Lewati ke konten
Nasional

Gerhana Bulan 28 Agustus 2026, Indonesia Cuma Bisa Nonton Online

Redaktur Lintas JabarAgustus 25, 20263 menit baca79 dilihat
ADS BANNER
728 x 90

lintasJabar.id, BERITA NASIONAL – Langit dunia akan kembali dihiasi fenomena astronomi menarik pada 28 Agustus 2026. Gerhana Bulan Sebagian akan terjadi dan sebagian besar permukaan Bulan akan masuk ke dalam bayangan inti Bumi.

Namun ada kabar yang mungkin bikin pengamat langit di Indonesia kecewa.

Gerhana Bulan Sebagian 28 Agustus 2026 ternyata tidak dapat disaksikan secara langsung dari wilayah Indonesia.

Bukan karena Bulannya tidak muncul, melainkan karena seluruh rangkaian utama gerhana berlangsung ketika Bulan berada di bawah horizon Indonesia.

Artinya, kalau malam 28 Agustus nanti masyarakat Indonesia sudah menyiapkan kursi, kopi, bahkan teleskop untuk menunggu Bulan berubah warna, kemungkinan besar yang terlihat hanyalah Bulan biasa.

Gerhana Bulan 28 Agustus 2026 Terjadi Siang Hari di Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Gerhana Bulan Sebagian terjadi pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Berdasarkan Almanak BMKG 2026, fase gerhana dimulai ketika sebagian Bulan mulai memasuki bayangan inti Bumi pada pukul 09.33.48 WIB.

Puncak gerhana terjadi sekitar pukul 11.14.04 WIB.

Setelah itu, fase sebagian berakhir pada pukul 12.51.55 WIB dan seluruh rangkaian gerhana berakhir sekitar pukul 14.01.41 WIB.

Masalahnya sederhana: pada rentang waktu tersebut, masyarakat Indonesia sedang menjalani aktivitas siang hari, sementara Bulan berada di bawah horizon.

Karena itu, BMKG memastikan fenomena tersebut tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia.

Hampir Seluruh Bulan Masuk Bayangan Bumi

Meski disebut gerhana Bulan sebagian, fenomena kali ini bukan gerhana yang β€œnanggung”.

Pada saat maksimum, sebagian besar cakram Bulan akan masuk ke dalam umbra atau bayangan inti Bumi.

Data astronomi yang dikutip dari NASA menunjukkan sekitar 93 persen diameter Bulan berada di dalam umbra saat puncak menurut perhitungan tertentu. Sumber astronomi lain memperkirakan tingkat penggelapan cakram Bulan mencapai sekitar 96 persen.

Karena sebagian besar permukaan Bulan tertutup bayangan Bumi, bagian yang masuk ke dalam umbra dapat terlihat lebih gelap dengan rona kemerahan atau seperti warna tembaga.

Tetapi jangan buru-buru menyebutnya Blood Moon.

Secara astronomis, fenomena tersebut tetap merupakan Gerhana Bulan Sebagian, bukan Gerhana Bulan Total.

Negara Mana yang Bisa Menyaksikan?

Kesempatan menyaksikan gerhana secara langsung justru dimiliki masyarakat di sejumlah wilayah lain.

Fenomena tersebut dapat diamati dari sebagian besar wilayah Amerika, sejumlah kawasan Eropa, Afrika, serta beberapa wilayah lain yang berada dalam area visibilitas gerhana.

Karena gerhana Bulan hanya bisa terlihat ketika Bulan berada di atas horizon, lokasi geografis menjadi faktor penentu.

Itulah sebabnya satu fenomena astronomi yang sama bisa terlihat jelas dari satu negara, tetapi sama sekali tidak terlihat dari negara lain.

Indonesia berada di sisi Bumi yang tidak mendapatkan kesempatan tersebut.

Tetap Bisa Menonton dari Indonesia

Tidak bisa melihat langsung bukan berarti masyarakat Indonesia harus melewatkan seluruh fenomenanya.

Pengamatan dapat dilakukan melalui siaran langsung dari wilayah yang mengalami malam ketika gerhana berlangsung.

Sejumlah platform astronomi biasanya menyediakan siaran pengamatan gerhana secara daring, termasuk Time and Date, Virtual Telescope Project, maupun observatorium yang melakukan pemantauan langsung.

Dengan begitu, masyarakat Indonesia tetap bisa menyaksikan proses Bulan perlahan masuk ke dalam bayangan Bumi meski bukan melalui langit di atas rumah sendiri.

Gerhana Bulan Berbeda dengan Gerhana Matahari

Ada satu hal menarik lainnya.

Berbeda dengan gerhana Matahari, gerhana Bulan aman diamati secara langsung tanpa menggunakan kacamata khusus.

Cahaya Bulan yang dipantulkan dari Matahari tidak memiliki intensitas seperti cahaya Matahari langsung yang dapat membahayakan mata.

Penggunaan binokular atau teleskop justru dapat membantu melihat detail permukaan Bulan dan perubahan bayangan Bumi dengan lebih jelas.

Jadi, kalau ingin berburu fenomena astronomi pada 28 Agustus, masyarakat Indonesia tidak perlu repot mencari tempat terbuka untuk menunggu Bulan.

Sebab kali ini, langit Indonesia memang tidak kebagian pertunjukan utamanya.

Gerhana Bulan Sebagian tetap terjadi pada 28 Agustus 2026, tetapi bagi pengamat di Indonesia, cara paling realistis untuk menyaksikannya adalah melalui siaran langsung dari wilayah yang berada dalam jalur pengamatan.

Fenomenanya nyata.

Bulan benar-benar akan masuk ke dalam bayangan Bumi.

Hanya saja, Indonesia kebagian status sebagai penonton dari jauh. (red)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaKeterangan Janggal Saat Urus Paspor, Imigrasi Depok Bongkar Dugaan TPPO Berita SelanjutnyaWNA di Tasikmalaya dan Bayang-Bayang Aliran Dana, Ada Apa?
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza