Lewati ke konten
Nasional

Makna Lirik Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejad: Ketika Humor Personal Dibaca Sebagai Narasi yang Merendahkan Perempuan

Kang DoelJuli 5, 20265 menit baca188 dilihat
Makna Lirik Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejad karya Om Zein
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA NASIONAL – Lagu berbahasa Sunda Lalaki Langit, Lalanang Bejad karya Bupati Purwakarta Om Zein tidak hanya memantik kontroversi politik dan sosial, tetapi juga melahirkan perdebatan panjang mengenai tafsir makna, relasi gender, serta posisi perempuan dalam kebudayaan Sunda modern.

Bagi sebagian pendengar, lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejad hanyalah ekspresi personal yang dibalut humor khas lelaki Sunda. Namun bagi kelompok lain, liriknya justru dianggap menyimpan narasi yang merendahkan perempuan, menormalisasi stereotip patriarkal, dan mengabaikan nilai luhur masyarakat Sunda yang sejak lama memuliakan kaum ibu.

Perbedaan cara membaca itulah yang kemudian menjadikan lagu tersebut lebih dari sekadar karya seni. Ia berubah menjadi arena perdebatan tentang batas kebebasan berekspresi, tanggung jawab moral, dan sensitivitas budaya di ruang publik.

Makna Lirik Lagu Lalaki Langit dan Gambaran Laki-Laki dalam Perspektif Penciptanya

Secara harfiah, frasa Lalaki Langit dapat dimaknai sebagai sosok laki-laki yang tinggi cita-cita, keras kepala, bebas, bahkan merasa menjadi pusat kehidupan. Sebaliknya, istilah Lalanang Bejad secara eksplisit mengandung pengertian lelaki yang rusak moral, liar, atau penuh kenakalan.

Perpaduan dua istilah yang kontras itu menggambarkan pergulatan batin seorang laki-laki antara idealisme dan kebejatan, antara kemuliaan dan kelemahan diri.

Dalam sejumlah penjelasannya, Om Zein menyebut lagu tersebut merupakan refleksi perjalanan hidup dan bentuk pengakuan terhadap kenakalan masa lalu, bukan serangan terhadap perempuan.

Bila dibaca dari perspektif itu, lirik tersebut sesungguhnya menempatkan laki-laki sebagai subjek kritik utama. Tokoh “lalanang bejad” menjadi representasi pria yang bergulat dengan hawa nafsu, ego, dan berbagai kekhilafan dalam hidupnya.

Namun persoalan muncul ketika sejumlah penggalan lirik dianggap menyeret perempuan ke dalam narasi yang tidak setara.

Alih-alih sekadar menjadi saksi perjalanan seorang lelaki, perempuan dalam tafsir sebagian pendengar justru diposisikan sebagai objek candaan, pelengkap cerita, bahkan sumber stereotip yang berpotensi melukai martabat kaum perempuan.

Di titik inilah perdebatan mulai bergeser dari wilayah estetika menuju ranah etika sosial.

Kritik terhadap Budaya Patriarki dan Stereotip Gender dalam Lirik

Kelompok pemerhati perempuan menilai bahwa beberapa bagian lagu mengandung pola pikir patriarkal yang masih mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Patriarki sendiri bukan sekadar dominasi laki-laki dalam ruang publik, melainkan cara pandang yang menempatkan pengalaman, tubuh, dan perasaan perempuan sebagai sesuatu yang dapat dijadikan bahan olok-olok atau humor sosial.

Dalam konteks itu, kritik yang muncul tidak semata ditujukan kepada pencipta lagu, melainkan kepada budaya yang memungkinkan narasi serupa terus diproduksi dan diterima sebagai sesuatu yang lumrah.

Kutipan Lirik yang Menjadi Sorotan Publik

Sejumlah potongan lirik pendek menjadi pusat perhatian publik karena dianggap memuat perbandingan antara pengalaman laki-laki dan perempuan yang berpotensi melahirkan tafsir merendahkan kaum perempuan.

Salah satu penggalan lagu Lalaki Langit Lalanang Bejad yang banyak diperbincangkan berbunyi:

“Nuhun Gusti, tos nyiptakeun kuring jadi lalaki.”
Arti: “Terima kasih Tuhan, telah menciptakan aku menjadi laki-laki.”

Kalimat tersebut dipahami pendukung lagu sebagai ungkapan syukur dan refleksi personal seorang lelaki terhadap perjalanan hidupnya.

Namun, kontroversi menguat ketika lirik berikutnya menampilkan perbandingan mengenai kehidupan perempuan.

“Teu kudu meuli BH.”
Arti: “Tidak perlu membeli bra.”

Potongan singkat itu menjadi salah satu bagian yang paling sering dikritik. Sebagian kalangan menilai frasa tersebut mereduksi pengalaman perempuan hanya pada aspek biologis dan kebutuhan tubuh, sehingga dianggap menjadikan identitas perempuan sebagai bahan humor atau perbandingan yang tidak setara.

Di sisi lain, pendukung karya tersebut memandangnya sebagai bentuk candaan khas Sunda yang lahir dari pengalaman personal penciptanya, bukan sebagai penghinaan terhadap perempuan secara keseluruhan.

Penggalan lain yang turut menuai perhatian adalah:

“Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata.”
Arti: “Tidak perlu menggambar alis dan bulu mata.”

Sebagian pendengar menafsirkan kalimat itu sebagai sindiran terhadap standar kecantikan modern. Namun kelompok pengkritik melihatnya sebagai penyederhanaan terhadap kompleksitas pengalaman perempuan yang jauh melampaui persoalan penampilan fisik.

Kritik-kritik tersebut kemudian berkembang menjadi diskursus yang lebih luas mengenai bagaimana karya seni memandang perempuan: sebagai subjek yang setara atau sekadar objek narasi dan humor sosial.

Banyak aktivis perempuan menilai bahwa candaan yang merendahkan pengalaman biologis perempuan merupakan bentuk kekerasan simbolik yang sering kali tidak disadari masyarakat.

Kekerasan simbolik bekerja secara halus. Ia tidak melukai secara fisik, tetapi membentuk persepsi kolektif bahwa penghinaan atau stereotip tertentu merupakan hal yang wajar.

Padahal, dalam perkembangan masyarakat modern, penghormatan terhadap martabat perempuan telah menjadi bagian penting dari etika publik.

Lebih jauh lagi, para pengkritik menilai bahwa seorang pejabat publik memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menjaga sensitivitas tersebut.

Karya seni memang lahir dari kebebasan berekspresi, tetapi ketika penciptanya memegang jabatan publik, karya itu secara otomatis memasuki ruang sosial yang lebih luas dan rentan menimbulkan berbagai tafsir.

Karena itu, ukuran etikanya pun menjadi berbeda dibandingkan karya yang lahir dari ruang privat.

Perempuan dalam Budaya Sunda: Mengapa Banyak Pihak Merasa Tersinggung?

Reaksi keras masyarakat Sunda terhadap lagu tersebut tidak dapat dilepaskan dari posisi perempuan dalam falsafah budaya Sunda.

Sejak dahulu, masyarakat Sunda mengenal ungkapan indung tunggul rahayu, bapa tangkal darajat. Filosofi itu menempatkan ibu sebagai sumber keselamatan dan kesejahteraan keluarga, sementara ayah menjadi penopang kehormatan.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, perempuan Sunda dipandang sebagai penjaga nilai, pendidik generasi, sekaligus simbol kemuliaan keluarga.

Karena itu, ketika muncul karya yang dianggap merendahkan perempuan, sebagian masyarakat memaknainya bukan sekadar kritik terhadap individu, melainkan sebagai gangguan terhadap nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

Tokoh publik seperti Atalia Praratya menjadi salah satu suara yang menegaskan pentingnya penghormatan terhadap perempuan dalam ruang budaya.

Menurut pandangan tersebut, humor atau ekspresi seni tetap memerlukan batas etik agar tidak melahirkan normalisasi terhadap perilaku yang diskriminatif.

Di sisi lain, kelompok yang membela lagu tersebut berargumen bahwa karya seni seharusnya tidak dibatasi oleh tafsir tunggal.

Mereka memandang lagu itu sebagai pengakuan jujur seorang lelaki atas kesalahan masa lalunya, sehingga tidak layak diperlakukan sebagai bentuk penghinaan terhadap perempuan.

Perbedaan cara pandang inilah yang kemudian menjadikan Lalaki Langit, Lalanang Bejad sebagai salah satu polemik budaya paling hangat di Jawa Barat dalam beberapa waktu terakhir.

Pada akhirnya, perdebatan itu menghadirkan pelajaran penting bahwa seni tidak pernah berdiri di ruang hampa. Setiap lirik, simbol, dan metafora akan selalu berinteraksi dengan pengalaman sosial masyarakat yang mendengarnya.

Apa yang bagi sebagian orang dianggap humor dan refleksi personal, bagi kelompok lain bisa dimaknai sebagai bentuk pengingkaran terhadap martabat perempuan.

Di tengah dinamika tersebut, dialog yang sehat dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan tetap menjadi jalan terbaik untuk menjaga ruang kebudayaan agar tetap hidup, kritis, sekaligus berkeadaban.(redaksi/doel)

ADS BANNER
728 x 90

Kang Doel

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di lintasjabar.id

Berita SebelumnyaKontroversi Lagu Lalaki Langit: Dari Kritik Atalia, Somasi Hukum hingga Pemeriksaan Kemendagri Berita Selanjutnya“Nyawa Suami Saya Tak Bisa Diganti Uang,” Jerit Istri Korban Tragedi Tower Banjar
Iklan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *