Lewati ke konten
Olahraga

Dari Psikolog ke Pahlawan Dunia, Kebangkitan Ferran Torres

Redaktur Lintas JabarJuli 20, 20263 menit baca53 dilihat
ferran torres siapa ya - berita piala dunia 2026
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA PIALA DUNIA 2026. Ferran Torres menjadi pahlawan Spanyol setelah mencetak gol kemenangan atas Argentina pada final Piala Dunia 2026, Minggu, 19 Juli 2026. Masuk sebagai pemain pengganti, penyerang Barcelona itu menjebol gawang Emiliano Martínez pada menit ke-106 dan memastikan La Roja menang 1-0 setelah perpanjangan waktu.

Gol tersebut mengantarkan Spanyol meraih gelar Piala Dunia kedua sepanjang sejarah. Namun, keberhasilan Ferran tidak hanya bercerita tentang satu penyelesaian kaki kiri di New York New Jersey Stadium. Momen itu menjadi puncak kebangkitannya setelah pernah mengalami tekanan mental berat dan meminta bantuan psikolog pada awal kariernya bersama Barcelona.

Ferran Torres Pernah Terjebak Tekanan Mental

Ferran pindah dari Manchester City ke Barcelona pada Desember 2021 dengan nilai transfer yang dilaporkan mencapai €55 juta, belum termasuk bonus. Harga tinggi, kondisi klub yang sedang berbenah, dan tuntutan mencetak gol segera menempatkannya di bawah sorotan besar.

Ia sebenarnya cepat memperoleh kesempatan bermain. Ferran dapat ditempatkan sebagai sayap kanan, sayap kiri, maupun penyerang tengah. Namun, kegagalan menyelesaikan peluang dan performa yang tidak konsisten membuat kritik terus berdatangan.

Pada Februari 2023, Ferran secara terbuka mengungkapkan bahwa dirinya menemui psikolog ketika merasa berada dalam situasi mental yang sangat buruk. Ia terlalu terobsesi mencetak gol dan mulai mengukur seluruh penampilannya hanya berdasarkan satu angka tersebut.

Pola pikir itu justru membuat permainannya semakin berat. Ferran sulit menikmati pertandingan, kehilangan kepercayaan diri, dan terus memikirkan kesalahan yang dilakukan di lapangan.

Pendampingan psikolog membantunya memisahkan performa sepak bola dari nilai dirinya sebagai manusia. Ia belajar mengelola tekanan, menerima kesalahan, serta kembali memusatkan perhatian pada kerja tim dan proses permainan.

Dari fase itu pula muncul identitas “El Tiburón” atau Si Hiu. Julukan tersebut menjadi simbol mentalitas Ferran untuk terus bergerak dan tidak berhenti ketika menghadapi kegagalan.

Evolusi Si Hiu di Barcelona

Kebangkitan Ferran berlangsung secara bertahap. Ia tidak selalu menjadi pilihan pertama, tetapi terus menawarkan fleksibilitas bagi Barcelona. Pengalaman bekerja di bawah Pep Guardiola sebelumnya juga mengubah pemahamannya tentang posisi penyerang tengah.

Ferran semula dikenal sebagai pemain sayap. Guardiola melihat naluri gol, kecerdasan menyerang ruang, dan pergerakannya di belakang bek sebagai modal untuk bermain sebagai nomor sembilan. Perubahan itu kemudian dilanjutkan Hansi Flick di Barcelona.

Pada musim 2023/2024, Ferran mencetak 11 gol. Produktivitasnya meningkat menjadi 19 gol di seluruh kompetisi pada musim berikutnya. Ia juga menjadi pencetak gol terbanyak Copa del Rey 2024/2025 dengan enam gol dan memainkan peran penting dalam perjalanan Barcelona menuju gelar.

Perkembangannya berlanjut pada La Liga 2025/2026. Ferran dan Lamine Yamal sama-sama menghasilkan 16 gol serta berbagi Trofi Zarra sebagai pemain Spanyol tersubur di kompetisi tersebut.

Barcelona mencatat Ferran telah mengoleksi 62 gol dalam 201 pertandingan per 12 April 2026. Angka itu membawanya masuk kelompok 50 pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub.

Transformasinya bukan semata-mata terlihat dari jumlah gol. Ferran mulai menerima peran yang berubah-ubah, termasuk tampil dari bangku cadangan, tanpa kehilangan intensitas atau rasa percaya diri.

Gol Menit Ke-106 Menyempurnakan Perjalanan

Karakter tersebut menjadi senjata Spanyol di Piala Dunia 2026. Pada babak 16 besar, Ferran masuk sebagai pemain pengganti dan memberikan assist untuk gol kemenangan Mikel Merino atas Portugal.

Dalam final melawan Argentina, pelatih Luis de la Fuente memasukkan Ferran dan Pedri pada menit ke-62. Laga masih tanpa gol, sedangkan pertahanan Argentina memaksa Spanyol bekerja keras meski La Roja lebih dominan dalam penguasaan bola dan penciptaan peluang.

Argentina kemudian kehilangan Enzo Fernández akibat kartu kuning kedua menjelang berakhirnya waktu normal. Spanyol meningkatkan tekanan saat pertandingan memasuki perpanjangan waktu.

Momen penentu hadir pada menit ke-106. Umpan silang Pedro Porro diteruskan Nico Williams menuju Ferran. Berada di ruang yang tepat, penyerang berusia 26 tahun itu melepaskan penyelesaian kaki kiri melewati Martínez.

Gol tersebut menjadi gol ke-25 Ferran untuk Spanyol berdasarkan penambahan dari catatan RFEF sebelum final. Lebih penting lagi, satu sentuhan itu mengubahnya dari pemain yang pernah terperangkap tekanan menjadi pencetak gol kemenangan di panggung terbesar sepak bola.

Ferran tidak hanya pulang sebagai juara dunia. Ia meninggalkan New Jersey sebagai bukti bahwa meminta bantuan psikolog bukan tanda kelemahan, melainkan salah satu keputusan yang dapat menyelamatkan karier. (AA)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaBulan Safar Sial? Ini Penjelasan Hadis Sahih tentang Mitos Musibah di Bulan Safar Berita SelanjutnyaPilkades Sumedang Tak Sepenuhnya Digital, 337 TPS Tetap Manual
Iklan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *