lintasjabar.id, BERITA JAWA BARAT. – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM menyoroti kondisi Taman Segitiga Cimahi Sriwijaya yang dipenuhi pakaian jemuran dan digunakan sejumlah orang untuk beristirahat. Saat meninjau kawasan tersebut, KDM juga menemui warga yang mengaku tidak memiliki tempat tinggal tetap, bahkan menawarkan bantuan pengobatan dan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan.
Dalam video yang merekam kunjungannya, KDM tampak berjalan bersama Wali Kota Cimahi Letkol (Purn.) Ngatiyana, S.A.P. di sekitar Jalan Ganda Wijaya sebelum memasuki kawasan Taman Sriwijaya.
Kondisi taman menjadi perhatiannya. Sejumlah pakaian terlihat digantung di pagar dan bangku, sementara beberapa orang memanfaatkan fasilitas taman untuk tidur-tiduran.
Melihat keadaan tersebut, KDM melontarkan candaan dengan menyebut kawasan itu sebagai “taman jemuran”. Pada bagian akhir kunjungan, ia juga berkelakar bahwa taman tersebut lebih cocok disebut “taman molor” karena digunakan sejumlah orang untuk tidur.
Namun, di balik candaan itu, kunjungan KDM turut menyingkap persoalan sosial yang dialami orang-orang yang berada di kawasan tersebut.
KDM Temui Pria Asal Jember yang Tak Punya Tempat Tinggal Tetap
Salah satu orang yang ditemui KDM adalah seorang pria paruh baya berambut putih dan berjanggut yang sedang berbaring di bangku taman.
Dalam percakapan yang terekam, pria tersebut mengaku berasal dari Jember, Jawa Timur. Ia menyebut telah merantau dan tinggal di kawasan itu selama kurang lebih satu tahun tanpa tempat tinggal tetap.
Pria tersebut juga mengeluhkan kondisi kesehatannya yang sering terganggu.
Mendengar penjelasan itu, KDM menawarkan bantuan untuk mendata identitas pria tersebut dan mengupayakan pengobatan tanpa biaya melalui fasilitas kesehatan, di RSUD Welas Asih.
KDM juga menyampaikan rencana membantu membelikan bekal agar pria tersebut dapat kembali ke kampung halamannya di Jawa Timur.
Bantuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang ditemukan di taman tidak hanya berkaitan dengan kebersihan atau pemanfaatan fasilitas umum. Ada pula warga yang membutuhkan penanganan kesehatan, pendataan sosial, dan kepastian tempat tinggal.
Meski demikian, realisasi pengobatan dan kepulangan pria tersebut belum dapat dipastikan hanya dari rekaman percakapan yang tersedia.
Tawarkan Pekerjaan Sapu Jalan dengan Upah Rp100 Ribu Sehari
KDM kemudian menghampiri sejumlah pria lain yang sedang duduk di area taman. Dalam percakapan tersebut, beberapa orang mengaku berasal dari kawasan Cicalengka, sementara sebagian lainnya mencari nafkah dengan mengumpulkan barang bekas atau rongsok.
Kepada mereka, KDM menawarkan peluang pekerjaan sebagai petugas kebersihan dengan tugas menyapu.
Ia menyebut upah minimal Rp100.000 per hari bagi mereka yang bersedia bekerja dengan sungguh-sungguh dan menjalankan tanggung jawabnya.
KDM juga menyampaikan rencana mendata orang-orang yang ditemuinya untuk dikoordinasikan dengan dinas sosial dan kepala daerah setempat.
Langkah tersebut diarahkan agar warga yang membutuhkan dapat memperoleh perhatian lebih lanjut, sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan melalui pekerjaan.
Namun, tawaran pekerjaan dalam video itu belum otomatis berarti perekrutan telah dilakukan. Kepastian mengenai jumlah pekerja, mekanisme penempatan, sumber anggaran, dan waktu pelaksanaan masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut dari pihak terkait.
Fungsi Taman Sriwijaya Jadi Sorotan
Kondisi Taman Sriwijaya yang terlihat dalam rekaman memunculkan pertanyaan mengenai pengelolaan ruang publik di kawasan tersebut.
Taman kota pada dasarnya menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk beristirahat, beraktivitas, dan menikmati lingkungan terbuka. Ketika fasilitasnya digunakan untuk menjemur pakaian dan tidur dalam waktu lama, pemerintah daerah perlu melihat persoalan tersebut secara lebih menyeluruh.
Penanganannya tidak cukup hanya dengan membersihkan taman atau melarang aktivitas tertentu. Pemerintah juga perlu memahami alasan orang-orang memilih tinggal atau menghabiskan waktu di lokasi tersebut, termasuk kemungkinan persoalan ekonomi, tempat tinggal, dan akses terhadap layanan sosial.
Pendekatan yang menggabungkan penataan ruang publik dengan pendataan dan pendampingan sosial dapat menjadi salah satu langkah untuk mencari penyelesaian yang lebih berkelanjutan.
Di sisi lain, kebersihan aliran sungai yang turut diamati KDM dalam kunjungan tersebut juga menjadi perhatian. Dalam rekaman, aliran air terlihat dipenuhi sampah, terutama plastik, sehingga membutuhkan perhatian terhadap kebersihan dan pengelolaan lingkungan.
Penanganan Sosial Perlu Diikuti Tindak Lanjut
Kunjungan KDM ke Taman Sriwijaya memperlihatkan dua persoalan yang saling berkaitan, yakni kondisi ruang publik dan kebutuhan sosial warga yang berada di dalamnya.
Tawaran pengobatan, bantuan untuk pulang ke kampung halaman, serta peluang pekerjaan dapat menjadi langkah awal. Namun, manfaatnya akan sangat ditentukan oleh tindak lanjut pemerintah daerah dan dinas terkait.
Pendataan perlu diikuti dengan pemeriksaan kebutuhan setiap orang, termasuk kondisi kesehatan, identitas, tempat tinggal, dan kemungkinan akses terhadap pekerjaan. Sementara itu, penataan taman membutuhkan pengelolaan yang konsisten agar fasilitas publik dapat kembali digunakan sesuai fungsinya.
Dengan demikian, perhatian terhadap Taman Sriwijaya tidak berhenti pada sebutan “taman jemuran” atau “taman molor”. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana pemerintah memastikan ruang publik tetap terawat sekaligus menangani warga yang membutuhkan bantuan secara manusiawi dan berkelanjutan.

