Lewati ke konten
Daerah

Ekonomi Jawa Barat Tumbuh 5,89 Persen, Melampaui Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Redaktur Lintas JabarNovember 6, 20264 menit baca42 dilihat
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA JAWA BARAT– Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan III 2026 mencapai 5,89 persen secara tahunan. Capaian tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,47 persen. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM menyambut positif perkembangan tersebut dan menyebut kesempatan kerja serta penyerapan tenaga kerja mulai meningkat.

Namun, di balik capaian pertumbuhan ekonomi tersebut, pekerjaan rumah pemerintah belum sepenuhnya selesai. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Jawa Barat masih berada di angka 6,67 persen pada Agustus 2026. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang membaik masih harus diikuti upaya lebih kuat agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Dedi Mulyadi menyampaikan apresiasi kepada berbagai kelompok masyarakat yang dinilai turut menggerakkan perekonomian daerah. Mulai dari pedagang, pengusaha, pekerja, petani, nelayan hingga jajaran pemerintahan di tingkat desa dan kabupaten/kota.

“Saya ucapkan terima kasih pada seluruh warga Jabar, para pedagang, para pengusaha, para pekerja, petani, nelayan, dari mulai RT sampai bupati wali kota,” ujar Dedi, Jumat (6/11/2026).

Menurut KDM, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,89 persen menjadi sinyal positif bagi Provinsi Jawa Barat. Ia juga menilai peningkatan aktivitas ekonomi mulai berdampak terhadap kesempatan kerja dan penyerapan tenaga kerja.

“Kesempatan kerjanya juga mulai meningkat, serapan kerja sudah mulai meningkat, angka pengangguran turun walaupun pasti yang nganggur masih banyak,” katanya.

Ekonomi Jabar Tumbuh di Atas Nasional

Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan III 2026 menunjukkan kinerja yang cukup kuat. Angka 5,89 persen secara tahunan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,47 persen.

Dari sisi lapangan usaha, sejumlah sektor menjadi penopang perekonomian daerah. Konstruksi tumbuh 9,10 persen, industri pengolahan 4,98 persen, dan perdagangan 4,13 persen.

Sementara itu, pertumbuhan lebih tinggi tercatat pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 14,54 persen. Administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib tumbuh 14,46 persen, transportasi dan pergudangan 13,61 persen, serta jasa lainnya 12,18 persen.

Besarnya pertumbuhan sektor akomodasi dan makan minum, transportasi, serta jasa lainnya menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat dan layanan pendukungnya bergerak cukup dinamis.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,93 persen dan masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Jawa Barat.

Pengangguran Turun, tetapi Belum Tuntas

Perbaikan ekonomi juga diikuti perkembangan positif pada sektor ketenagakerjaan. Jumlah penduduk bekerja di Jawa Barat pada Agustus 2026 mencapai 24,77 juta orang, bertambah sekitar 260 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tingkat Pengangguran Terbuka turun dari 6,77 persen pada Agustus 2025 menjadi 6,67 persen pada Agustus 2026.

Meski menunjukkan perbaikan, angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pengangguran masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah.

Ada persoalan lain yang perlu mendapat perhatian, yakni kesenjangan kesempatan kerja berdasarkan tingkat pendidikan. Tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK tercatat mencapai 12,19 persen, menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok pendidikan lainnya.

Kondisi ini menjadi catatan penting karena pendidikan vokasi semestinya mampu mempersiapkan lulusan agar lebih mudah memasuki dunia kerja.

Sektor perdagangan besar dan eceran menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Jawa Barat, dengan sekitar 5,71 juta pekerja atau 23,04 persen dari total penduduk bekerja.

Namun, struktur ketenagakerjaan masih didominasi sektor informal. Jumlah pekerja informal mencapai 13,62 juta orang atau 54,98 persen, sedangkan pekerja formal sekitar 11,15 juta orang atau 45,02 persen.

Pertumbuhan Ekonomi Harus Terasa di Kehidupan Warga

Angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi tentu menjadi kabar positif. Namun, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari peningkatan produk domestik regional bruto atau PDRB.

Pemerintah juga perlu memastikan bahwa pertumbuhan tersebut menghasilkan pekerjaan yang layak, pendapatan yang lebih baik, dan kesempatan ekonomi yang semakin merata.

Persoalan pengangguran lulusan SMK, dominasi pekerjaan informal, serta perbedaan kondisi ketenagakerjaan antara perkotaan dan perdesaan masih membutuhkan perhatian serius.

Tingkat pengangguran terbuka di wilayah perkotaan tercatat 6,98 persen, lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan sebesar 5,14 persen. Data ini menunjukkan bahwa tantangan penciptaan lapangan kerja tidak selalu sama di setiap wilayah.

Dedi Mulyadi sendiri mengakui pembangunan Jawa Barat masih memiliki banyak kekurangan. Ia meminta masyarakat memahami bahwa pemerintah masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan, terutama terkait warga yang belum mendapatkan pekerjaan.

“Saya meyakini bahwa pembangunan di Jawa Barat masih banyak kekurangannya. Untuk itu mohon dimaafkan atas kekurangan-kekurangan kami,” ujarnya.

Capaian ekonomi Jawa Barat sebesar 5,89 persen kini menjadi modal penting untuk melanjutkan pembangunan. Namun, ujian sesungguhnya adalah memastikan pertumbuhan itu tidak hanya terlihat dalam laporan statistik, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat melalui pekerjaan yang tersedia, penghasilan yang meningkat, dan peluang usaha yang semakin terbuka.

Sebab, bagi warga yang masih mencari pekerjaan, angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum otomatis mengubah keadaan. Mereka membutuhkan kesempatan nyata untuk bekerja dan memperoleh kehidupan yang lebih baik. (Red)

ADS BANNER
728 x 90

Redaktur Lintas Jabar

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaNewsPro.

Berita SebelumnyaBelum Punya NIB? Jangan Anggap Sepele, Ini Pintu Awal Legalitas dan Perizinan Usaha UMKM
ADS BANNER
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lisensi theme belum aktif Powered by Ahza