Lewati ke konten
Nasional

5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau: Mereka Pergi Memburu Berita, Kini Ditunggu Kepulangannya

Redaktur Lintas JabarSeptember 13, 20266 menit baca130 dilihat
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA NASIONAL β€” Senin, 7 September 2026 seharusnya menjadi hari kerja biasa bagi lima jurnalis yang berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang. Mereka berangkat ke kawasan Gunung Anak Krakatau. Tujuannya satu: mengabadikan aktivitas gunung api yang saat itu tengah menjadi perhatian publik. Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi kabar kehilangan, 5 Jurnalis hilang beserta 3 awak kapal yang membawa rombongan.

Lima jurnalis bersama tiga kru kapal hingga kini belum ditemukan setelah komunikasi dengan rombongan terputus.

Mereka adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency dan Donal Husni, jurnalis lepas.

Tiga orang lainnya merupakan kru kapal, yakni Warta sebagai kapten, Sukarman sebagai ABK dan Heriyanto sebagai pemandu.

Delapan orang itu pergi untuk membawa pulang gambar dan informasi dari kawasan Anak Krakatau.

Kini justru keluarga dan rekan-rekan mereka yang menunggu satu kabar: kapan mereka kembali.

Perjalanan yang terhenti di tengah Selat Sunda

Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, sekitar pukul 14.00 WIB.

Sekitar 42 menit kemudian, komunikasi masih berjalan.

Bagus sempat mengirimkan informasi lokasi kepada rekannya yang berada di Lampung. Saat itu, belum ada tanda bahwa perjalanan mereka akan berakhir menjadi operasi pencarian besar-besaran.

Komunikasi kemudian terputus sekitar pukul 15.04 WIB.

Namun, sekitar pukul 18.13 WIB, masih ada tanda bahwa rombongan telah mencapai kawasan Gunung Anak Krakatau. Heriyanto, pemandu perjalanan, sempat mengirimkan foto kepada istrinya.

Setelah itu, tidak ada lagi kabar.

Tim SAR kemudian bergerak mencari mereka melalui jalur laut dan udara.

Pencarian diperluas dari kawasan Anak Krakatau, Pulau Rakata dan Pulau Panjang hingga wilayah sekitar Pulau Sebesi dan Legundi.

Pada hari keenam, pencarian kembali diperluas setelah tim menemukan sejumlah benda terapung di sekitar Pulau Sebesi. Namun, benda-benda tersebut belum dapat dipastikan berkaitan dengan speedboat yang membawa delapan orang tersebut.

Bagus, fotografer yang terbiasa mengejar cerita dari lapangan

Di antara lima jurnalis tersebut, ada M. Bagus Khoirunnas.

Bagus merupakan pewarta foto ANTARA Biro Banten dan telah menjalani profesi jurnalistik sejak 2018.

Bagi seorang fotografer berita, lokasi kejadian bukan sekadar tempat untuk didatangi. Di sanalah cerita ditemukan.

Ayahnya, Mansyur Suryana, menggambarkan Bagus sebagai sosok pekerja keras dan pemberani.

Bagus disebut terbiasa turun langsung ke lokasi peristiwa, termasuk ketika meliput bencana.

Ia pernah mengabadikan berbagai persoalan sosial, pendidikan, infrastruktur hingga peristiwa kebencanaan.

Salah satu pengalaman penting dalam perjalanan jurnalistiknya adalah ketika meliput tsunami Banten 2018.

Bagi keluarga, pekerjaan Bagus bukan hanya tentang mencari foto. Hasil jepretannya sering digunakan untuk mengangkat persoalan masyarakat agar mendapatkan perhatian publik dan pemerintah.

Ironisnya, kali ini Bagus berangkat untuk memotret aktivitas Anak Krakatau, tetapi justru menjadi bagian dari peristiwa yang membuat banyak orang menunggu kabar tentang dirinya.

Ari Basuki, puluhan tahun bicara melalui kamera

Nama berikutnya adalah Ari Basuki.

Ia bukan fotografer yang baru mengenal medan.

Ari merupakan pewarta foto senior yang telah puluhan tahun bekerja di dunia jurnalistik.

Lahir di Bogor pada 11 Maret 1974, Ari menempuh pendidikan Ilmu Antropologi di Universitas Udayana.

Karier fotografinya dimulai pada 1998.

Sebelum bergabung dengan Merdeka.com pada 2012, Ari pernah bekerja di sejumlah media, termasuk Nusa Tenggara Newspaper, Bali Echo dan Tempo.

Pengalamannya membawanya ke berbagai lokasi dengan tingkat risiko tinggi.

Ia pernah meliput operasi militer di Aceh, tsunami Aceh 2004, tsunami Pangandaran 2006, gempa Yogyakarta, konflik Poso hingga perang saudara di Libya.

Namun, kekuatan Ari bukan hanya pada panjangnya pengalaman.

Karyanya juga mendapatkan pengakuan internasional.

Pada 2024, foto berjudul “Pollution in the Cileungsi River” mendapatkan honorable mention dalam World Press Photo untuk kawasan Asia Tenggara dan Oseania.

Karya tersebut memperlihatkan persoalan lingkungan di Sungai Cileungsi, Bekasi.

Penghargaan lain juga pernah diraihnya, termasuk Anugerah Adiwarta, Mochtar Lubis Award dan sejumlah penghargaan fotografi lainnya.

Puluhan tahun bekerja di lapangan membuat Ari terbiasa menghadapi situasi sulit.

Kini, rekan-rekannya justru berharap pengalaman panjang itu menjadi modal untuk melewati situasi paling sulit yang sedang dihadapinya.

Yudistiro, fotografer yang menyimpan pesan tentang keselamatan

Yudistiro Pranoto atau Yudis merupakan jurnalis iNews yang juga dikenal sebagai fotografer.

Hampir dua dekade hidupnya dihabiskan dalam dunia jurnalistik.

Selama sekitar 19 tahun bekerja sebagai wartawan, Yudis banyak merekam peristiwa penting melalui kamera.

Bagi Yudis, sebuah foto bukan sekadar gambar.

Ada momen dan cerita yang harus disampaikan kepada publik.

Di luar pekerjaan, Yudis dikenal menyukai aktivitas alam terbuka. Ia memiliki hobi memancing di laut dan berolahraga bersama keluarga maupun rekan-rekannya.

Ada satu pesan Yudis yang kembali menjadi perhatian setelah kabar hilang kontak tersebut.

Pesan itu berkaitan dengan keselamatan dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Kalimat tersebut terasa berbeda ketika kini dibaca kembali setelah Yudis sendiri hilang saat menjalankan tugas di lapangan.

Ia berangkat ke Anak Krakatau bersama empat jurnalis lainnya.

Hingga kini, keluarga dan rekan-rekannya masih menunggu kepulangannya.

Firdaus Wajidi, perjalanan yang belum sempat selesai

Firdaus Wajidi merupakan jurnalis visual yang pernah bekerja di Anadolu Agency.

Ia memiliki pengalaman sebagai visual publisher dan camera person, pekerjaan yang erat dengan produksi serta dokumentasi visual pemberitaan.

Firdaus tercatat pernah bekerja penuh waktu di Anadolu Agency sejak Maret 2018 hingga Agustus 2023 di Jakarta.

Sebelum perjalanan menuju Anak Krakatau, Firdaus berada di kawasan Carita untuk melakukan wawancara dengan Gubernur Banten.

Setelah menyelesaikan agenda tersebut, ia memberi tahu keluarganya mengenai rencana menuju kawasan gunung api.

Istrinya, Astrid, sempat mengingatkan Firdaus mengenai risiko perjalanan.

Firdaus kemudian disebut akan mencari informasi terlebih dahulu mengenai kondisi keamanan sebelum menyeberang.

Itulah komunikasi terakhir yang diketahui keluarga.

Pesan terakhir Astrid kepada Firdaus bahkan masih belum dibaca.

Kini, komunikasi yang biasanya menjadi bagian kecil dari rutinitas keluarga berubah menjadi sesuatu yang sangat ditunggu.

Donal Husni, jurnalis lepas yang ikut dalam perjalanan

Nama kelima adalah Donal Husni.

Berbeda dari empat rekannya yang bekerja untuk media tertentu, Donal merupakan jurnalis lepas.

Ia tinggal di kawasan Ciater Permai, Serpong, Tangerang Selatan.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Donal dikenal dengan panggilan Mas Don.

Tetangga menggambarkannya sebagai sosok yang mudah bergaul.

Sebelum berangkat menuju kawasan Anak Krakatau, Donal sempat berpamitan kepada tetangga yang rumahnya berada tepat di depan tempat tinggalnya.

Tidak ada yang menyangka bahwa perjalanan tersebut kemudian membuat namanya masuk dalam daftar orang yang masih dicari tim SAR.

Tiga kru kapal juga masih menjadi bagian dari pencarian

Operasi pencarian bukan hanya untuk lima jurnalis.

Tiga orang yang membawa dan mendampingi rombongan juga belum ditemukan.

Mereka adalah Warta, kapten kapal; Sukarman, ABK; serta Heriyanto, pemandu.

Heriyanto bahkan masih sempat mengirimkan foto dari sekitar kawasan Anak Krakatau pada Senin sore.

Setelah itu, komunikasi berhenti.

Kedelapan orang tersebut kini menjadi satu kesatuan dalam operasi SAR.

Pencarian terus bergerak, keluarga tetap menunggu

Tim SAR gabungan terus memperluas wilayah pencarian.

Kapal-kapal dari Basarnas, TNI AL, Polri dan unsur lainnya dikerahkan untuk menyisir perairan Selat Sunda.

Pencarian udara juga dilakukan ketika kondisi memungkinkan.

Di sisi lain, komunitas pers terus memberikan dukungan kepada keluarga.

Pewarta Foto Indonesia bahkan menggelar doa bersama dan melakukan pendampingan terhadap keluarga lima jurnalis yang hilang, termasuk membantu kebutuhan logistik serta pembaruan informasi dari posko pencarian.

Pemerintah juga meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi spekulatif yang dapat memperberat situasi keluarga.

Kementerian Komunikasi dan Digital menyatakan dukungan terhadap pencarian, termasuk penguatan kualitas telekomunikasi di sekitar lokasi.

Mereka berangkat membawa kamera, bukan untuk menjadi berita

Lima jurnalis itu berangkat dengan tugas yang sama seperti hari-hari sebelumnya: mendokumentasikan sebuah peristiwa agar masyarakat bisa mengetahui apa yang sedang terjadi.

Ada yang sudah puluhan tahun bekerja di lapangan.

Ada yang terbiasa meliput bencana.

Ada pula yang bekerja sebagai jurnalis lepas.

Mereka memiliki latar belakang berbeda, tetapi perjalanan mereka kali ini mempertemukan semuanya di satu speedboat menuju Anak Krakatau.

Kini kamera mereka tak lagi menjadi pusat perhatian.

Nama-nama mereka yang menjadi perhatian.

Di rumah, keluarga masih menunggu.

Di posko, tim SAR masih mencari.

Di antara rekan seprofesi, doa terus dipanjatkan.

Dan di tengah luasnya Selat Sunda, satu harapan masih sama: lima jurnalis dan tiga kru kapal itu segera ditemukan dalam keadaan selamat. (red)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaKDM Buka-bukaan Soal β€œDefisit” Rp5,7 Triliun Jabar: Bukan Uang Hilang, Ini Penyebabnya Berita SelanjutnyaIjazah Anak Tertahan karena Tunggakan, Warga Depok sampai Cari Bantuan ke Lamongan
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza