lintasjabar.id, BERITA BANDUNG BARAT – Perjalanan menuju sekolah bagi sebagian anak di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, bukan sekadar soal berjalan kaki atau mencari kendaraan.
Mereka harus menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit bambu.
Kondisi tersebut menjadi sorotan setelah aktivitas para siswa yang setiap hari menggunakan rakit untuk menuju sekolah beredar di media sosial. Persoalan yang selama ini menjadi keseharian warga itu akhirnya mendapat respons langsung dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dedi memerintahkan tim Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Jawa Barat turun langsung ke lokasi untuk melihat kemungkinan pembangunan jembatan.
Respons itu disampaikan Dedi Mulyadi setelah melihat tayangan anak-anak sekolah yang harus menyeberangi perairan di wilayah Cililin untuk mencapai sekolah mereka.
Puluhan Tahun Rakit Jadi Jalan ke Sekolah
Di Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, rakit bukan sekadar alat penyeberangan.
Bagi warga, rakit sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bahkan, penggunaan rakit untuk membantu anak-anak menuju sekolah disebut telah berlangsung sejak sekitar 1990.
Saat ini, sebanyak 16 siswa SDN Budiharja masih menggunakan rakit untuk pergi dan pulang sekolah.
Mereka memilih jalur air karena perjalanan melalui jalur darat harus memutar hingga hampir empat kilometer. Sementara menyeberangi waduk menjadi pilihan yang jauh lebih singkat.
Rakit berukuran besar bahkan dapat membawa sekitar 15 hingga 20 anak dalam satu perjalanan.
Masalahnya, sarana tersebut bukanlah infrastruktur permanen.
Rakit bambu yang digunakan warga harus dibuat dan diganti secara berkala. Warga selama ini melakukan pembuatan rakit secara swadaya.
Dengan kata lain, akses menuju sekolah masih bertumpu pada sesuatu yang sewaktu-waktu bisa rusak.
Bukan Sekadar Soal Jarak
Bagi orang dewasa, perjalanan menggunakan rakit mungkin terlihat sebagai persoalan akses.
Tetapi bagi anak-anak sekolah, situasinya memiliki konsekuensi yang berbeda.
Mereka harus menyesuaikan waktu keberangkatan dengan kondisi penyeberangan.
Saat hujan turun atau kondisi waduk kurang bersahabat, kekhawatiran orang tua pun meningkat.
Pilihan lainnya adalah melalui jalur darat yang lebih jauh.
Situasi tersebut membuat persoalan akses pendidikan di Kampung Sadang tidak berhenti pada soal jarak tempuh.
Ada faktor keselamatan, kenyamanan dan kepastian perjalanan anak-anak menuju sekolah.
Warga sebenarnya sudah lama berharap adanya jembatan yang menghubungkan kawasan tempat tinggal mereka dengan lokasi sekolah.
Kini, harapan tersebut kembali mencuat setelah kondisi para siswa diketahui publik secara lebih luas.
KDM Kirim Tim PU Cek Lokasi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merespons persoalan tersebut dengan meminta tim DBMPR turun ke lokasi.
Tim tersebut akan melihat kondisi lapangan sekaligus mengkaji kemungkinan pembangunan akses penyeberangan.
Belum diputuskan apakah solusi yang paling memungkinkan berupa jembatan permanen atau jembatan gantung.
Pilihan tersebut akan ditentukan setelah tim teknis melihat kondisi lokasi dan kebutuhan masyarakat.
Dedi menegaskan, yang paling penting adalah anak-anak tidak lagi harus menggunakan rakit untuk pergi ke sekolah.
Pemprov Jawa Barat juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat mengenai pihak yang nantinya menangani pembangunan jika rencana jembatan dinilai layak.
Jangan Sampai Rakit Jadi Warisan
Respons cepat pemerintah tentu memberi harapan baru bagi warga.
Namun, persoalan yang muncul di Kampung Sadang juga menjadi pengingat bahwa masih ada akses pendidikan di Jawa Barat yang belum sepenuhnya ditopang infrastruktur memadai.
Selama puluhan tahun, warga bertahan dengan solusi sederhana.
Rakit dibuat, digunakan, rusak, kemudian dibuat kembali.
Begitu terus.
Bagi warga mungkin itu adalah bentuk bertahan hidup. Tetapi untuk anak-anak, akses menuju sekolah semestinya tidak bergantung pada seberapa kuat bambu menahan beban atau seberapa bersahabat kondisi waduk pagi itu.
Karena itu, kajian tim DBMPR menjadi langkah penting untuk menentukan apakah jembatan memang dapat dibangun di lokasi tersebut.
Jika memungkinkan, pembangunan akses penyeberangan bukan hanya menyelesaikan persoalan perjalanan 16 siswa.
Lebih jauh, jembatan tersebut dapat menjadi akses bagi warga yang selama ini menggunakan rakit untuk menuju kebun, membawa barang maupun menjalankan aktivitas ekonomi.
Dan jika akhirnya jembatan benar-benar dibangun, mungkin sudah waktunya rakit bambu di Waduk Saguling berhenti menjadi satu-satunya jalan anak-anak menuju sekolah. (red)

