lintasjabar.id, BERITA BANDUNG – Dugaan keracunan makanan di restoran 88 Seoul, kawasan 23 Paskal Bandung, memasuki babak baru setelah Dinas Kesehatan Kota Bandung melakukan pemeriksaan langsung. Bukan hanya soal keluhan konsumen, petugas menemukan sejumlah aspek higiene dan sanitasi yang masih perlu diperbaiki.
Hingga Selasa (6/10/2026) sore, Dinkes Kota Bandung mencatat 24 laporan warga yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari restoran tersebut. Jumlah itu masih dapat bertambah karena proses penelusuran dan pelaporan masih dibuka.
Di media sosial sebelumnya beredar klaim jumlah korban mencapai lebih dari 200 orang, bahkan ada angka 284. Namun, angka tersebut belum terkonfirmasi secara resmi oleh Dinkes Kota Bandung.
Kondisi inilah yang membuat kasus tersebut tidak cukup dilihat hanya dari jumlah warga yang mengeluh sakit. Pemeriksaan terhadap proses pengolahan dan penyimpanan makanan menjadi bagian penting untuk mencari kemungkinan penyebabnya.
Dinkes Bandung Temukan Masalah Higiene dan Sanitasi
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung Dewi Primasari mengatakan pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah aspek di restoran, mulai dari penataan lokasi, peralatan, bahan makanan hingga penerapan prosedur operasional standar.
Dari pemeriksaan awal, masih ditemukan sejumlah hal yang perlu diperbaiki.
Salah satunya berkaitan dengan penataan bahan makanan. Bahan makanan segar dan bahan makanan kering perlu ditata dengan lebih baik serta dipisahkan dari bahan kimia, seperti cairan pembersih dan sabun pencuci piring.
Kondisi ruangan restoran yang tidak terlalu luas juga menjadi alasan perlunya penataan ulang agar penyimpanan bahan dan aktivitas pengolahan makanan tidak saling mengganggu.
Dinkes juga menyoroti penerapan sistem first in first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO) dalam pengelolaan bahan makanan.
Selain itu, petugas meminta pekerja yang menangani makanan memperhatikan perlindungan diri, termasuk penggunaan masker dan penutup rambut atau hair net.
Temuan tersebut belum otomatis membuktikan bahwa persoalan higiene dan sanitasi itulah yang menyebabkan konsumen sakit. Penyebab gangguan kesehatan masih dalam proses investigasi.
Masalah Terbesar Justru Sampel Makanan Tidak Tersedia
Ada satu fakta lain yang cukup penting dalam proses pemeriksaan.
Restoran ternyata tidak menyimpan sampel makanan yang dikonsumsi pelanggan.
Padahal, sampel makanan dapat menjadi salah satu bahan pemeriksaan untuk membantu menelusuri kemungkinan penyebab gangguan kesehatan.
Dinkes menyebut kondisi tersebut membuat pemeriksaan terhadap sampel makanan tidak dapat dilakukan. Karena itu, proses penelusuran masih bertumpu pada pemeriksaan lapangan, konfirmasi kepada pengelola restoran, serta penelusuran konsumen yang melaporkan keluhan.
Dari laporan yang diterima Dinkes, gejala pada konsumen muncul dalam rentang waktu yang berbeda. Ada yang mengalami keluhan sekitar dua jam setelah makan, sementara laporan paling lambat muncul sekitar 12 jam kemudian.
Keluhan yang dilaporkan antara lain sakit perut, mual, muntah dan diare.
Dinkes masih melakukan konfirmasi terhadap laporan tersebut sekaligus memantau kondisi warga yang mengalami gangguan kesehatan.
Resto 88 Seoul Tutup Sementara
Di tengah proses pemeriksaan, 88 Seoul 23 Paskal Bandung memutuskan menghentikan sementara operasionalnya selama 2 hari kedepan, 7–8 Oktober 2026.
Penutupan dilakukan untuk pembersihan dan sanitasi secara menyeluruh sekaligus evaluasi terhadap proses serta standar operasional di gerai tersebut.
Manajemen restoran juga menyatakan akan memberikan perhatian dan pendampingan kepada pelanggan yang menyampaikan keluhan.
Keputusan tersebut menjadi bagian dari respons setelah keluhan konsumen ramai muncul di media sosial.
Sebelumnya, manajemen menyatakan telah menerima laporan dari sejumlah pelanggan dan meminta konsumen yang mengalami gejala setelah makan untuk menyampaikan keluhannya kepada pihak restoran agar dapat ditindaklanjuti.
Dugaan Keracunan Belum Berujung pada Kesimpulan Penyebab
Kasus ini penting dibedakan antara dugaan dan kesimpulan medis.
Banyaknya konsumen yang mengaku mengalami mual, muntah, diare atau keluhan lain setelah makan memang menjadi dasar dilakukannya investigasi. Namun, sampai saat ini Dinkes belum menyatakan secara definitif apa penyebab gangguan kesehatan tersebut.
Klaim jumlah korban yang mencapai ratusan juga masih harus diverifikasi. Data yang telah diterima secara resmi Dinas Kesehatan Kota Bandung hingga Selasa sore baru mencatat 24 laporan dan angka tersebut masih dapat berubah.
Kementerian Kesehatan menyatakan kasus lokal seperti ini ditangani melalui otoritas kesehatan setempat, termasuk puskesmas, Dinkes dan Balai Pengawas Obat dan Makanan.
Artinya, proses pemeriksaan tidak berhenti pada kondisi restoran saat ini. Penelusuran terhadap konsumen, pengelola, bahan makanan dan aspek keamanan pangan menjadi bagian penting untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh.
Dinkes Bandung juga mengimbau warga yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari restoran tersebut agar melapor ke puskesmas terdekat atau kanal resmi Dinkes.
Untuk sementara, fakta yang paling jelas bukanlah siapa yang menjadi penyebab atau berapa sebenarnya jumlah korban. Fakta yang sudah ditemukan adalah adanya sejumlah laporan warga, temuan persoalan higiene dan sanitasi, serta tidak tersedianya sampel makanan yang dapat diperiksa.
Karena itu, dugaan keracunan 88 Seoul Bandung masih membutuhkan proses investigasi lebih lanjut. Yang ditunggu bukan sekadar angka korban, tetapi penjelasan berbasis pemeriksaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. (Red)

