Lewati ke konten
Daerah

Huller Tugu Koperasi Mati Suri, Dua Tahun Ditutup Usai Tragedi Maut

Kang DoelJuli 17, 20262 menit baca27 dilihat
Huller Tugu Koperasi
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id BERITA TASIKMALAYA – Bangunan Huller Tugu Koperasi di Kota Tasikmalaya kini hanya menyisakan kesunyian. Sudah dua tahun lamanya tempat penggilingan padi yang menjadi bagian dari sejarah kawasan Tugu Koperasi itu ditutup total setelah tragedi kecelakaan kerja yang merenggut nyawa seorang pengontrak pada 2023 silam.

Tak ada lagi suara mesin yang dahulu menggema dari bangunan tua tersebut. Aktivitas penggilingan padi berhenti total, meninggalkan bangunan yang kini kosong dan menjadi saksi bisu sebuah peristiwa tragis.

Warga sekitar menyebut, sejak peristiwa tersebut tidak ada lagi pihak yang berani menyewa ataupun mengoperasikan tempat itu.

“Langsung ditutup setelah kejadian dan sampai sekarang tidak ada yang berani ngontrak lagi,” ujar Aan Suherman (65), warga yang selama ini menjaga lokasi tersebut.

Huller Tugu Koperasi Ditutup Sejak Tragedi Tahun 2023

Korban dalam peristiwa nahas tersebut diketahui bernama Wawan Saefulloh. Ia meninggal dunia di lokasi kejadian setelah tubuhnya tersangkut bagian mesin penggilingan padi yang tengah beroperasi.

Menurut keterangan Aan Suherman, korban mengalami kecelakaan kerja yang menyebabkan tubuhnya tersangkut pada komponen mesin hingga meninggal dunia di tempat kejadian.

Tragedi itu menjadi salah satu kecelakaan kerja paling memilukan yang pernah terjadi di kawasan Tugu Koperasi.

Ironisnya, pada waktu yang hampir bersamaan, istri almarhum juga meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di Bandung.

Peristiwa tersebut masih membekas di ingatan warga sekitar hingga hari ini.

Huller Tugu Koperasi Simpan Mesin Peninggalan Belanda

Di balik bangunannya yang kini kosong, Huller Tugu Koperasi ternyata masih menyimpan mesin pemanas padi peninggalan zaman Belanda yang usianya diperkirakan telah mencapai puluhan tahun.

Menurut Aan, mesin tersebut merupakan peninggalan yang masih dipertahankan keasliannya dan tidak ikut dipindahkan ketika pengelolaan tempat diserahkan kepada pihak ketiga.

“Mesin pemanas padi itu masih asli zaman Belanda. Bentuknya dulu seperti pesawat. Sekarang katanya mau dijadikan cagar budaya karena keasliannya,” katanya.

Keberadaan mesin tua tersebut menjadi salah satu bukti sejarah perkembangan koperasi dan industri penggilingan padi di Kota Tasikmalaya.

Potensi Jadi Cagar Budaya

Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, bangunan Huller Tugu Koperasi juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata sejarah dan edukasi koperasi di Kota Tasikmalaya.

Kawasan Tugu Koperasi sendiri memiliki keterkaitan erat dengan sejarah gerakan koperasi di Indonesia yang telah berlangsung sejak puluhan tahun silam.

Jika dilakukan revitalisasi secara tepat, keberadaan mesin peninggalan Belanda tersebut dapat menjadi salah satu daya tarik yang memperkuat identitas kawasan Tugu Koperasi sebagai situs sejarah koperasi di Kota Tasikmalaya.

Kini, yang tersisa hanyalah bangunan tua yang sunyi dan kenangan atas tragedi yang pernah terjadi di dalamnya.

Di tengah upaya revitalisasi Tugu Koperasi yang tengah disiapkan Pemerintah Kota Tasikmalaya, Huller Tugu Koperasi seolah menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh bangunan yang megah, tetapi juga oleh mesin tua dan kisah manusia yang pernah menghidupkannya.(KRS/doel)

ADS BANNER
728 x 90

Kang Doel

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di lintasjabar.id

Berita SebelumnyaPolisi Sahabat Anak, Satlantas Polres Garut Tanamkan Budaya Tertib Lalu Lintas Sejak Dini Berita SelanjutnyaKolam Batu Fosfor di Tugu Koperasi Tasikmalaya, Tak Pernah Kering Selama Puluhan Tahun
Iklan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *