Dialog Ketahanan Keluarga di Tasikmalaya, Menteri PPPA RI dan Organisasi Perempuan Soroti Kasus Kekerasan
- account_circle Redaktur Lintas Jabar
- calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
- visibility 61
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Upaya memperkuat ketahanan keluarga menjadi fokus utama dalam dialog terbuka yang digelar di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tasikmalaya bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI. Kegiatan yang berlangsung hampir lima jam itu diikuti berbagai organisasi perempuan, tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, dan unsur pemerhati perlindungan perempuan serta anak.
Diskusi berlangsung dinamis dengan mengangkat berbagai persoalan sosial yang saat ini menjadi tantangan di tengah masyarakat, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, hingga pentingnya pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga.
RSIA Tasikmalaya Tekankan Pentingnya Peran Keluarga
Direktur RSIA Tasikmalaya, dr. Polar Silumi, Sp.OG., M.H.Kes., menyampaikan bahwa ketahanan keluarga merupakan fondasi utama dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
Menurutnya, keluarga yang harmonis akan menjadi ruang pertama bagi anak untuk memperoleh pendidikan moral, perlindungan, serta pembentukan karakter yang kuat sejak dini.
Ia menilai penguatan keluarga menjadi langkah strategis dalam mencegah berbagai persoalan sosial yang belakangan semakin sering terjadi di masyarakat.
Kasus Pelecehan dan Konflik Keluarga Jadi Perhatian
Dalam sesi dialog, sejumlah peserta turut menyampaikan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Kasus pelecehan seksual, konflik rumah tangga, hingga persoalan pengasuhan anak menjadi topik yang banyak mendapat perhatian.
Menurut dr. Polar, berbagai kasus tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dan pembinaan karakter tidak cukup hanya dilakukan melalui lembaga pendidikan formal, tetapi harus dimulai dari lingkungan keluarga.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai akhlak, komunikasi yang sehat, serta keteladanan orang tua menjadi faktor penting dalam membangun keluarga yang tangguh dan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.
Pemerintah dan Masyarakat Harus Berkolaborasi
Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, organisasi perempuan, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam memperkuat perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Meski pemerintah memiliki berbagai program perlindungan sosial, keluarga tetap menjadi benteng pertama dalam mencegah kekerasan, penyimpangan perilaku, maupun berbagai ancaman yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak.
RSIA Tasikmalaya menyatakan komitmennya untuk terus mendukung program edukasi, pendampingan, serta pelayanan kesehatan yang berpihak kepada perempuan dan anak sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan keluarga yang lebih baik.
Diharapkan Jadi Gerakan Sosial di Tingkat Masyarakat
Dialog yang berlangsung selama hampir lima jam tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi semata, tetapi mampu melahirkan gerakan nyata di tengah masyarakat.
Peningkatan komunikasi dalam keluarga, penguatan pendidikan karakter anak, serta kepedulian terhadap perlindungan perempuan dan anak menjadi pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.
Melalui penguatan ketahanan keluarga, berbagai pihak berharap mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman, sehat, dan kondusif bagi tumbuh kembang generasi masa depan di Tasikmalaya. (krs/hs)
- Penulis: Redaktur Lintas Jabar


Saat ini belum ada komentar