Kolesterol Tinggi Ancam Petugas BPBD Tasikmalaya, Dinkes Ingatkan Pegawai
- account_circle Redaktur Lintas Jabar
- calendar_month Senin, 18 Mei 2026
- visibility 119
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA — Pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya bagi karyawan dan staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya mengungkap temuan yang memprihatinkan. Mayoritas peserta yang mengikuti skrining kesehatan terdeteksi memiliki kadar kolesterol tinggi serta asam urat yang berada di atas ambang batas normal.
Temuan tersebut menjadi perhatian serius mengingat para petugas BPBD merupakan garda terdepan dalam penanganan situasi darurat dan kebencanaan yang membutuhkan kondisi fisik prima, stamina kuat, serta respons cepat di lapangan.
Kegiatan pemeriksaan kesehatan itu dilaksanakan langsung di lingkungan kantor BPBD Kabupaten Tasikmalaya pada Senin, 18 Mei 2026. Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari upaya deteksi dini terhadap risiko penyakit tidak menular yang berpotensi mengganggu produktivitas kerja para pegawai.
Kepala Tim Kesehatan, Dede Subekti, mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan cukup banyak pegawai yang memiliki masalah kesehatan terkait pola hidup.
“Banyak hasil pemeriksaan yang menunjukkan kadar kolesterol dan asam urat tinggi. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan, tentu menjadi ancaman serius. Apalagi tugas petugas BPBD di lapangan cukup berat dan membutuhkan kebugaran fisik yang optimal,” ujar Dede.

Pola Makan dan Kurang Istirahat Jadi Pemicu
Menurut Dede, faktor utama yang diduga memicu tingginya kadar kolesterol dan asam urat pada para pegawai adalah pola makan yang kurang terkontrol serta minimnya waktu istirahat akibat tuntutan pekerjaan.
Petugas BPBD kerap harus siaga dalam berbagai kondisi, mulai dari bencana alam, evakuasi warga, hingga penanganan kondisi darurat lainnya. Situasi tersebut membuat sebagian pegawai kerap mengabaikan pola hidup sehat, termasuk konsumsi makanan tinggi lemak, kurang aktivitas fisik teratur, hingga jam tidur yang tidak ideal.
Kondisi seperti ini, lanjutnya, tidak bisa dianggap sepele karena berisiko memicu gangguan kesehatan yang lebih serius seperti hipertensi, gangguan jantung, hingga penurunan performa kerja.
“Ini menjadi alarm penting bagi semua pihak. Jangan sampai petugas yang seharusnya menjadi penolong saat masyarakat menghadapi bencana justru mengalami gangguan kesehatan akibat pola hidup yang tidak sehat,” katanya.
Peserta Diarahkan Jalani Pemeriksaan Lanjutan
Sebagai langkah tindak lanjut, peserta yang hasil pemeriksaannya menunjukkan indikasi masalah kesehatan langsung diarahkan untuk melakukan konsultasi medis dan penanganan lanjutan di puskesmas terdekat. Dinas Kesehatan juga mendorong agar kegiatan pemeriksaan kesehatan serupa dilakukan secara berkala, khususnya bagi instansi dengan tingkat mobilitas dan tekanan kerja tinggi seperti BPBD.
Selain pemeriksaan rutin, edukasi terkait pola makan sehat, manajemen istirahat, serta pentingnya aktivitas fisik juga dinilai perlu diterapkan secara konsisten di lingkungan kerja.
BPBD Didorong Terapkan Budaya Kerja Sehat
Temuan ini menjadi momentum evaluasi bagi BPBD Kabupaten Tasikmalaya untuk mulai membangun budaya kerja yang lebih sehat. Penyediaan makanan bergizi, pengaturan waktu istirahat yang lebih baik, hingga agenda olahraga bersama dapat menjadi langkah preventif untuk menjaga kebugaran personel.
Dengan meningkatnya risiko bencana yang membutuhkan kesiapsiagaan tinggi, kondisi kesehatan petugas menjadi aspek yang tidak bisa diabaikan.
Jika kesehatan personel menurun akibat penyakit gaya hidup, maka kapasitas respons dalam menghadapi keadaan darurat pun berpotensi terganggu. Karena itu, deteksi dini dan perubahan pola hidup menjadi langkah penting untuk memastikan para petugas tetap siap menjalankan tugas kemanusiaan. (dh/hs)
- Penulis: Redaktur Lintas Jabar

Saat ini belum ada komentar