Lewati ke konten
Editorial

“Provinsi Sunda” Menggema, Luka Identitas Warga Jawa Barat Kembali Terbuka

Kang DoelJuli 4, 20263 menit baca34 dilihat
Provinsi Sunda Menggema
ADS BANNER
728 x 90

LintasJabar.IdEDITORIAL – Di tengah hiruk pikuk pembangunan dan modernisasi, sebuah wacana lama kembali mengetuk hati warga Jawa Barat: usulan mengganti nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda.

Bagi sebagian orang, ini sekadar perubahan administrasi. Namun bagi banyak warga, terutama yang tumbuh dengan budaya Sunda sebagai napas kehidupan sehari-hari, wacana ini terasa lebih dalam—seperti menyentuh kembali pertanyaan lama tentang siapa sebenarnya kita.

Istilah Provinsi Sunda kini kembali mencuat setelah dibahas dalam ruang resmi DPRD Jawa Barat dan menguat dalam diskursus publik. Di balik itu, tersimpan perasaan yang tidak sederhana: kebanggaan, kerinduan, sekaligus kegelisahan terhadap identitas budaya yang perlahan terasa memudar di tanahnya sendiri.

Ketika Nama Bukan Sekadar Peta, Tapi Harga Diri Budaya

Bagi masyarakat Sunda, nama bukan sekadar penanda wilayah di atas peta. Ia adalah warisan, sejarah, dan harga diri yang hidup dalam bahasa, adat, dan cara pandang sehari-hari.

Istilah Sunda bukan sesuatu yang baru. Ia sudah ada jauh sebelum provinsi ini terbentuk dalam sistem administrasi modern. Namun seiring waktu, nama itu perlahan tergeser menjadi sekadar identitas budaya, bukan identitas wilayah resmi.

Karena itu, munculnya gagasan Provinsi Sunda seakan membuka kembali ruang nostalgia sekaligus pertanyaan emosional di tengah masyarakat:

Apakah kita masih cukup bangga dengan identitas kita sendiri?

Di berbagai percakapan warga, isu ini tidak lagi sekadar soal administrasi negara, tetapi soal rasa memiliki terhadap tanah kelahiran.

Provinsi Sunda dan Kerinduan Akan Jati Diri yang Utuh

Di ruang akademik, sebagian kalangan menilai usulan ini sah untuk dikaji selama mengikuti mekanisme hukum. Namun di ruang sosial, pembicaraan ini berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam—tentang kerinduan terhadap identitas yang utuh.

Sebagian warga merasa bahwa modernisasi telah membuat simbol-simbol budaya Sunda semakin jauh dari ruang publik. Bahasa mulai terpinggirkan, nilai-nilai lokal semakin jarang terdengar, dan nama “Jawa Barat” dianggap tidak lagi cukup merepresentasikan kekuatan budaya yang hidup di dalamnya.

Di sisi lain, ada pula kekhawatiran bahwa perubahan nama tidak otomatis menjawab persoalan kesejahteraan dan ketimpangan yang masih dirasakan masyarakat di berbagai daerah.

Namun terlepas dari pro dan kontra, satu hal yang sama-sama terasa adalah: isu ini menyentuh emosi kolektif warga Sunda.

Di Antara Kebanggaan, Luka, dan Harapan

Wacana Provinsi Sunda pada akhirnya bukan hanya soal nama baru atau lama. Ia telah berubah menjadi cermin besar yang memantulkan kembali hubungan antara masyarakat dan identitas budayanya sendiri.

Ada kebanggaan yang ingin dihidupkan kembali. Ada luka kecil yang selama ini mungkin tidak disadari—bahwa sebagian orang merasa identitasnya tidak lagi disebut secara utuh dalam nama wilayahnya.

Namun di saat yang sama, ada harapan agar diskusi ini tidak berhenti pada perdebatan simbolik semata, tetapi menjadi ruang refleksi tentang bagaimana budaya Sunda bisa tetap hidup, bukan hanya dalam nama, tetapi juga dalam kebijakan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari.

Karena pada akhirnya, bagi banyak warga Jawa Barat, Sunda bukan sekadar nama. Ia adalah rasa, akar, dan cara mereka memahami dunia.(redaksi/doel)

ADS BANNER
728 x 90

Kang Doel

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di lintasjabar.id

Berita SebelumnyaKawanan Monyet Liar Serang Lahan Warga Ciamis, Petani Rugi Besar Berita SelanjutnyaDari Jawa Barat ke Provinsi Sunda, Kini Sejarah Seolah Memanggil Pulang
Iklan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *