lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA. Minggu pagi itu, Shaun the Sheep tidak sedang berada di layar televisi.
Ia berjalan di antara warga.
Tak jauh darinya, Maleficent muncul dengan penampilan khas. Tokoh pewayangan, Noni Belanda, karakter fantasi hingga kreasi biota laut ikut meramaikan Karnaval HUT RI ke 81 di Perum BMM Tasikmalaya, Minggu (30/8/2026).
Di balik warna-warni kostum itu, semangat BMM Ngahiji mempertemukan warga dari dua wilayah administratif dalam satu kemeriahan.
Sejak pukul 06.00 WIB, warga mulai memenuhi lapangan voli Perum Bumi Mutiara Mandiri (BMM), Kota Tasikmalaya.
Namun, ada yang berbeda dari perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia pagi itu.
Mereka tidak datang sekadar untuk menonton.
Anak-anak, orang tua hingga keluarga-keluarga tampil dengan kostum pilihannya. Ada yang lucu, menyeramkan, penuh warna, bernuansa budaya, hingga membawa imajinasi masa lampau melalui busana bergaya Noni Belanda.
Warga BMM benar-benar datang dengan totalitas.
Anak-anak berjalan percaya diri memamerkan karakter yang mereka kenakan. Orang tua pun tak mau kalah. Mereka ikut berdandan, tertawa, berfoto dan larut bersama keramaian.
Kostumnya berbeda-beda.
Tetapi kegembiraan mereka sama.
Senam zumba menjadi pembuka sebelum warga mengikuti gerak jalan santai berkonsep karnaval. Jalan lingkungan yang biasanya menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, pagi itu berubah menjadi ruang ekspresi.
Langkah kaki bergerak.
Kostum-kostum ikut bergoyang.
Tawa bersahutan.
Kamera telepon genggam terus terangkat, mencoba menyimpan momen yang mungkin hanya datang sekali dalam setahun.
Pagi itu, warga seolah sepakat meninggalkan rutinitas untuk beberapa jam.
Dan hampir semua ingin menjadi bagian dari cerita.
Perum BMM Ngahiji, Berbeda Wilayah tetapi Berjalan Bersama

Di balik warna-warni kostum, karnaval itu menyimpan cerita yang lebih dalam.
Perum Bumi Mutiara Mandiri memiliki keunikan. Lingkungan perumahan tersebut berada dalam dua wilayah administratif.
Sebagian warga berada di RW 017 Kelurahan Gunung Tandala, Kecamatan Kawalu, sementara sebagian lainnya berada di RW 013 Kelurahan Mulyasari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya.
Dua kecamatan.
Dua wilayah administratif.
Tetapi mereka tinggal dalam satu lingkungan.
Itulah mengapa tema BMM Ngahiji menjadi lebih dari sekadar slogan yang menyertai perayaan kemerdekaan.
Ada pesan yang hendak dibawa: batas administratif tidak harus menjadi batas kebersamaan.
Ketua Pelaksana Sandi Nugraha melihat antusiasme masyarakat sebagai salah satu hal paling membahagiakan dalam kegiatan tersebut.
“Kami sangat bersyukur karena warga begitu antusias. Mereka bukan hanya hadir, tetapi benar-benar ikut terlibat. Kostum yang dipakai juga menunjukkan kreativitas dan totalitas warga dalam memeriahkan HUT RI,” ujar Sandi.
Totalitas itu terlihat di sepanjang kegiatan.
Ada warga yang menjelma menjadi karakter film dan animasi. Ada yang memilih tokoh pewayangan. Ada yang membawa kreasi biota laut. Ada pula yang tampil anggun dalam kostum Noni Belanda, menghadirkan sentuhan tempo dulu di antara warna-warni karakter masa kini.
Masing-masing membawa kreativitasnya sendiri.
Koordinator Acara Tamansari, Ersya atau Bebeps, melihat keseriusan warga menyiapkan kostum sebagai tanda bahwa masyarakat merasa memiliki kegiatan tersebut.
“Ketika warga mau ikut menyiapkan kostum dan tampil bersama, berarti mereka merasa ini acara kita. Bukan acara kelompok tertentu atau wilayah tertentu,” tuturnya.
Karnaval kemudian seperti menemukan maknanya sendiri.
Kostum boleh berbeda.
Karakter boleh berbeda.
Bahkan kecamatan tempat mereka tercatat secara administratif pun boleh berbeda.
Tetapi pagi itu, mereka memilih berada dalam barisan yang sama.
Koordinator Acara Kawalu Yosep Rangga Gumilar menyebut kebersamaan tersebut sebagai gambaran nyata dari semangat Ngahiji.
“Kita boleh berbeda wilayah administratif, tetapi ketika berada di lingkungan BMM, kita tidak ingin berjalan masing-masing. Semua ikut mengambil bagian. Itulah yang ingin kami tunjukkan melalui kegiatan ini,” kata Yosep.
Maka, gerak jalan pagi itu tak lagi sekadar perjalanan dari titik awal menuju titik akhir.
Setiap langkah seperti membawa pesan sederhana: BMM tidak ingin berjalan sendiri-sendiri.
Dari Noni Belanda hingga Shaun the Sheep, Semua dalam Satu Barisan

Selepas senam zumba, barisan mulai bergerak.
Di sinilah Karnaval HUT RI Perum BMM menemukan wajahnya yang paling berwarna.
Shaun the Sheep berjalan di antara kerumunan. Maleficent ikut menyusuri jalan lingkungan. Tokoh pewayangan berada dalam barisan bersama karakter fantasi. Kreasi bertema biota laut turut mencuri perhatian.
Di antara mereka, Noni Belanda ikut melangkah.
Busana bernuansa tempo dulu itu menjadi pemandangan kontras di tengah karakter-karakter populer dan kreasi fantasi yang memenuhi jalan.
Masa lalu, budaya, fantasi dan karakter masa kini seperti dipertemukan dalam satu pagi.
Tak ada keharusan untuk tampil seragam.
Justru perbedaan itulah yang membuat karnaval semakin hidup.
Selama beberapa jam, warga bebas menjadi siapa saja.
Seorang anak bisa menjadi karakter yang selama ini hanya dilihatnya di layar. Orang tua bisa meninggalkan keseriusan sehari-hari dan ikut berdandan. Warga lainnya membawa sentuhan budaya atau masa lampau melalui kostum pilihannya.
Lalu mereka tertawa.
Berfoto.
Dan berjalan bersama.
Panitia turut menyiapkan beragam hadiah, mulai dari mesin cuci dua tabung, mixer, blender, dispenser, peralatan dapur, sembako, speaker aktif hingga hadiah utama berupa satu unit laptop.
Hadir pula Dodo Rosada, S.H., M.H., anggota DPRD Kota Tasikmalaya dari PDI Perjuangan, sebagai tamu dalam kegiatan tersebut.
Sementara Yopha Azizulindar bersama jajaran panitia turut mendukung jalannya rangkaian kegiatan.
Namun ketika karnaval berakhir, hadiah bukan satu-satunya hal yang bisa dibawa pulang.
Ada sesuatu yang tidak dapat dimasukkan ke dalam kardus.
Rasa memiliki.
Rasa bahwa sebuah lingkungan bukan hanya deretan rumah.
Bahwa tetangga bukan sekadar orang yang tinggal di balik pagar sebelah.
Dan bahwa garis yang memisahkan Kecamatan Kawalu dengan Kecamatan Tamansari tidak harus ikut memisahkan orang-orang yang menjalani kehidupan dalam lingkungan yang sama.
Kreativitas dan Kebersamaan Warga BMM Tuai Apresiasi

Antusiasme dan totalitas warga dalam memeriahkan Karnaval HUT RI Perum BMM turut mendapat apresiasi dari Plt. Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Porabudpar) Kota Tasikmalaya, Agus Fauzi, S.Pt., M.Si.
Saat diwawancarai dalam agenda terpisah, Agus menilai keunikan kegiatan tersebut tidak hanya terlihat dari beragam kostum yang dikenakan warga.
Di balik Shaun the Sheep, Maleficent, tokoh pewayangan, Noni Belanda, karakter fantasi hingga kreasi biota laut, terdapat antusiasme dan kreativitas masyarakat yang membuat perayaan kemerdekaan semakin hidup.
Keterlibatan warga lintas usia juga mendapat perhatiannya. Anak-anak hingga orang tua tidak sekadar datang menyaksikan, tetapi ikut berdandan, berjalan bersama dan menjadi bagian dari kemeriahan.
“Saya sangat mengapresiasi antusiasme warga Perum Bumi Mutiara Mandiri. Keunikannya terlihat dari kreativitas kostum yang ditampilkan dan keterlibatan warga dari berbagai usia. Namun yang lebih penting, di balik kemeriahan itu ada semangat kebersamaan yang sangat kuat,” ujar Agus saat diwawancarai dalam agenda terpisah.
Bagi Agus, kebersamaan tersebut semakin menarik karena Perum BMM Tasikmalaya dihuni warga yang secara administratif berada di dua kecamatan berbeda.
Warga RW 017 Kelurahan Gunung Tandala, Kecamatan Kawalu, dan RW 013 Kelurahan Mulyasari, Kecamatan Tamansari, mampu melebur dalam satu kegiatan tanpa menjadikan batas administratif sebagai sekat.
Semangat BMM Ngahiji pun tidak berhenti sebagai slogan.
Pagi itu, semangat tersebut terlihat ketika warga dari dua wilayah turun ke jalan, mengenakan kostum berbeda dan memilih berjalan dalam satu barisan.
Agus juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Pelaksana Sandi Nugraha, Koordinator Acara Kawalu Yosep Rangga Gumilar, Koordinator Acara Tamansari Ersya atau Bebeps, beserta seluruh jajaran panitia yang telah bekerja menghadirkan ruang kebersamaan bagi masyarakat.
Apresiasi yang sama ditujukan kepada warga RW 017 Gunung Tandala dan RW 013 Mulyasari serta seluruh pihak yang turut memberikan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan.
“Apresiasi patut diberikan kepada panitia, koordinator Kawalu dan Tamansari, warga RW 017 Gunung Tandala dan RW 013 Mulyasari, serta seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Kolaborasi seperti inilah yang perlu terus dijaga karena sebuah kegiatan akan terasa hidup ketika masyarakat ikut merasa memiliki dan mengambil bagian di dalamnya,” katanya.
Ia berharap semangat kebersamaan tersebut tidak ikut berakhir ketika kostum dilepas dan perayaan kemerdekaan selesai.
“Mudah-mudahan kebersamaan ini tidak hanya hadir pada momentum HUT RI. Semangat gotong royong, kreativitas dan kekompakan warga harus terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Agus.
Pagi semakin beranjak.
Kelak kostum Shaun the Sheep akan dilepas.
Maleficent kembali menjadi warga biasa.
Noni Belanda berganti pakaian.
Tokoh pewayangan, karakter fantasi dan kreasi lainnya kembali disimpan.
Jalan yang pagi itu penuh warna akan kembali menjadi jalan lingkungan seperti hari-hari lainnya.
Namun ada satu hal yang diharapkan tetap tinggal setelah seluruh kostum disimpan.
Ngahiji.
Sebab pagi itu, warga Perum Bumi Mutiara Mandiri memperlihatkan bahwa persatuan tidak selalu harus diceritakan melalui pidato panjang.
Kadang ia cukup terlihat ketika orang-orang yang berbeda bersedia keluar dari rumah, mengenakan kostum pilihannya, saling tertawa, kemudian berjalan dalam satu barisan.
Kostum mereka berbeda. Karakter mereka berbeda. Wilayah administratif mereka pun berbeda. Tetapi pagi itu, langkah mereka menuju arah yang sama.
Perum BMM Ngahiji. (DH)
.

