lintasjabar.id, BERITA JAWA BARAT. – Gubernur Jawa Barat KDM sambut delegasi Jepang dari Sumitomo Corporation dengan sajian sate dan ayam bakakak khas Sunda. Di balik jamuan yang berlangsung santai itu, ada agenda investasi besar yang menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat: pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di Legok Nangka.
Pertemuan tersebut membahas kelanjutan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka yang dirancang menangani sampah dari enam kabupaten dan kota di Jawa Barat.
Proyek ini memiliki nilai investasi sekitar Rp7,4 triliun dan ditargetkan beroperasi pada 2029–2030. Fasilitas tersebut dirancang mengolah sampah menjadi listrik dengan kapasitas sekitar 40,79 megawatt.
Bagi Dedi Mulyadi atau KDM, pertemuan dengan investor tidak harus selalu berlangsung dalam suasana formal. Jamuan kuliner tradisional menjadi cara membangun komunikasi yang lebih akrab dengan delegasi Jepang.
Namun, ukuran keberhasilan pertemuan ini pada akhirnya bukan terletak pada menu yang disajikan atau suasana keakraban, melainkan sejauh mana komitmen investasi tersebut bergerak menuju pembangunan dan penyelesaian persoalan sampah di Jawa Barat.
Sate dan Bakakak Jadi Pembuka Percakapan
Dalam jamuan tersebut, KDM menyajikan sate dan ayam bakakak di atas daun pisang kepada delegasi Sumitomo Corporation.
Suasana berlangsung cair dengan percakapan mengenai perbedaan kebiasaan makan, budaya kerja, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang dan Sunda.
KDM juga melontarkan candaan mengenai kebiasaan masyarakat Jepang yang dikenal serius bekerja dan mengajak para tamunya untuk lebih banyak menikmati suasana santai seperti orang Sunda.
Percakapan itu memperlihatkan pendekatan diplomasi yang lebih informal. KDM mencoba membangun kedekatan personal sebelum pembahasan berlanjut pada kepentingan investasi.
Pendekatan semacam ini dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih terbuka. Meski begitu, hubungan yang baik antara pemerintah dan investor tetap perlu diterjemahkan menjadi kepastian proyek, jadwal kerja, serta pembagian tanggung jawab yang jelas.
Proyek Legok Nangka Bernilai Rp7,4 Triliun
Di balik jamuan tersebut, agenda utama yang dibahas adalah kelanjutan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka, Kabupaten Bandung.
Sumitomo Corporation terlibat dalam konsorsium PT Jabar Environmental Solutions yang menjadi badan usaha pelaksana proyek tersebut.
PSEL Legok Nangka dirancang mengolah sampah dari enam daerah, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang.
Dengan kapasitas listrik yang direncanakan mencapai sekitar 40,79 megawatt, proyek ini diharapkan menjadi bagian dari solusi untuk menangani timbulan sampah regional sekaligus menghasilkan energi.
Pembangunannya menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Dalam skema ini, pemerintah dan badan usaha memiliki peran berbeda sesuai perjanjian kerja sama, termasuk dalam pembiayaan, pembangunan, serta pengoperasian fasilitas.
Nilai investasi yang besar menunjukkan skala proyek ini. Namun, realisasinya tetap bergantung pada kesiapan pembangunan, kesinambungan pendanaan, infrastruktur pendukung, dan kemampuan sistem mengelola sampah sesuai standar yang ditetapkan.
Bukan Sekadar Mengubah Sampah Menjadi Listrik
Persoalan sampah di kawasan Bandung Raya tidak cukup diselesaikan hanya dengan memindahkan timbunan dari satu tempat ke tempat lain.
Pengolahan menjadi energi dapat menjadi salah satu pilihan, tetapi keberhasilannya memerlukan sistem yang terintegrasi sejak pengumpulan sampah, pengangkutan, pemilahan, hingga pengolahan akhir.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan pasokan sampah dari enam wilayah tersebut dapat dikelola secara konsisten. Di sisi lain, aspek lingkungan harus tetap menjadi perhatian, termasuk pengendalian emisi, pengelolaan residu, dan pemantauan dampak operasional.
Karena itu, proyek Legok Nangka perlu dinilai dari manfaat yang benar-benar dihasilkan, bukan hanya kapasitas pembangkit atau nilai investasinya.
Jika berjalan sesuai rencana, fasilitas ini berpotensi membantu mengurangi beban pengelolaan sampah regional sekaligus menyediakan energi. Namun, manfaat tersebut baru dapat dipastikan setelah fasilitas dibangun, beroperasi, dan memenuhi standar teknis serta lingkungan.
Target 2029–2030 Menjadi Pekerjaan Rumah Berikutnya
Pembangunan PSEL Legok Nangka telah memasuki tahapan pelaksanaan setelah peletakan batu pertama pada 29 Juli 2026.
Pertemuan KDM dengan Sumitomo Corporation pada Oktober ini menjadi bagian dari pembahasan lanjutan untuk menjaga proyek tetap bergerak menuju target operasional 2029–2030.
Rentang waktu tersebut menuntut koordinasi yang konsisten antara pemerintah provinsi, pemerintah daerah yang memasok sampah, badan usaha pelaksana, dan pemangku kepentingan lainnya.
Hal yang perlu dikawal bukan hanya kelanjutan investasi, tetapi juga kepastian jadwal pembangunan, kesiapan pasokan sampah, pembiayaan, dan pemenuhan persyaratan lingkungan.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa manfaat proyek tidak hanya dirasakan melalui penyelesaian persoalan sampah, tetapi turut memberikan nilai tambah bagi masyarakat di wilayah yang terlibat.
Keramahan Harus Berujung pada Kepastian Investasi
Jamuan sate dan ayam bakakak memperlihatkan sisi informal pendekatan KDM dalam membangun hubungan dengan investor Jepang.
Namun, hubungan baik tetap membutuhkan tindak lanjut yang terukur. Investor memerlukan kepastian pelaksanaan proyek, sedangkan masyarakat membutuhkan solusi nyata atas persoalan sampah yang selama ini membebani kawasan perkotaan.
Di sinilah keberhasilan pertemuan tersebut akan diuji. Bukan hanya apakah delegasi Jepang merasa diterima dengan baik, tetapi apakah pembahasan menghasilkan kemajuan yang dapat dilacak dalam pembangunan Legok Nangka.
Proyek senilai Rp7,4 triliun itu membawa harapan besar bagi pengelolaan sampah dan penyediaan energi di Jawa Barat. Akan tetapi, harapan tersebut perlu diikuti pelaksanaan yang transparan, pengawasan lingkungan yang ketat, dan pertanggungjawaban atas target yang telah ditetapkan.
Pada akhirnya, sate dan ayam bakakak boleh menjadi pembuka percakapan. Namun, hasil yang paling dinantikan masyarakat adalah ketika sampah benar-benar terkelola lebih baik dan fasilitas pengolahan menjadi energi listrik di Legok Nangka beroperasi sesuai rencana. (Red)

