lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Pelaksanaan program Jum’at Resik di kawasan Jalan Lingkar Utara Kota Tasikmalaya mendapat sorotan langsung dari Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara. Ia menilai kegiatan gotong royong yang rutin digelar tersebut jangan sampai hanya menjadi agenda seremonial tanpa dampak nyata terhadap kebersihan kota.
Sorotan itu disampaikan Diky saat meninjau langsung kegiatan bersih-bersih di kawasan Lingkar Utara, Jumat (22/5/2026). Menurutnya, semangat gotong royong yang dibangun melalui program tersebut merupakan langkah positif, namun hasil di lapangan harus benar-benar terlihat dan dirasakan masyarakat.
Ia menegaskan, kegiatan kebersihan tidak boleh berhenti pada rutinitas formal semata, seperti sekadar berkumpul, melakukan aksi simbolis, lalu selesai tanpa tindak lanjut yang berkelanjutan.
“Sayang sekali kalau Jum’at Resik hanya berhenti di seremoni. Jalan Lingkar Utara masih terlihat kotor, saluran air tersumbat, rumput liar belum tertangani. Ini bukan sekadar foto bersama,” ujar Diky.
Menurutnya, wajah kota mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mengelola lingkungan perkotaan. Karena itu, upaya menjaga kebersihan harus dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika ada agenda tertentu.
Kebersihan Kota Harus Jadi Gerakan Berkelanjutan
Diky menilai kebersihan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan pada satu instansi tertentu, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh perangkat daerah, aparatur kewilayahan, hingga masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia harus diterjemahkan dalam aksi nyata yang berkesinambungan.
Menurutnya, tanpa pengawasan dan tindak lanjut yang jelas, hasil kerja lapangan akan cepat hilang dan persoalan kebersihan kembali terulang.
“Kalau kita serius menjaga kota, maka harus konsisten. Jangan tunggu ada tamu atau ada liputan baru jalan dibersihkan. Malu rasanya kalau wajah kota kita sendiri berantakan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa program kebersihan perkotaan tidak boleh hanya berorientasi pada pencitraan, tetapi harus menyasar penyelesaian persoalan riil di lapangan.
Kondisi saluran air yang tersumbat dan rumput liar yang masih tumbuh di sejumlah titik Lingkar Utara menjadi indikator bahwa pekerjaan rumah soal kebersihan kota belum sepenuhnya tertangani.
Evaluasi Program Agar Manfaatnya Dirasakan Warga
Plh Wali Kota berharap kritik yang disampaikannya menjadi bahan evaluasi bersama bagi seluruh jajaran pemerintah daerah.
Menurutnya, program seperti Jum’at Resik seharusnya menjadi momentum membangun budaya menjaga lingkungan, bukan hanya agenda simbolik mingguan.
Jika dikelola dengan serius, program tersebut bisa menjadi instrumen efektif untuk meningkatkan kebersihan kota, memperbaiki drainase, hingga menciptakan ruang publik yang lebih nyaman bagi masyarakat.
Kawasan Jalan Lingkar Utara sendiri merupakan salah satu jalur strategis di Kota Tasikmalaya yang cukup padat dilalui kendaraan, sehingga kebersihan dan kerapian lingkungan di kawasan tersebut menjadi bagian penting dari wajah kota.
Diky menegaskan, masyarakat tentu berharap gerakan kebersihan yang dilakukan pemerintah benar-benar memberikan perubahan nyata, bukan sekadar dokumentasi kegiatan.
Dengan evaluasi yang dilakukan, Pemkot Tasikmalaya diharapkan mampu memperkuat implementasi program kebersihan agar manfaatnya benar-benar dirasakan warga secara langsung. (dh/hs)


