SDN 3 Sukanegla Garut Jadi Percontohan Sekolah Ramah Lingkungan
- account_circle Redaktur Lintas Jabar
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 67
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
lintasjabar.id, BERITA GARUT – Upaya menghadirkan fasilitas pendidikan yang berkelanjutan mulai terlihat di Kabupaten Garut. Salah satunya melalui pembangunan fasilitas baru di SDN 3 Sukanegla yang mengusung konsep Sekolah Ramah Lingkungan Garut dengan memanfaatkan material hasil daur ulang sampah plastik sebagai bagian dari konstruksi bangunan.
Program tersebut mendapat dukungan dari Yayasan Bakti Barito dan menjadi salah satu inovasi pembangunan yang menggabungkan sektor pendidikan dengan upaya pelestarian lingkungan. Selain menghadirkan ruang belajar yang lebih layak, proyek ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah bagi generasi muda.
Pembangunan fasilitas baru tersebut berlokasi di Kelurahan Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, dan mendapat perhatian langsung dari Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin.
Sekolah Ramah Lingkungan Garut Dorong Kesadaran Pengelolaan Sampah
Bupati Garut menilai pembangunan sekolah berbasis material daur ulang merupakan langkah positif yang sejalan dengan kebutuhan pembangunan masa depan.
Menurutnya, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran nyata mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup.
Melalui pemanfaatan material hasil pengolahan sampah plastik, para siswa dapat melihat secara langsung bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat.
Konsep tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah, khususnya di Kabupaten Garut.
Bata Plastik Daur Ulang Jadi Material Utama Bangunan
Dalam proyek pembangunan ini, sejumlah komponen bangunan memanfaatkan material hasil pengolahan sampah plastik residu.
Direktur Eksekutif Yayasan Bakti Barito, Fifi Pangestu, menjelaskan bahwa sampah plastik residu merupakan jenis limbah yang umumnya sulit diolah kembali melalui metode daur ulang konvensional dan sering berakhir di tempat pembuangan akhir.
Melalui teknologi pengolahan tertentu, limbah tersebut kemudian diubah menjadi panel dinding, plafon, hingga komponen pendukung sistem perpipaan bangunan.
Pendekatan ini dinilai mampu memberikan dua manfaat sekaligus, yakni mengurangi volume sampah dan menyediakan material konstruksi yang dapat digunakan untuk pembangunan fasilitas publik.
Pendidikan Berkelanjutan Jadi Fokus Pembangunan
Selain menghadirkan dua ruang kelas baru dan fasilitas sanitasi, proyek ini juga membawa pesan penting tentang pembangunan berkelanjutan.
Konsep ekonomi sirkular yang diterapkan menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat diubah menjadi peluang untuk menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Di tengah meningkatnya tantangan pengelolaan sampah plastik, langkah yang dilakukan di SDN 3 Sukanegla dinilai dapat menjadi inspirasi bagi sekolah maupun institusi lain untuk menerapkan pendekatan serupa.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan Yayasan Bakti Barito juga menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.
Kehadiran Sekolah Ramah Lingkungan Garut di SDN 3 Sukanegla diharapkan menjadi contoh nyata bahwa pendidikan dan kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh bersama demi menciptakan generasi yang lebih sadar akan pentingnya keberlanjutan. (dh/hs)
- Penulis: Redaktur Lintas Jabar


Saat ini belum ada komentar