Lewati ke konten
Daerah

Jamparing Galunggung Hidupkan Panahan Tradisional Tasikmalaya

Deny HeryantoAgustus 24, 20263 menit baca166 dilihat
Jamparing Galunggung Hidupkan Panahan Tradisional Tasikmalaya
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA. Semangat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia hadir dengan cara yang berbeda di Lapangan Panahan Perum Sukawening, Kelurahan Sumelap, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Minggu (23/8/2026).

Komunitas Panahan Tradisional Jamparing Galunggung menggelar latihan bersama yang memadukan olahraga, tradisi dan kebersamaan masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT RI ke-81 sekaligus ruang untuk memperkenalkan panahan tradisional kepada masyarakat.

Sejak pagi, peserta berkumpul di lapangan. Registrasi berlangsung pukul 07.00 hingga 08.00 WIB, dilanjutkan pembukaan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Suasana tersebut memperlihatkan bahwa perayaan kemerdekaan tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan seremonial. Di tangan komunitas, semangat kemerdekaan dapat hadir melalui olahraga sekaligus upaya menjaga tradisi.

Jamparing Galunggung Rawat Tradisi Panahan

Latihan bersama ini menjadi bagian dari aktivitas Komunitas Panahan Tradisional Jamparing Galunggung yang bersekretariat di Cigintung Kidul, Kelurahan Sumelap, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya.

Keberadaan komunitas tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenal sekaligus mempraktikkan panahan tradisional. Busur dan anak panah bukan sekadar perlengkapan olahraga, tetapi menjadi bagian dari tradisi yang membutuhkan ketekunan, konsentrasi dan latihan.

Kegiatan ini juga memiliki makna tersendiri karena digelar dalam momentum HUT RI ke-81. Lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan dalam pembukaan menjadi pengingat bahwa aktivitas komunitas tersebut berjalan berdampingan dengan semangat kebangsaan.

Bagi Jamparing Galunggung, ruang latihan seperti ini menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan panahan tradisional. Tradisi tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu dipraktikkan dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Agus Fauzi Apresiasi Ruang Tradisi dan Olahraga

Plt Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Porabudpar) Kota Tasikmalaya, Agus Fauzi, S.PT., M.Si., turut memberikan respons positif terhadap kegiatan tersebut.

Menurut Agus, kegiatan komunitas yang menggabungkan olahraga dan tradisi memiliki nilai penting dalam memperkaya aktivitas masyarakat, khususnya dalam momentum peringatan kemerdekaan.

β€œKami mengapresiasi kegiatan yang dilakukan Jamparing Galunggung. Panahan tradisional bukan hanya aktivitas olahraga, tetapi juga memiliki nilai budaya yang perlu terus dikenalkan dan dikembangkan di tengah masyarakat,” ujar Agus.

Ia menilai keberadaan komunitas menjadi salah satu kekuatan dalam menjaga keberlangsungan olahraga tradisional.

β€œYang paling penting adalah bagaimana kegiatan seperti ini bisa menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal tradisi, berolahraga dan membangun kebersamaan. Semangat kemerdekaan bisa kita isi dengan kegiatan-kegiatan positif seperti ini,” katanya.

Agus berharap kegiatan komunitas seperti Jamparing Galunggung dapat terus berkembang dan memiliki ruang yang semakin luas di masyarakat.

β€œMudah-mudahan panahan tradisional semakin dikenal, semakin banyak anak muda yang tertarik, dan komunitasnya terus berkembang. Pemerintah tentu mendorong kegiatan masyarakat yang positif, terutama yang berkaitan dengan olahraga, budaya dan kreativitas,” ujarnya.

Dari Sumelap, Panahan Tradisional Bertemu Semangat Kemerdekaan

Rangkaian kegiatan tersebut ditutup dengan doa sebelum peserta melanjutkan agenda latihan bersama.

Kegiatan Jamparing Galunggung menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dapat tumbuh dari berbagai ruang. Tidak hanya melalui upacara atau perlombaan, tetapi juga melalui komunitas yang menjaga tradisi dan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk belajar.

Dari sebuah lapangan di Sumelap, panahan tradisional Tasikmalaya kembali mendapatkan ruang untuk hidup. Ada busur yang ditarik, anak panah yang dilepaskan, dan tradisi yang perlahan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab, sebuah tradisi tidak akan bertahan hanya karena disebut sebagai warisan. Ia membutuhkan orang-orang yang mau mempraktikkannya, komunitas yang mau merawatnya, dan generasi muda yang bersedia mengenalnya.

Jamparing Galunggung menjadi salah satu ruang kecil tempat tradisi itu terus menemukan jalannya. (DH)

ADS BANNER
728 x 90

Deny Heryanto

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita Sebelumnya2 Tahun Menunggu, Nasib Warga Cidadap Sukabumi Mulai Terjawab Berita Selanjutnya1 Bongkah Emas Bikin 10 Ribu Orang Serbu Desa di Kenya
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza