Lewati ke konten
Selasa, 03 November 2026
Daerah

Retribusi Wisata Pangandaran Tembus Rp46,56 Miliar, Lampaui Setahun Penuh 2025

Redaktur Lintas JabarAgustus 30, 20263 menit baca108 dilihat
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA PANGANDARAN – Sektor pariwisata kembali menunjukkan tajinya sebagai salah satu mesin pendapatan Kabupaten Pangandaran. Hingga 13 Agustus 2026, retribusi pariwisata yang masuk telah mencapai Rp46,56 miliar.

Yang membuat angka tersebut menarik, penerimaan itu sudah melampaui total retribusi pariwisata sepanjang 2025 yang tercatat Rp45,89 miliar.

Artinya, sebelum kalender 2026 genap delapan bulan, sektor pariwisata Pangandaran sudah menghasilkan penerimaan lebih besar dibandingkan capaian selama satu tahun penuh sebelumnya.

Data tersebut disampaikan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran dan dipublikasikan melalui dokumentasi ANTARA pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Wisatawan Tembus 2,66 Juta Orang

Lonjakan penerimaan tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya jumlah wisatawan.

Hingga periode yang sama, jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Pangandaran mencapai 2.664.207 orang.

Angka itu meningkat sekitar 2,98 persen dibandingkan jumlah kunjungan sepanjang 2025 yang tercatat 2.587.229 wisatawan.

Kenaikan jumlah wisatawan memang tidak terlalu besar secara persentase.

Namun jika dilihat dari penerimaan retribusi, dampaknya cukup signifikan.

Ada lebih banyak orang yang datang, lebih banyak aktivitas wisata yang bergerak, dan pada akhirnya lebih besar pula potensi penerimaan daerah yang berhasil dihimpun.

Pantai Masih Jadi Magnet Utama

Pangandaran memiliki modal besar dari sektor wisata alam.

Garis pantai, kawasan wisata bahari hingga destinasi seperti Batukaras menjadi magnet yang terus menarik wisatawan.

Aktivitas wisatawan di Pantai Batukaras, misalnya, menjadi salah satu gambaran geliat pariwisata Pangandaran pada Agustus 2026.

Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pantai.

Mereka juga menggerakkan rantai ekonomi yang lebih panjang, mulai dari penginapan, restoran, transportasi, pedagang, pelaku usaha wisata hingga berbagai jasa yang tumbuh di sekitar destinasi.

Karena itu, angka Rp46,56 miliar tidak semestinya hanya dibaca sebagai angka penerimaan pemerintah.

Di baliknya terdapat aktivitas ekonomi masyarakat yang ikut bergerak.

Tapi Ada Pertanyaan Setelah Rp46,56 Miliar

Capaian penerimaan tentu layak diapresiasi.

Namun justru setelah angka Rp46,56 miliar tercapai, pertanyaan berikutnya menjadi lebih penting.

Ke mana uang tersebut akan kembali?

Sebab wisatawan datang bukan hanya untuk menyumbang retribusi kepada daerah.

Mereka membutuhkan jalan yang nyaman, kawasan wisata yang bersih, fasilitas umum yang memadai, keamanan, pelayanan, hingga lingkungan destinasi yang tetap terjaga.

Dengan jumlah kunjungan yang sudah mencapai lebih dari 2,6 juta orang, tekanan terhadap infrastruktur dan lingkungan tentu ikut meningkat.

Semakin ramai sebuah destinasi, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan kualitas pelayanan tidak tertinggal dari pertumbuhan kunjungan.

Jangan Sampai Wisata Ramai, Fasilitas Jalan di Tempat

Pangandaran kini menghadapi tantangan yang berbeda.

Persoalannya bukan lagi bagaimana membuat wisatawan datang.

Data 2026 menunjukkan wisatawan tetap berdatangan dan penerimaan daerah bahkan sudah melewati capaian tahun sebelumnya.

Tantangannya adalah bagaimana momentum tersebut dipertahankan sekaligus dikonversi menjadi manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Retribusi pariwisata harus mampu menjadi bagian dari siklus pembangunan.

Wisatawan datang, ekonomi masyarakat bergerak, pendapatan daerah meningkat, kemudian pendapatan tersebut kembali digunakan untuk memperbaiki fasilitas dan kualitas destinasi.

Jika siklus itu berjalan, pariwisata tidak hanya menjadi tempat orang berlibur.

Ia juga menjadi sumber pembiayaan pembangunan daerah.

Target Berikutnya Bukan Sekadar Angka

Capaian Rp46,56 miliar sebelum pertengahan Agustus memberikan sinyal bahwa ruang pertumbuhan pariwisata Pangandaran masih terbuka.

Dengan periode 2026 yang masih menyisakan beberapa bulan, penerimaan tersebut berpeluang terus bertambah.

Namun pemerintah daerah tentu perlu menjaga keseimbangan.

Jangan sampai mengejar jumlah kunjungan justru mengorbankan kenyamanan wisatawan, kelestarian lingkungan atau kualitas destinasi.

Sebab wisatawan bisa datang sekali karena penasaran.

Tetapi mereka akan kembali jika mendapatkan pengalaman yang baik.

Pada akhirnya, keberhasilan pariwisata Pangandaran bukan hanya diukur dari berapa rupiah yang masuk ke kas daerah.

Lebih penting lagi, seberapa besar uang tersebut mampu kembali menjadi manfaat bagi masyarakat dan membuat Pangandaran semakin layak dikunjungi.

Untuk sementara, satu fakta sudah terpampang jelas.

Belum genap satu tahun berjalan, retribusi wisata Pangandaran sudah mengalahkan capaian sepanjang 2025.

Mesin pariwisata sedang panas.

Tinggal bagaimana pemerintah memastikan panasnya mesin tersebut tidak hanya menghasilkan angka di kas daerah, tetapi juga terasa sampai ke masyarakat Pangandaran. (red)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita Sebelumnya220 Becak Listrik Tiba, Mang Becak Lansia Tasikmalaya Jadi Prioritas Berita SelanjutnyaMilad PIJ ke-5, Srikandi Jabar Siapkan Paduan Suara di Tasikmalaya
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza