sejumlah kincir yang berada di aliran sungai bekerja dengan memanfaatkan tenaga arus air.

Putaran kincir kemudian digunakan untuk mengangkat air secara bertahap sebelum dialirkan menuju lahan pertanian.

Detik melaporkan terdapat empat kincir air yang dimanfaatkan petani untuk membantu mengairi area persawahan di wilayah Tasikmalaya.

Bagi petani, teknologi tersebut mungkin terlihat sederhana.

Namun ketika hujan menjadi sesuatu yang tidak bisa mereka atur, cara sederhana seperti inilah yang menentukan apakah tanaman tetap memperoleh air atau justru menghadapi risiko kekeringan.

Petani Memilih Bertahan, Bukan Menunggu

Kemarau selalu menghadirkan dilema bagi petani.

Tanaman tetap membutuhkan air, sementara hujan berada di luar kendali manusia.

Di sisi lain, tidak semua lahan memiliki akses terhadap sistem irigasi yang mampu menjamin pasokan air sepanjang musim.

Situasi tersebut membuat petani harus mencari alternatif.

Kincir air menjadi salah satu bentuk adaptasi masyarakat terhadap kondisi tersebut.

Mereka memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar lahan dan mengubahnya menjadi sistem pengairan sederhana.

Cara ini juga bukan sesuatu yang benar-benar baru.

Pemanfaatan kincir air dari Sungai Citanduy oleh petani Tasikmalaya telah dilakukan sejak beberapa tahun sebelumnya. Pada 2023, kincir serupa bahkan diberitakan mampu membantu mengairi sekitar lima hektare sawah.

Artinya, ketika kondisi kemarau kembali datang, pengetahuan dan cara yang pernah digunakan petani kembali menjadi pilihan.

Ketika Air Menjadi Barang Berharga

Bagi masyarakat perkotaan, kemarau mungkin hanya terasa sebagai cuaca yang lebih panas.

Tetapi bagi petani, kemarau memiliki konsekuensi yang jauh lebih nyata.

Air menentukan keberlangsungan tanaman.

Ketika pasokan air berkurang, risiko gagal panen ikut meningkat.

Karena itu, upaya petani mempertahankan pengairan tidak bisa dilihat hanya sebagai aktivitas biasa di sungai.

Ada upaya mempertahankan hasil pertanian di balik putaran kincir yang terus bergerak.

Setiap putaran membawa air sedikit demi sedikit menuju lahan.

Tidak cepat, tidak modern, dan tentu bukan solusi untuk seluruh persoalan kekeringan.

Tetapi bagi petani, air yang berhasil sampai ke sawah tetap jauh lebih berarti daripada sekadar menunggu hujan turun.

Kemarau dan Ancaman Kekeringan

Persoalan yang dihadapi petani Tasikmalaya juga tidak berdiri sendiri.

Musim kemarau 2026 terjadi di tengah kondisi cuaca yang membuat sejumlah wilayah Indonesia harus mewaspadai kekeringan.

BMKG sebelumnya menyampaikan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Puncak musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung pada periode Juli hingga September.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap pengelolaan air semakin penting, terutama di wilayah yang sektor pertaniannya bergantung pada curah hujan dan sumber air permukaan.

Karena itu, apa yang dilakukan petani di Tasikmalaya dapat dilihat sebagai bentuk adaptasi sederhana menghadapi perubahan kondisi musim.

Mereka tidak memiliki kendali atas kapan hujan turun.

Tetapi mereka masih memiliki pilihan untuk mencari air dari sumber yang tersedia.

Jangan Sampai Petani Selalu Diminta Bertahan Sendiri

Kemandirian petani memang patut diapresiasi.

Namun ada persoalan lain yang tidak boleh dilupakan.

Kincir air swadaya seharusnya tidak menjadi alasan bagi pemerintah untuk menganggap persoalan pengairan pertanian sudah selesai.

Petani tetap membutuhkan infrastruktur irigasi yang layak, kepastian pasokan air, pendampingan serta kebijakan yang mampu mengantisipasi musim kemarau.

Sebab petani boleh kreatif mencari jalan keluar.

Tetapi ketahanan pangan tidak semestinya sepenuhnya dibebankan kepada kreativitas petani di lapangan.

Hari ini mereka membuat kincir.

Besok mungkin harus mencari sumber air lain.

Dan jika kemarau semakin panjang, pertanyaannya bukan lagi soal bagaimana petani memutar kincir, melainkan sampai kapan mereka mampu bertahan dengan solusi seadanya.

Untuk sementara, kincir-kincir di Sungai Citanduy terus berputar.

Air diangkat sedikit demi sedikit.

Sawah tetap diusahakan hidup.

Dan para petani memilih melakukan apa yang masih bisa mereka lakukan: mencari air sendiri, daripada sekadar menunggu bantuan atau berharap hujan datang tepat waktu. (red)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaJalan Pejalan Kaki di Dadaha Kembali ke Fungsinya, Warga Nyaman Berita SelanjutnyaTasik Gemas Hadirkan Cek Kesehatan Gratis di Bungursari
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza