Lewati ke konten
Daerah

“Nyawa Suami Saya Tak Bisa Diganti Uang,” Jerit Istri Korban Tragedi Tower Banjar

Kang DoelJuli 5, 20263 menit baca140 dilihat
Yanti istri korban tragedi tower banjar
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.id, BERITA  BANJAR – Duka belum juga pergi dari rumah sederhana di RT 04 RW 01, Dusun Cijambu, Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar. Di tempat itu, Robiyanti (30) masih berusaha menerima kenyataan pahit setelah suaminya, Apip Kusmayadi (31), meninggal dunia dalam tragedi ambruknya tower SIMDA BPKPD Kota Banjar di kompleks perkantoran Purwaharja, Sabtu (4/7/2026).

Kisah Korban Tragedi Tower Banjar ini bukan lagi sekadar tentang kecelakaan kerja yang merenggut dua nyawa. Ada keluarga yang ditinggalkan, ada anak kecil yang terus mencari sosok ayahnya, dan ada pertanyaan tentang tanggung jawab yang hingga kini belum terjawab.

Apip menjadi salah satu korban bersama rekannya, Endut Kuswara (46), saat membongkar tower setinggi 80 meter yang tiba-tiba roboh ketika proses pekerjaan berlangsung. Bagi Robiyanti, kepergian itu terasa begitu cepat dan tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Korban Tragedi Tower Banjar Tinggalkan Luka Mendalam bagi Keluarga

Dua tahun membangun rumah tangga bersama Apip, kini Robiyanti harus menjalani hari-harinya tanpa sosok suami yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Yang paling menyayat hati, anak sambung almarhum yang masih berusia tiga tahun kerap terbangun pada malam hari sambil menanyakan keberadaan ayahnya.

Suasana rumah yang biasanya penuh canda kini berubah menjadi ruang sunyi yang dipenuhi air mata. Robiyanti mengaku tidak memiliki firasat apa pun sebelum suaminya berangkat bekerja pada pagi nahas itu.

Seperti biasa, Apip berpamitan sekitar pukul 05.30 WIB agar dapat bekerja lebih awal sebelum cuaca menjadi terlalu panas.

“Aa sempat bilang, rencananya naik dari jam 06.00 pagi dan mau turun jam 10.00 siang. Nanti dilanjut lagi sore biar enggak kepanasan,” kenangnya dengan suara bergetar, Minggu (5/7/2026).

Bahkan, selepas bekerja siang itu, almarhum telah berjanji akan menyusul acara makan bersama keluarga atau botram di kawasan Karang Pucung.

Namun takdir berkata lain. Pesan WhatsApp terakhir yang dikirim sekitar pukul 07.00 WIB, berisi kabar bahwa dirinya akan mulai naik ke tower. Satu setengah jam kemudian, kabar duka datang menghancurkan seluruh rencana keluarga.

Botram yang Tak Pernah Terjadi

Sekitar pukul 08.30 WIB, saat Robiyanti tengah memompa ban sepeda motor untuk berangkat, telepon dari adiknya tiba-tiba masuk. Tangis di seberang sambungan telepon langsung membuat tubuhnya lemas.

“Adik saya menelepon sambil menangis, memberi tahu kalau Aa sudah jatuh,” tuturnya.

Rencana makan bersama keluarga yang sudah dipersiapkan sejak pagi akhirnya tak pernah terjadi. Yang tersisa hanyalah kenangan tentang pesan terakhir dan janji untuk pulang sebelum siang.

Bagi keluarga, kehilangan itu terasa semakin berat karena terjadi secara mendadak tanpa kesempatan untuk mengucapkan perpisahan terakhir. Kini, setiap sudut rumah menyimpan cerita tentang sosok Apip yang dikenal pekerja keras dan selalu mengutamakan keluarganya.

Upah Belum Dibayar, Keluarga Menanti Tanggung Jawab

Di tengah duka yang mendalam, keluarga juga dihadapkan pada persoalan lain yang belum menemukan titik terang.

Menurut Robiyanti, pekerjaan pembongkaran tower tersebut dilakukan secara borongan perorangan dan bukan melalui perusahaan resmi. Suaminya menerima pekerjaan dengan sistem upah sebesar Rp1 juta per orang untuk target penyelesaian selama tiga hari.

“Suami saya cerita, upah borongannya Rp1 juta per orang untuk tiga hari kerja sampai beres. Tapi sampai Aa meninggal, sepeser pun belum ada bayaran yang kami terima,” ungkapnya.

Keluarga menyebut proyek tersebut dipercayakan oleh seseorang bernama Cecep. Namun hingga kini, pihak keluarga mengaku belum pernah didatangi ataupun dihubungi secara langsung untuk membicarakan tanggung jawab atas musibah tersebut.

Robiyanti menegaskan bahwa uang tidak akan pernah mampu menggantikan nyawa suaminya. Meski demikian, ia berharap ada itikad baik dan perhatian terhadap keluarga yang kini ditinggalkan.

“Nyawa suami saya tidak bisa diganti dengan uang, tapi tolong datangi kami, bagaimana pertanggungjawabannya untuk keluarga yang ditinggalkan,” tegasnya.

Sementara itu, sejumlah barang pribadi milik korban seperti telepon genggam dan sepeda motor masih diamankan kepolisian sebagai bagian dari proses penyelidikan.

Keluarga berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas legalitas proyek tersebut, termasuk memastikan penerapan standar keselamatan kerja yang semestinya dilakukan pada pekerjaan berisiko tinggi.

Bagi Robiyanti, keadilan bukan hanya soal proses hukum, tetapi juga tentang penghormatan terakhir kepada seseorang yang pergi demi mencari nafkah untuk keluarganya.(doel)

ADS BANNER
728 x 90

Kang Doel

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di lintasjabar.id

Berita SebelumnyaMakna Lirik Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejad: Ketika Humor Personal Dibaca Sebagai Narasi yang Merendahkan Perempuan Berita SelanjutnyaWali Kota Bandung Gagalkan Begal di Kiaracondong, Satu Pelaku Langsung Diamankan
Iklan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *