OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Tetap Tangguh di Tengah Krisis
- account_circle Redaktur Lintas Jabar
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia, Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil dan menunjukkan daya tahan yang kuat. Kepastian tersebut disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam paparan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Mei 2026 yang menyoroti perkembangan sektor keuangan nasional di tengah berbagai tekanan global.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa situasi ekonomi internasional masih dibayangi berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik hingga tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda. Meski demikian, industri jasa keuangan Indonesia dinilai masih mampu menjaga kinerja dan stabilitasnya.
Menurutnya, berbagai indikator menunjukkan bahwa kondisi sektor keuangan domestik masih berada dalam posisi yang sehat dan mampu menghadapi gejolak eksternal.
Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil Meski Tekanan Global Meningkat
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi ekonomi global. Ketidakpastian tersebut berdampak pada harga energi yang tetap tinggi dan memicu tekanan inflasi di berbagai negara.
Kondisi itu juga mendorong ekspektasi bahwa suku bunga global akan bertahan pada level tinggi dalam jangka waktu yang lebih panjang. Dampaknya terlihat dari kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah di sejumlah negara.
Meski demikian, OJK menilai sistem keuangan Indonesia masih mampu menjaga keseimbangan. Aktivitas intermediasi keuangan terus tumbuh positif, sementara tingkat solvabilitas lembaga jasa keuangan tetap berada pada level yang kuat.
Hal tersebut menjadi indikator bahwa sektor keuangan nasional masih memiliki fondasi yang cukup kokoh untuk menghadapi tantangan global.
Investor Pasar Modal Terus Bertambah
Di tengah fluktuasi pasar global, pasar modal Indonesia juga menunjukkan perkembangan positif. OJK mencatat jumlah investor terus mengalami peningkatan sepanjang tahun 2026.
Hingga akhir Mei, jumlah investor pasar modal tercatat mencapai 27,75 juta orang atau meningkat lebih dari 36 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sepanjang Mei 2026 saja terdapat tambahan sekitar 1,26 juta investor baru.
Peningkatan jumlah investor menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap instrumen investasi domestik meskipun kondisi pasar global masih bergejolak.
Likuiditas pasar juga dinilai tetap terjaga dengan baik. Salah satu indikatornya terlihat dari rata-rata bid ask spread yang masih berada pada level rendah.
Pasar Obligasi dan Penggalangan Dana Tetap Positif
Selain pasar saham, kinerja pasar obligasi nasional juga menunjukkan ketahanan. Indonesia Composite Bond Index tercatat menguat hingga mencapai level 437,26 pada akhir Mei 2026.
Meski yield Surat Berharga Negara (SBN) mengalami kenaikan akibat meningkatnya persepsi risiko global, aktivitas pendanaan korporasi di pasar modal tetap berjalan positif.
OJK mencatat nilai penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal telah mencapai Rp68,18 triliun hingga akhir Mei 2026. Sementara itu, masih terdapat puluhan rencana penawaran umum yang berada dalam tahap persiapan dengan nilai indikatif puluhan triliun rupiah.
Di sisi lain, penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding juga terus berkembang dan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.
OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) saat ini terus memantau dinamika pasar, termasuk dampak rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell. Berbagai kebijakan stabilisasi yang telah diterapkan dinilai masih efektif menjaga kepercayaan investor dan memastikan Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil di tengah tantangan ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda. (dh/hs)
- Penulis: Redaktur Lintas Jabar


Saat ini belum ada komentar