Warga Binaan LAPAS Tasikmalaya Dapat Santunan
- account_circle Deny Heryanto
- calendar_month Senin, 27 Apr 2026
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LintasJabar.Id, BERITA TASIKMALAYA – Momentum Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tasikmalaya berlangsung penuh makna. Perayaan yang digelar di Aula Lapas pada Senin (27/4/2026) itu tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi para penghuni lapas.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah Warga Binaan LAPAS Tasikmalaya menerima bantuan gerobak usaha tahu bulat sebagai bekal kemandirian setelah menyelesaikan masa pidana. Selain itu, santunan juga diserahkan kepada 10 warga binaan sebagai bentuk kepedulian sosial dari Pemerintah Kota Tasikmalaya.
Program ini menjadi bukti bahwa sistem pemasyarakatan modern tidak lagi sekadar menitikberatkan pada hukuman, melainkan pada pembinaan, pemberdayaan, dan reintegrasi sosial.
Bekal Nyata untuk Kehidupan Setelah Bebas
Pelaksana Harian Kepala Lapas Kelas IIB Tasikmalaya, Yadi Suryaman, mengatakan pemberian gerobak usaha merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang selama ini menjadi prioritas.
Menurutnya, warga binaan perlu dibekali keterampilan dan modal usaha agar mampu mandiri ketika kembali ke tengah masyarakat.
“Kami ingin mereka memiliki pegangan. Ketika bebas nanti, mereka bisa langsung berusaha dan tidak kembali melakukan kesalahan yang sama,” ujar Yadi.
Program ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mempersiapkan Warga Binaan LAPAS Tasikmalaya menghadapi kehidupan baru di luar tembok penjara.

Simbol Harapan dan Kesempatan Kedua
Gerobak tahu bulat yang diberikan bukan sekadar alat usaha. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi simbol kesempatan kedua bagi warga binaan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Usaha kuliner seperti tahu bulat dipilih karena relatif mudah dijalankan, membutuhkan modal terjangkau, serta memiliki pangsa pasar yang luas, baik di Kota Tasikmalaya maupun Kabupaten Tasikmalaya.
Dengan bekal tersebut, warga binaan diharapkan mampu memulai usaha secara mandiri sejak hari pertama menghirup udara bebas.
Santunan untuk Menumbuhkan Semangat
Tidak hanya bantuan usaha, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara, turut menyerahkan santunan kepada 10 warga binaan.
Bantuan ini diberikan sebagai bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap proses pembinaan yang sedang dijalani para penghuni lapas.
Menurut Diky, perhatian sekecil apa pun dapat menjadi suntikan motivasi bagi mereka.
“Santunan ini mungkin nilainya tidak besar, tetapi kami berharap bisa menjadi penyemangat untuk terus memperbaiki diri,” kata Diky.
Pemasyarakatan Bukan Sekadar Hukuman
Diky menegaskan, esensi pemasyarakatan adalah mengembalikan seseorang menjadi pribadi yang lebih baik, bukan sekadar menjalani hukuman.
Karena itu, berbagai program pelatihan dan pembinaan harus terus diperkuat.
“Hari Bakti Pemasyarakatan adalah momentum penting. Lapas harus menjadi tempat pembentukan karakter dan keterampilan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi berbagai program yang telah dijalankan Lapas Kelas IIB Tasikmalaya.
Dukungan bagi Reintegrasi Sosial
Proses reintegrasi sosial menjadi tantangan tersendiri bagi mantan narapidana. Masih adanya stigma di masyarakat sering kali menjadi hambatan saat mereka berusaha memulai hidup baru.
Karena itu, dukungan dari pemerintah, keluarga, dan masyarakat sangat dibutuhkan.
Keberhasilan program pembinaan Warga Binaan LAPAS Tasikmalaya tidak hanya bergantung pada lembaga pemasyarakatan, tetapi juga penerimaan lingkungan sosial.
Kisah Haru Penerima Bantuan
Salah seorang warga binaan penerima gerobak usaha tak kuasa menahan haru saat menerima bantuan tersebut.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada jajaran lapas dan pemerintah daerah.
“Ini menjadi modal untuk saya memulai hidup baru. Saya ingin berubah dan membuktikan bahwa saya bisa mandiri,” ujarnya.
Pernyataan sederhana itu menjadi gambaran nyata bahwa kesempatan kedua selalu memiliki arti besar.
Pembinaan Produktif di Tengah Keterbatasan
Di tengah kondisi hunian yang over kapasitas, Lapas Kelas IIB Tasikmalaya tetap berupaya menjalankan program pembinaan secara maksimal.
Berbagai pelatihan keterampilan rutin diberikan kepada warga binaan, mulai dari kerajinan tangan, pertanian, pengolahan makanan, hingga kewirausahaan.
Langkah ini sejalan dengan semangat pemasyarakatan yang humanis dan produktif.
Harapan untuk Masa Depan
Program bantuan usaha ini diharapkan dapat mengurangi angka residivisme di wilayah Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya.
Ketika mantan warga binaan memiliki pekerjaan dan penghasilan, peluang untuk kembali terjerumus ke dunia kriminal akan semakin kecil.
Lapas tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga menciptakan perubahan nyata bagi para penghuninya.
Menumbuhkan Optimisme
Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 menjadi pengingat bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Dari balik jeruji, lahir tekad, semangat, dan harapan baru.
Gerobak tahu bulat yang diserahkan hari itu mungkin terlihat sederhana, tetapi nilainya jauh lebih besar: sebuah jalan menuju kehidupan yang lebih bermartabat. (DH)
- Penulis: Deny Heryanto


Saat ini belum ada komentar