lintasjabar.id, BERITA BANDUNG β Trotoar di kawasan Lapangan Gasibu, Kota Bandung, tengah menjadi sorotan. Fasilitas yang seharusnya memudahkan pejalan kaki justru dikeluhkan karena memiliki elevasi cukup tinggi sehingga menyulitkan sebagian pengguna untuk naik dan turun.
Persoalan tersebut mendapat perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM. Pemerintah Provinsi Jawa Barat kemudian menyiapkan penyesuaian berupa undakan atau trap serta pemasangan guiding block untuk meningkatkan aksesibilitas trotoar.
Masalahnya terlihat sederhana. Trotoar terlalu tinggi, lalu dibuat undakan. Namun kalau ditarik sedikit ke belakang, muncul pertanyaan yang lebih menarik: bagaimana desain seperti itu bisa sampai masuk tahap pengerjaan sebelum persoalan akses pejalan kaki dipersoalkan?
Trotoar Tinggi Bikin Pejalan Kaki Kesulitan
Keluhan muncul pada trotoar di sekitar Lapangan Gasibu, terutama kawasan yang berada di seberang Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat.
Dalam evaluasi yang dilakukan Pemprov Jabar, KDM mengakui bahwa ketinggian trotoar tersebut memang perlu diperbaiki. Menurutnya, akses dari jalan menuju trotoar seharusnya tidak dibuat seperti lompatan, tetapi memiliki tahapan yang lebih mudah dilalui.
Pemprov Jabar kemudian menginstruksikan Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang untuk melakukan penyesuaian teknis dengan membuat undakan.
Dengan begitu, masyarakat tidak perlu langsung berhadapan dengan perbedaan ketinggian yang cukup menyulitkan ketika hendak naik ke trotoar. ξ¨1ξ¨
Persoalan ini menjadi semakin penting karena trotoar bukan hanya digunakan oleh orang dewasa yang kondisi fisiknya prima. Ada lansia, anak-anak, pengguna alat bantu, serta penyandang disabilitas yang juga membutuhkan akses aman.
Bukan Sekadar Tambah Undakan
Pemprov Jabar tidak hanya menyiapkan undakan. Trotoar Gasibu juga akan dilengkapi dengan guiding block atau ubin pemandu bagi penyandang disabilitas, khususnya tunanetra.
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan kawasan Gasibu lebih inklusif sekaligus memperbaiki fungsi trotoar sebagai ruang publik untuk pejalan kaki. ξ¨2ξ¨
Langkah itu tentu patut diapresiasi. Tetapi ada satu hal yang juga layak dicatat: aksesibilitas idealnya dipikirkan sejak desain awal, bukan setelah warga mengeluhkan hasil akhirnya.
Apalagi kawasan Gasibu sedang menjalani penataan secara menyeluruh. Dengan skala pekerjaan seperti itu, urusan kenyamanan pejalan kaki seharusnya bukan aksesori tambahan yang baru dipikirkan belakangan.
KDM: Trotoar Bukan untuk Motor dan Pedagang
Dalam evaluasinya, KDM juga kembali mengingatkan fungsi utama trotoar.
Menurutnya, trotoar diperuntukkan bagi pejalan kaki dan bukan untuk digunakan oleh pedagang, sepeda motor maupun pesepeda.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena persoalan trotoar di kota-kota besar Indonesia memang tidak berhenti pada soal desain. Setelah dibangun dengan biaya dan konsep tertentu, fasilitas pedestrian juga harus dijaga agar tidak kembali berubah fungsi.
Trotoar yang sudah dibuat ramah pejalan kaki tetapi kemudian dipenuhi kendaraan atau aktivitas lain tentu akan kehilangan fungsi utamanya.
Ironisnya, trotoar kadang berada dalam posisi serba salah: dibuat terlalu tinggi, pejalan kaki kesulitan; dibuat terlalu rendah, kendaraan berpotensi naik. Dibuat bagus, kemudian dipakai untuk parkir.
Jadi, pekerjaan rumahnya ternyata bukan hanya membangun trotoar.
Gasibu Sedang Ditata, Standarnya Ikut Diuji
Penyesuaian trotoar ini berlangsung ketika kawasan Gasibu sedang menjalani penataan dan optimalisasi sebagai ruang publik.
Pemprov Jabar menargetkan kawasan tersebut menjadi ruang yang lebih aman, nyaman dan inklusif bagi masyarakat. Karena itu, kualitas fasilitas pedestrian menjadi bagian penting dari wajah baru kawasan tersebut. ξ¨3ξ¨
Apalagi Gasibu bukan ruang publik biasa. Kawasan ini berada di pusat pemerintahan Jawa Barat dan setiap pekan menjadi salah satu titik aktivitas masyarakat Kota Bandung.
Artinya, trotoar yang dibangun di kawasan tersebut semestinya tidak hanya terlihat bagus dari jauh. Ia harus benar-benar nyaman ketika digunakan.
Termasuk oleh orang yang tidak bisa berlari, tidak bisa melompat, menggunakan tongkat, kursi roda, atau memiliki keterbatasan penglihatan.
Jangan Sampai Trotoar Bagus Hanya untuk Difoto
Perbaikan trotoar Gasibu pada akhirnya bukan sekadar persoalan membuat undakan atau memasang guiding block.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan seluruh elemen penataan benar-benar berangkat dari kebutuhan pengguna.
Trotoar yang baik bukan yang paling mahal, paling mengilap atau paling cantik ketika difoto dari udara. Ukuran sederhananya justru ketika seorang pejalan kaki bisa menggunakannya tanpa harus berpikir, βNaiknya dari mana?β
Respons cepat terhadap keluhan warga tentu menjadi hal positif. Namun, proses ini juga seharusnya menjadi evaluasi bagi pekerjaan penataan fasilitas publik berikutnya.
Sebab uang publik bukan sekadar untuk membangun sesuatu agar terlihat selesai. Infrastruktur publik harus bekerja sebagaimana mestinya.
Dan untuk trotoar, tugasnya sebenarnya sederhana: membuat orang berjalan kaki lebih mudah, bukan membuat mereka harus mencari cara untuk naik ke atasnya. (red)

