lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Di sudut Jalan Mohammad Hatta, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, berdiri sebuah monumen yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Bangunan itu adalah Tugu Koperasi Tasikmalaya, saksi bisu lahirnya gerakan koperasi Indonesia yang kini justru lebih sering diperbincangkan karena kisah-kisah mistis yang menyelimutinya.
Tak banyak yang mengetahui, pada 12 Juli 1947, lokasi tersebut menjadi tempat berlangsungnya Kongres Koperasi Pertama Indonesia. Sekitar 500 utusan dari berbagai daerah, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Sulawesi, berkumpul untuk merumuskan sepuluh dasar koperasi nasional yang kemudian menjadi tonggak penting perkembangan ekonomi kerakyatan di Indonesia.
Hampir delapan dekade berlalu, suasana yang dahulu dipenuhi semangat perjuangan kini berganti menjadi keheningan.
Tugu Koperasi Tasikmalaya Menyimpan Jejak Sejarah Bangsa
Di belakang tugu berdiri dua bangunan tua yang menjadi bagian dari sejarah kawasan tersebut. Satu bangunan dahulu digunakan sebagai tempat produksi batik tenun, sementara bangunan lainnya merupakan lokasi mesin heuler atau penggilingan padi.
Kini kondisi keduanya memprihatinkan.
Dinding bangunan tampak kusam dimakan usia, sebagian atap telah runtuh, sementara semak belukar tumbuh menutupi sebagian area yang dahulu menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Meski memiliki nilai sejarah yang tinggi, kawasan tersebut belum mendapatkan penataan optimal sehingga kesan terbengkalai sulit dihindari.
Cerita Mistis yang Hidup di Tengah Warga
Selain dikenal sebagai situs sejarah, kawasan Tugu Koperasi juga menyimpan cerita yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Iin Maskanah (60), warga yang telah menjaga kawasan itu selama sekitar 36 tahun bersama suaminya, Aan Suherman (65), mengaku telah beberapa kali mengalami peristiwa yang sulit dijelaskan secara logika.
Menurutnya, berbagai penampakan kerap terlihat di sekitar bangunan tua tersebut.
“Saya sudah tidak aneh lagi. Ada anak kecil, ada noni Belanda, ada juga yang menyeramkan,” ujar Iin, Selasa (14/7/2026).
Namun pengalaman yang paling membekas justru bukan sosok yang menakutkan.
Ia bercerita, suatu hari ketika sedang menjemur padi di halaman bangunan tua, tiba-tiba muncul seorang perempuan tua yang mengingatkannya untuk menunaikan salat.
“Tidak nakutin. Malah ngingetin, ‘Nak, sudah Dzuhur, salat dulu’,” kenangnya.
Bagi Iin, selama bertahun-tahun tinggal di kawasan tersebut, ia tidak pernah merasa diganggu.
“Mereka baik-baik. Asal kita sopan dan tidak mengusik,” katanya.
Makam Eyang Batara Masih Diziarahi
Tidak jauh dari lokasi tugu terdapat Makam Eyang Batara yang hingga kini masih sering didatangi peziarah.
Keberadaan makam tersebut semakin memperkuat keyakinan sebagian masyarakat bahwa kawasan Tugu Koperasi bukan hanya menyimpan sejarah panjang, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang masih dijaga oleh warga sekitar.
Meski demikian, kisah-kisah tersebut hidup berdampingan dengan fakta sejarah yang menjadikan kawasan itu sebagai salah satu lokasi penting dalam perjalanan bangsa.
Warisan Bersejarah yang Perlu Dirawat
Terlepas dari berbagai cerita yang berkembang di masyarakat, Tugu Koperasi Tasikmalaya tetap merupakan bagian penting dari sejarah nasional.
Di tempat inilah fondasi gerakan koperasi Indonesia pernah dirumuskan oleh para tokoh dari berbagai daerah yang memiliki semangat membangun ekonomi rakyat setelah Indonesia merdeka.
Sayangnya, kondisi kawasan yang mulai termakan usia memunculkan harapan dari masyarakat agar pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian situs bersejarah tersebut.
Penataan kawasan, perbaikan bangunan lama, hingga penyediaan informasi sejarah dinilai penting agar generasi muda tidak hanya mengenal Tugu Koperasi melalui cerita turun-temurun, tetapi juga memahami peran besarnya dalam perjalanan bangsa.
Dengan pelestarian yang baik, kawasan ini berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus wisata edukasi yang memperkaya identitas Kota Tasikmalaya.(KRS/doel)


