lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Menikah sering diibaratkan sebagai pelayaran panjang. Cuacanya kadang cerah, kadang diterpa badai. Yang membedakan setiap pasangan bukanlah seberapa besar ombak yang datang, melainkan apakah keduanya masih mau memegang kemudi bersama.
Sayangnya, bagi sebagian pasangan di Kota Tasikmalaya, pelayaran itu harus berakhir lebih cepat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat, sepanjang 2025 terdapat 1.740 perkara perceraian di Kota Tasikmalaya. Rinciannya terdiri atas 365 cerai talak atau gugatan yang diajukan suami dan 1.375 cerai gugat yang diajukan istri.
Kalau angka itu dibagi rata selama setahun, berarti dominasi pasangan yang memutuskan berpisah dengan cara cerai gugat di kota Tasikamalaya hampir lima pasangan perhari. Angka tersebut juga meningkat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 1.567 perkara. Dengan kata lain, bukan hanya harga kebutuhan pokok yang naik, grafik perceraian pun ikut bergerak ke atas.
Namun, ada satu fakta yang lebih menarik daripada sekadar jumlahnya.
Cerai Gugat di Kota Tasikmalaya Masih Mendominasi
Dalam statistik perceraian Kota Tasikmalaya, “penguasaan gugatan” masih berada di tangan para istri.
Dari total 1.740 perkara, sebanyak 1.375 merupakan cerai gugat, sedangkan cerai talak yang diajukan suami hanya berjumlah 365 perkara.
Tentu, angka itu bukan berarti para istri tiba-tiba menjadi lebih mudah menyerah. Statistik hanya mencatat siapa yang mengajukan gugatan. Ia tidak pernah mampu menjelaskan berapa lama seseorang bertahan sebelum akhirnya memutuskan datang ke pengadilan.
Bisa jadi, keputusan itu lahir setelah berbulan-bulan mencoba memperbaiki hubungan. Bisa pula setelah berkali-kali percakapan berakhir tanpa solusi.
Sebab dalam banyak rumah tangga, yang pertama kali pergi bukanlah pasangannya, melainkan komunikasi.
Ketika percakapan berubah menjadi saling menyalahkan, ketika ruang makan lebih sering dipenuhi suara notifikasi telepon daripada obrolan, atau ketika kata “nanti saja” lebih sering terdengar daripada “ayo kita bicarakan”, hubungan perlahan kehilangan fondasinya.
Rumah tangga memang tidak selalu runtuh karena badai besar. Kadang justru roboh karena retakan-retakan kecil yang dibiarkan terlalu lama.
Bukan Sekadar Soal Dompet, tetapi Cara Menghadapinya Bersama
Berbagai kajian menunjukkan, persoalan ekonomi masih menjadi pemicu utama perceraian di banyak daerah, termasuk di Jawa Barat. Kenaikan biaya hidup, pendapatan yang tidak selalu sebanding dengan kebutuhan, cicilan yang menumpuk, hingga fenomena pinjaman online menjadi tekanan baru bagi banyak keluarga.
Ironisnya, pinjaman yang awalnya diniatkan untuk menyelamatkan kondisi keuangan, tidak jarang justru menjadi awal dari pertengkaran yang berkepanjangan.
Utang memang bisa dicicil. Tetapi kepercayaan yang mulai terkikis tidak selalu semudah itu diperbaiki.
Di Kota Tasikmalaya, persoalan pinjaman online bahkan pernah disebut sebagai salah satu faktor yang cukup menonjol dalam perkara perceraian. Namun ekonomi sesungguhnya hanyalah pemantik. Yang lebih menentukan adalah bagaimana pasangan menghadapi persoalan itu.
Ada keluarga yang tetap bertahan meski penghasilannya sederhana karena keduanya saling terbuka. Ada pula yang ekonominya mapan, tetapi justru berpisah karena komunikasi telah lebih dulu bangkrut.
Memasuki tahun 2026, tren tersebut belum menunjukkan penurunan yang berarti. Hingga pertengahan tahun, Pengadilan Agama Kota Tasikmalaya telah menerima 257 perkara perceraian, terdiri atas 189 cerai gugat dan 68 cerai talak. Sekali lagi, cerai gugat masih mendominasi.
Di balik setiap berkas perkara sesungguhnya ada kisah yang tidak pernah sepenuhnya tertulis dalam putusan pengadilan. Ada anak yang harus belajar menerima kenyataan bahwa ayah dan ibunya tak lagi tinggal serumah. Ada orang tua yang menyaksikan rumah tangga anaknya berakhir. Ada pula pasangan yang mungkin masih saling menyayangi, tetapi sudah terlalu lelah untuk terus saling memahami.
Pernikahan Bukan Lomba Mencari Pemenang
Di balik 1.740 perkara perceraian itu, sesungguhnya tersimpan ribuan cerita yang berbeda. Ada rumah tangga yang kandas karena tekanan ekonomi, ada yang terseret beban pinjaman online, ada pula yang perlahan kehilangan ruang untuk saling mendengar. Statistik hanya mencatat jumlah perkara, tetapi tidak pernah mampu merekam berapa banyak air mata, penyesalan, atau upaya memperbaiki hubungan yang terjadi sebelum sebuah gugatan akhirnya didaftarkan.
Rumah tangga memang tidak pernah dijanjikan bebas dari masalah. Justru di sanalah dua orang belajar menjadi satu tim, bukan dua kubu yang saling berhadapan. Sebab dalam pernikahan, tidak ada piala untuk siapa yang paling sering memenangkan perdebatan. Yang ada hanyalah dua pilihan: menyelesaikan persoalan bersama, atau membiarkan persoalan itu perlahan menyelesaikan hubungan mereka.
Bagi pasangan yang baru memulai kehidupan rumah tangga, angka-angka ini seharusnya bukan menjadi alasan untuk takut menikah. Justru sebaliknya, data ini menjadi pengingat bahwa sebuah pernikahan tidak cukup dibangun hanya dengan cinta, foto prewedding yang indah, atau pesta resepsi yang meriah. Rumah tangga bertahan karena dua orang memilih terus belajar menjadi pasangan yang baik, bahkan ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Belajarlah membicarakan persoalan sebelum persoalan itu membesar. Bersikaplah terbuka mengenai kondisi keuangan, jangan malu berkata, “Kita sedang kesulitan.” Kalimat sederhana itu sering kali jauh lebih berharga daripada memendam masalah sendirian, karena kejujuran adalah langkah pertama untuk menemukan jalan keluar bersama.
Yang tak kalah penting, biasakan mendengar untuk memahami, bukan mendengar sambil menunggu giliran membalas. Sebab dalam sebuah pernikahan tidak ada medali untuk siapa yang paling sering memenangkan perdebatan. Yang ada hanyalah kebahagiaan ketika dua orang sama-sama memilih menjaga hubungan, meski ego sesekali meminta untuk didahulukan.
Pada akhirnya, statistik akan terus mencatat berapa banyak pasangan yang berpisah setiap tahun. Namun statistik tidak pernah mampu menghitung berapa banyak rumah tangga yang tetap utuh karena suami dan istri memilih duduk bersama, berbicara dengan kepala dingin, lalu saling memahami.
Mungkin, rumah tangga yang paling kuat bukanlah yang tak pernah diguncang masalah, melainkan yang selalu menemukan alasan untuk kembali duduk, berbicara, dan saling mendengarkan.
Karena terkadang, sebuah pernikahan tidak membutuhkan kata-kata yang rumit. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk mengucapkan satu kalimat sederhana, tetapi sering kali paling sulit diutarakan.
“Maaf, mungkin tadi aku kurang mendengarkanmu.”(doel)


