Lewati ke konten
Daerah

Erupsi Anak Krakatau Mulai Ubah Aktivitas Warga Serang

Redaktur Lintas JabarSeptember 7, 20265 menit baca146 dilihat
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA SERANG – Erupsi Gunung Anak Krakatau kini bukan lagi sekadar pemandangan dari kejauhan. Abu vulkanik yang terbawa angin mulai mengubah aktivitas masyarakat di daratan Banten.

Di Kabupaten Serang, sekolah di tujuh kecamatan terdampak abu vulkanik diarahkan menerapkan pembelajaran daring. Sementara di Kota Serang, seluruh satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD dan SMP juga dialihkan sementara ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Sekolah berpindah ke layar.

Warga diminta lebih banyak berada di rumah.

Aktivitas luar ruangan mulai dikurangi.

Ini menjadi gambaran nyata bagaimana erupsi Anak Krakatau mulai memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, meski pusat gunung api berada jauh di tengah Selat Sunda.

Tujuh kecamatan Kabupaten Serang mulai belajar daring

Pemerintah Kabupaten Serang mengambil langkah khusus untuk sekolah-sekolah di wilayah yang terpapar abu vulkanik.

Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menyatakan pembelajaran tatap muka akan dihentikan sementara dan diganti dengan sistem daring di tujuh kecamatan.

Ketujuh wilayah tersebut adalah Anyer, Cinangka, Padarincang, Baros, Pabuaran, Ciomas dan Mancak.

Kebijakan tersebut disiapkan karena paparan abu dinilai dapat membahayakan kesehatan siswa maupun tenaga pendidik, terutama jika material vulkanik terhirup.

Pemkab Serang menyatakan pembelajaran daring akan diberlakukan selama aktivitas erupsi masih berlangsung dan kondisi belum dinilai aman.

Artinya, sekolah tidak diliburkan begitu saja.

Anak-anak tetap belajar, tetapi ruang kelasnya untuk sementara pindah ke rumah.

Langkah ini sekaligus menjadi bentuk mitigasi agar siswa tidak harus melakukan perjalanan dan beraktivitas di luar rumah ketika paparan abu masih terjadi.

Kota Serang ikut mengubah pola belajar

Dampaknya bahkan meluas ke wilayah Kota Serang.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang menetapkan seluruh satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD dan SMP melaksanakan PJJ atau belajar dari rumah pada Senin, 7 September 2026.

Keputusan tersebut berlaku sementara selama satu hari dan akan dievaluasi berdasarkan perkembangan situasi.

Pemantauan tidak hanya melihat apakah abu masih turun.

Pemerintah Kota Serang juga mempertimbangkan kualitas udara serta arah sebaran abu vulkanik sebelum menentukan kebijakan pembelajaran berikutnya.

Dengan demikian, sekolah di Kota Serang tidak otomatis kembali belajar tatap muka hanya karena hujan abu mereda sementara.

Kondisi lingkungan tetap menjadi pertimbangan.

Wali kota minta warga jangan panik, tapi jangan menganggap remeh

Wali Kota Serang Budi Rustandi mengingatkan masyarakat agar tidak panik.

Namun tenang bukan berarti mengabaikan kondisi.

Warga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Masker dan kacamata dianjurkan digunakan untuk melindungi saluran pernapasan serta mata dari paparan abu vulkanik.

Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama anak-anak, lanjut usia dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.

Pintu, jendela dan ventilasi rumah juga disarankan ditutup untuk mengurangi masuknya abu.

Tempat penyimpanan air minum dan bahan makanan pun perlu dilindungi agar tidak terkontaminasi.

Jalan juga mulai terdampak

Abu vulkanik tidak hanya menjadi persoalan kesehatan.

Ketika menempel di permukaan jalan, abu dapat membuat jalan lebih licin dan mengurangi jarak pandang pengendara.

Karena itu, pengguna kendaraan diminta meningkatkan kewaspadaan, menyalakan lampu kendaraan dan menjaga jarak aman.

Situasi ini menunjukkan bahwa dampak erupsi bisa menjalar ke berbagai aktivitas yang selama ini dianggap biasa.

Pergi sekolah terdampak.

Berkendara terdampak.

Aktivitas di luar rumah juga harus dikurangi.

Bahkan kualitas udara menjadi salah satu indikator untuk menentukan apakah sekolah bisa kembali dibuka secara normal.

Belum ada perintah evakuasi

Meski dampaknya mulai terasa di daratan, Pemkab Serang menegaskan belum ada instruksi bagi masyarakat untuk mengungsi.

BPBD dan pemerintah daerah masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Warga diminta tetap berada di rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak dan mengikuti arahan pemerintah.

Artinya, kondisi saat ini lebih diarahkan pada upaya mengurangi paparan abu dan menjaga kesehatan masyarakat, bukan evakuasi massal.

Namun situasi gunung api bisa berubah.

Karena itu, pemerintah meminta camat, kepala desa dan perangkat daerah tetap siaga.

Anak-anak menjadi kelompok yang harus dilindungi

Perubahan sistem pembelajaran menjadi daring memperlihatkan bahwa dampak bencana tidak selalu berbentuk kerusakan bangunan atau korban jiwa.

Kadang tanda paling nyata justru terlihat dari perubahan rutinitas.

Anak yang biasanya berangkat sekolah pagi-pagi kini belajar dari rumah.

Guru yang biasanya berdiri di depan kelas kini mengajar melalui layar.

Orang tua pun kembali mendapat peran tambahan untuk mendampingi anak selama pembelajaran berlangsung.

Semua itu dilakukan bukan karena sekolah berhenti berfungsi.

Justru karena sekolah harus tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan.

Kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Kemendikdasmen yang meminta daerah menyesuaikan layanan pendidikan dengan tingkat dampak abu vulkanik. Sekolah di wilayah terdampak berat dapat menerapkan PJJ, sementara wilayah yang relatif aman dapat tetap melakukan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan dan keselamatan.

Erupsi belum boleh dianggap selesai

Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau memang terus dipantau.

PVMBG menyebut aktivitas gunung sempat mengalami penurunan, tetapi potensi erupsi masih ada sehingga pemantauan tetap dilakukan selama 24 jam.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan satu kondisi sesaat sebagai tanda bahwa situasi sudah sepenuhnya aman.

Abu bisa berubah arah mengikuti angin.

Kondisi udara bisa berubah.

Aktivitas gunung juga dapat kembali meningkat.

Inilah alasan pemerintah memilih langkah pencegahan.

Lebih baik anak-anak belajar dari rumah selama beberapa hari daripada harus berhadapan dengan risiko kesehatan hanya demi mempertahankan rutinitas sekolah.

Erupsi Anak Krakatau akhirnya memperlihatkan satu hal sederhana.

Ketika abu vulkanik turun, yang berubah bukan hanya warna jalan dan atap rumah.

Rutinitas masyarakat pun ikut berubah.

Sekolah pindah ke layar.

Aktivitas warga masuk rumah.

Masker dan kacamata menjadi perlengkapan penting.

Dan pemerintah kini harus memastikan satu hal: masyarakat tetap bisa beraktivitas tanpa mengabaikan keselamatan.

Karena dalam situasi seperti ini, belajar bisa dilakukan dari rumah.

Bekerja bisa disesuaikan.

Perjalanan bisa ditunda.

Tetapi kesehatan tidak bisa diputar ulang.

(red)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaAbu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Sekolah, Mendikdasmen Minta Daerah Siapkan PJJ Berita SelanjutnyaKDM Murka soal Iuran Rp700 Ribu di SMKN 15 Bekasi, Pagar Rp700 Juta Kini Ditanggung Pemprov
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza