lintasjabar.id, BERITA BANDUNG – Penataan kawasan Gedung Sate, Bandung, menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan Tim Cagar Budaya Nasional bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dalam kunjungan tersebut, pembahasan tidak hanya menyentuh kondisi bangunan bersejarah, tetapi juga berbagai elemen lanskap di sekitarnya, mulai dari keberadaan tanaman, pagar, ornamen, hingga penataan rumput.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah keberadaan pohon sawit di lingkungan Gedung Sate. Dedi Mulyadi mengaku baru mengetahui adanya tanaman tersebut di kawasan bangunan yang menjadi ikon pemerintahan Provinsi Jawa Barat itu.
Dengan nada berkelakar, Dedi menyampaikan pandangannya bahwa pohon sawit dinilai kurang memiliki karakter estetika yang sesuai apabila ditempatkan di lingkungan cagar budaya seperti Gedung Sate.
Penataan Tanaman Harus Selaras dengan Karakter Sejarah
Pembahasan mengenai pohon sawit kemudian berkembang pada persoalan tata lanskap kawasan bersejarah.
Anggota tim ahli memberikan penjelasan mengenai aspek historis penataan lingkungan Gedung Sate, termasuk keberadaan tanaman peneduh dan komposisi vegetasi yang seharusnya memperkuat karakter kawasan.
Dalam konteks pelestarian cagar budaya, tanaman bukan sekadar elemen penghias. Penempatannya perlu mempertimbangkan keselarasan dengan arsitektur bangunan, karakter lingkungan, serta nilai sejarah yang melekat pada kawasan tersebut.
Karena itu, penataan vegetasi perlu dilakukan secara terencana agar tidak menghilangkan karakter asli lingkungan bersejarah.
Pagar dan Ornamen Kawasan Ikut Dibahas
Selain tanaman, diskusi juga mencakup rencana penataan pagar dan sejumlah ornamen di lingkungan Gedung Sate.
Pembahasan menyentuh kemungkinan penggunaan bentuk ornamen yang mengadopsi karakter arsitektur tradisional, seperti Candi Bentar, maupun elemen batu yang terinspirasi dari peninggalan era Majapahit dengan sentuhan kreasi baru.
Konsep tersebut menjadi bagian dari pembicaraan mengenai bagaimana elemen tambahan dapat menyatu dengan karakter kawasan tanpa menghilangkan identitas sejarahnya.
Penataan rumput juga menjadi perhatian. Permukaan dan jenis rumput yang digunakan diharapkan dapat memberikan kesan lebih serasi dengan bangunan dan lingkungan sekitarnya.
Menjaga Identitas Gedung Sate sebagai Cagar Budaya
Gedung Sate bukan hanya bangunan pemerintahan, tetapi juga salah satu ikon sejarah dan arsitektur Jawa Barat.
Karena itu, penataan kawasan di sekitarnya membutuhkan pertimbangan yang tidak semata-mata berorientasi pada keindahan visual. Setiap perubahan perlu memperhatikan karakter arsitektur, nilai historis, dan prinsip pelestarian cagar budaya.
Kunjungan bersama Tim Cagar Budaya Nasional tersebut menjadi ruang pembahasan mengenai arah penataan lingkungan Gedung Sate agar lebih selaras dengan identitas bangunan bersejarah.
Tantangannya adalah memastikan setiap pembaruan tetap menghormati nilai sejarah yang telah melekat pada kawasan tersebut.
Sebab, merawat bangunan cagar budaya bukan hanya mempertahankan fisik bangunannya, tetapi juga menjaga keserasian lingkungan dan karakter yang membentuk identitas sejarahnya. (Red)

