Lewati ke konten
Daerah

20 Tahun Menunggu, Warga Cipatujah Perbaiki Jalan Sendiri

Redaktur Lintas JabarAgustus 24, 20264 menit baca121 dilihat
ADS BANNER
728 x 90

lintasJabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu sebuah jalan menjadi layak dilalui. Namun bagi sekitar 300 kepala keluarga di Dusun Buniayu, Desa Cikawungading, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, penantian itu belum juga berujung pada aspal.

Akhirnya, warga memilih berhenti menunggu.

Dengan batu, alat seadanya dan tenaga sendiri, mereka bergotong royong memperbaiki ruas jalan Neglasari-Sukasari yang panjangnya sekitar 6 kilometer.

Sudah tiga bulan terakhir, setiap Sabtu warga turun ke jalan. Batu dikumpulkan, permukaan jalan diratakan, dan bagian yang rusak diperbaiki secara manual agar kendaraan bisa kembali melintas.

Ironisnya, jalan yang mereka benahi bukan jalan menuju tempat terpencil yang tidak punya aktivitas. Jalur tersebut justru menjadi salah satu akses penting bagi warga menuju sekolah, fasilitas kesehatan, kegiatan ekonomi hingga jalur nasional di pesisir Tasikmalaya Selatan.

Bukan Tidak Pernah Mengadu, Warga Sudah Lama Menunggu

Warga bukan tiba-tiba menemukan ide untuk memperbaiki jalan secara swadaya.

Aspirasi mengenai kondisi jalan disebut sudah disampaikan melalui pemerintah desa, Pemkab Tasikmalaya hingga anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya dari daerah pemilihan setempat.

Namun, hasil yang ditunggu tak kunjung datang.

Alasan keterbatasan anggaran pun kembali terdengar.

Di titik tertentu, alasan tersebut mungkin bisa dipahami. Pemerintah memang harus membagi anggaran untuk berbagai kebutuhan.

Tetapi bagi warga yang setiap hari harus melewati jalan rusak selama bertahun-tahun, persoalannya sederhana: sampai kapan mereka harus menunggu?

Ketika jalan menjadi akses menuju sekolah, mengangkut hasil bumi dan membawa warga menuju fasilitas pelayanan dasar, kerusakan infrastruktur bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan.

Ia menyentuh langsung urusan kehidupan sehari-hari.

Warga Urunan Tenaga, Pemerintah Diharapkan Turun Tangan

Salah seorang tokoh masyarakat Buniayu, mengatakan warga rutin melakukan gotong royong setiap Sabtu selama sekitar tiga bulan terakhir.

Mereka mengumpulkan batu dari sekitar kampung kemudian meratakannya untuk membuat jalur lebih memungkinkan dilalui kendaraan roda empat.

Menurutnya, pembangunan dan pengaspalan ruas tersebut akan membuka akses warga Neglasari yang selama ini menghadapi keterbatasan mobilitas.

β€œAkses jalan Neglasari-Sukasari menuju jalan nasional sekitar 6 kilometer. Jika dibangun dan diaspal, ini akan langsung membuka isolasi warga Neglasari dan memangkas jarak tempuh secara drastis,” ungkap beliau saat kegiatan gotong royong, Sabtu (22/8/2026).

Pernyataan itu menggambarkan persoalan yang sebenarnya jauh lebih besar daripada permukaan jalan yang berlubang.

  • Ada soal akses.
  • Ada soal jarak tempuh.
  • Ada soal biaya yang harus dikeluarkan warga.
  • Dan ada pula soal kesempatan ekonomi yang ikut tertahan ketika sebuah wilayah sulit dijangkau.

Jalan Rusak, Sekolah dan Ekonomi Ikut Terdampak

Ruas Neglasari-Sukasari digunakan warga untuk berbagai kebutuhan.

Di sepanjang jalur tersebut terdapat akses menuju SD Neglasari, SMP Satap Desa Cikawungading, SMAN Cikawungading hingga SMAN 1 Cipatujah.

Jalur tersebut juga digunakan untuk mengangkut komoditas gula aren yang menjadi salah satu aktivitas ekonomi masyarakat.

Artinya, semakin buruk kondisi jalan, semakin besar pula beban yang harus ditanggung masyarakat.

Kendaraan membutuhkan waktu lebih lama. Biaya operasional meningkat. Distribusi hasil pertanian menjadi tidak mudah.

Pada musim hujan, persoalannya bahkan bertambah.

Jalan yang berada di kawasan perbukitan dapat berubah menjadi licin dan berlumpur sehingga semakin menyulitkan kendaraan untuk melintas.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Pembangunan jalan memang membutuhkan anggaran besar. Tetapi membiarkan akses ekonomi dan pendidikan warga tertahan selama bertahun-tahun juga memiliki biaya sosial yang tidak sedikit.

Ada Jembatan Gantung yang Ikut Jadi Masalah

Persoalan akses warga Buniayu ternyata bukan hanya soal badan jalan.

Keberadaan Jembatan Gantung Cibuniayu juga menjadi salah satu hambatan bagi kendaraan roda empat untuk mencapai wilayah Neglasari.

Menurut keterangan pemerintah desa, pembangunan jembatan permanen sebenarnya telah masuk dalam rencana jangka panjang APB Desa.

Namun, rencana tersebut harus ditangguhkan setelah alokasi Dana Desa 2026 mengalami penurunan.

Warga kini berharap para pemangku jabatan di Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dapat mengambil peran lebih besar, termasuk mempertimbangkan peningkatan status ruas Sukasari-Buniayu menjadi jalan kabupaten.

Harapannya jelas: jika status jalan berubah, penanganan infrastruktur tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kemampuan desa.

Dua Dekade Terlalu Lama untuk Sebuah Jalan

Ada satu hal yang mungkin sulit dibantah dari kisah warga Buniayu.

Gotong royong mereka patut diapresiasi.

Tetapi gotong royong seharusnya menjadi kekuatan masyarakat untuk menjaga lingkungan, bukan menjadi pengganti permanen kewajiban pemerintah menyediakan infrastruktur dasar.

  • Warga bisa mengumpulkan batu.
  • Warga bisa meratakan jalan.
  • Warga bahkan bisa menyumbangkan tenaga setiap pekan.

Namun, apakah warga juga harus menunggu dua dekade lagi untuk melihat jalan tersebut benar-benar dibangun dan diaspal?

Pertanyaan itu layak dijawab pemerintah daerah.

Apalagi ruas tersebut bukan hanya digunakan untuk kepentingan satu atau dua keluarga. Sekitar 300 KK menggantungkan aktivitas sehari-hari pada akses tersebut.

Karena itu, persoalan jalan Neglasari-Sukasari seharusnya tidak berhenti sebagai cerita tentang warga yang rajin bergotong royong.

Justru semangat warga tersebut semestinya menjadi alarm bagi pemerintah.

Masyarakat sudah menunjukkan bahwa mereka tidak tinggal diam.

Sekarang tinggal menunggu apakah pemerintah akan ikut turun tangan, atau warga kembali diminta bersabar untuk tahun ke-21 ? (red)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaPadepokan Pusaka Ma’ung Hideung Semarakkan HUT RI ke-81 di Pagaden Berita Selanjutnya2 Tahun Menunggu, Nasib Warga Cidadap Sukabumi Mulai Terjawab
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza