Lewati ke konten
Daerah

Tangkapan Melimpah, Tapi Tak Ada yang Beli: Drama Udang Korosok Pangandaran

Redaktur Lintas JabarSeptember 20, 20263 menit baca92 dilihat
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA PANGANDARAN – Bagi nelayan, hasil tangkapan melimpah seharusnya menjadi kabar baik. Namun kondisi berbeda justru terjadi di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pangandaran.

Pada Sabtu (19/9/2026), tumpukan udang korosok hasil tangkapan nelayan terlihat belum terserap pembeli. Persoalan ini membuat hasil melaut yang semestinya menjadi sumber penghasilan justru berpotensi menjadi beban ketika tidak segera terjual.

Situasi tersebut mendapat perhatian Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Minasari Pangandaran, H. Jeje Wiradinata, saat meninjau aktivitas pelelangan ikan.

Jeje mengaku prihatin melihat kondisi tersebut. Menurutnya, persoalan yang dihadapi nelayan bukan hanya soal banyak atau sedikitnya hasil tangkapan, tetapi juga bagaimana komoditas tersebut bisa terserap pasar dengan harga yang layak.

“Coba bayangkan, ini enggak ada yang beli, enggak laku. Sedih saya,” ujar Jeje saat melihat tumpukan udang korosok di TPI.

Ketika laut memberi banyak, pasar justru sepi

Persoalan ternyata tidak hanya terjadi pada udang korosok.

Jeje menyebut sejumlah hasil laut lainnya, termasuk ikan pukudian, juga mengalami ketidakstabilan harga. Kondisi itu membuat nelayan harus menghadapi persoalan lain setelah pulang melaut: mencari pembeli dengan harga yang masih bisa diandalkan.

Sementara itu, ikan layur disebut memiliki kondisi pasar yang relatif berbeda karena harganya masih lebih stabil dan tetap diminati pembeli.

Situasi tersebut memperlihatkan persoalan klasik di sektor perikanan. Hasil tangkapan yang banyak belum otomatis berarti pendapatan nelayan ikut meningkat.

Justru ketika pasokan melimpah sementara permintaan atau pembeli tidak seimbang, harga bisa tertekan. Nelayan pun berada dalam posisi sulit karena hasil tangkapan merupakan komoditas yang tidak bisa disimpan terlalu lama tanpa penanganan yang memadai.

KUD Minasari akhirnya borong udang yang tak laku

Melihat kondisi tersebut, KUD Minasari mengambil langkah dengan membeli udang korosok yang tidak terserap pembeli.

Namun udang tersebut tidak kemudian dijual kembali. Jeje mengatakan hasil tangkapan itu akan dibagikan kepada masyarakat secara gratis.

Langkah tersebut menjadi cara KUD Minasari membantu nelayan agar hasil tangkapan yang sudah dibawa ke darat tidak berakhir sia-sia.

Bagi nelayan, setidaknya ada hasil yang tetap bisa diperoleh dari tangkapan mereka ketika pasar sedang tidak mampu menyerap seluruh pasokan.

Bukan cuma diborong, KUD cari jalan keluar

Membeli hasil tangkapan yang tidak laku disebut bukan menjadi solusi jangka panjang.

Jeje mengatakan KUD Minasari masih memantau transaksi dan perkembangan harga di TPI. Ia juga menyiapkan sejumlah langkah untuk memperbaiki persoalan perdagangan hasil laut di Pangandaran.

Langkah tersebut ditargetkan mulai berjalan dalam beberapa bulan mendatang.

Artinya, persoalan udang korosok ini tidak berhenti pada aksi borong satu kali. Ada persoalan yang lebih besar di belakangnya, yakni bagaimana menciptakan mekanisme pasar yang membuat hasil tangkapan nelayan tetap memiliki pembeli dan harga yang lebih baik.

Sebab bagi nelayan Pangandaran, persoalannya bukan sekadar apakah laut sedang banyak memberi hasil.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: ketika hasil tangkapan melimpah, apakah pasar juga siap menerimanya? (red)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaKaki Sampai Robek, Sandi Tempuh 95 Hari Demi Bertemu KDM Berita SelanjutnyaUsai Demo Driver Maxim Tasikmalaya, Lalu Apa?
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza