Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Rentetan OTT Kepala Daerah, Alarm Krisis Integritas dan Kepercayaan Publik

Rentetan OTT Kepala Daerah, Alarm Krisis Integritas dan Kepercayaan Publik

  • account_circle Redaktur Lintas Jabar
  • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
  • visibility 31
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

LintasJabar.Id, OPINIDalam hitungan bulan, sejumlah kepala daerah kembali tersandung operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Terbaru, Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman diamankan dalam operasi KPK di Jawa Tengah. Penangkapan ini menambah daftar kepala daerah yang terjerat kasus korupsi dalam waktu yang relatif berdekatan.

Sebelumnya, sempat menarik perhatian publik juga ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjerat Bupati Pati Sudewo serta Bupati Pekalongan Fadia Arafiq dalam perkara berbeda.

Yang membuat publik semakin miris, rangkaian kasus tersebut terjadi di tengah bulan suci Ramadhan—periode yang bagi masyarakat Indonesia identik dengan refleksi moral, pengendalian diri, dan peningkatan ibadah.

Alih-alih menghadirkan kabar tentang integritas pejabat publik, bulan yang seharusnya sarat nilai spiritual justru diwarnai berita penangkapan pejabat daerah.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan serius: apakah integritas pejabat publik semakin rapuh, atau justru sistem politik yang terus memproduksi masalah yang sama?


Korupsi Kepala Daerah yang Tak Pernah Putus

Kasus korupsi yang melibatkan pejabat daerah sebenarnya bukan fenomena baru. Dalam beberapa tahun terakhir, KPK berkali-kali melakukan OTT terhadap kepala daerah di berbagai wilayah Indonesia.

Modusnya pun relatif serupa, mulai dari suap proyek pembangunan, pengaturan pengadaan barang dan jasa, jual beli jabatan, hingga praktik perizinan yang sarat kepentingan.

Pola berulang ini menunjukkan bahwa persoalan korupsi daerah tidak sekadar berkaitan dengan kesalahan individu.

Masalahnya lebih dalam, yakni sistem politik dan tata kelola kekuasaan di daerah yang masih menyimpan banyak celah.

Biaya politik yang mahal dalam pemilihan kepala daerah juga sering disebut sebagai salah satu faktor pemicu.

Untuk memenangkan pilkada, kandidat kerap harus mengeluarkan biaya besar untuk kampanye, konsolidasi politik, hingga mobilisasi dukungan.

Setelah terpilih, muncul tekanan untuk mengembalikan “modal politik”.

Di titik inilah praktik korupsi sering menemukan ruang.


Kepercayaan Publik Tergerus

Korupsi pejabat publik tidak hanya berdampak pada kerugian negara atau kebocoran anggaran.

Dampak yang lebih luas adalah tergerusnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem politik.

Kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat melalui proses demokrasi dan memperoleh legitimasi dari suara masyarakat.

Namun ketika pejabat yang dipilih justru tersandung kasus korupsi, publik mulai mempertanyakan efektivitas sistem tersebut.

Apakah demokrasi benar-benar mampu melahirkan pemimpin yang berintegritas?

Ataukah politik hanya menjadi arena perebutan kekuasaan dan kepentingan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini perlahan membentuk skeptisisme di tengah masyarakat.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memicu apatisme politik.

Sebagian masyarakat bisa saja mulai menjauh dari proses politik, baik melalui menurunnya partisipasi pemilih maupun berkurangnya minat mengikuti isu-isu politik.

Padahal, partisipasi publik merupakan salah satu fondasi utama dalam sistem demokrasi.


OTT Dipandang Sebagai Sinyal Penting

Peneliti kebijakan publik dari Institute for Development of Policy and Local Partnerships (IDP-LP), Riko Noviantoro, menilai langkah KPK melakukan OTT terhadap pejabat negara tetap perlu diapresiasi.

“Saya apresiasi upaya KPK melakukan berbagai operasi OTT terhadap aktor-aktor negara yang terlibat korupsi,” kata Riko Noviantoro di Depok, Jumat.

Menurutnya, kasus-kasus tersebut harus menjadi sinyal penting bagi pemerintah pusat mengenai masih seriusnya ancaman korupsi di lingkungan penyelenggara negara.

Ia juga menilai publik dan media massa memiliki peran penting dalam mengawasi dugaan praktik korupsi.

Riko berharap masyarakat tidak berhenti mengawal berbagai kasus yang melibatkan pejabat publik.


Kritik terhadap Arah Pemberantasan Korupsi

Namun pandangan berbeda datang dari Peneliti Pusat Studi Anti Korupsi (SAKSI) Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah.

Ia menilai arah pemberantasan korupsi oleh KPK saat ini terlalu bertumpu pada operasi tangkap tangan, namun belum cukup menyentuh kasus-kasus besar yang melibatkan lingkaran kekuasaan.

Menurut Herdiansyah, indikator keberhasilan KPK tidak seharusnya diukur dari banyaknya OTT.

“Sesungguhnya problem utama KPK itu bukan soal jumlah OTT. Angka memang penting, tapi yang dibutuhkan publik adalah KPK yang berani menyasar kasus-kasus besar dan kontroversial,” ujarnya.

Ia menilai selama ini penindakan KPK masih didominasi kasus di tingkat daerah, sementara aktor-aktor yang berada di pusat kekuasaan justru lebih sulit disentuh.

“KPK tidak seharusnya hanya menyasar pejabat daerah, tetapi juga mereka yang berada di lingkaran kekuasaan dan punya indikasi kuat terlibat dalam perkara korupsi,” katanya.

Herdiansyah menegaskan persoalan mendasar KPK bukan sekadar kuantitas penindakan, melainkan keberanian politik dan independensi lembaga tersebut dalam menjangkau pihak-pihak yang memiliki kekuasaan.


Alarm bagi Masa Depan Demokrasi

Rentetan OTT terhadap kepala daerah seharusnya menjadi alarm serius bagi sistem pemerintahan dan politik di Indonesia.

Pemberantasan korupsi tidak bisa hanya mengandalkan penangkapan demi penangkapan.

Lebih dari itu, dibutuhkan pembenahan struktural, mulai dari reformasi pembiayaan politik, transparansi pemerintahan daerah, hingga penguatan integritas pejabat publik.

Tanpa pembenahan tersebut, kasus serupa berpotensi terus berulang.

Dan jika korupsi terus menjadi berita rutin, yang paling berbahaya bukan hanya kerugian negara.

Tetapi juga hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap politik dan demokrasi itu sendiri. (red)

  • Penulis: Redaktur Lintas Jabar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rp841 Juta untuk Sarung? Mahasiswa Tasikmalaya Pertanyakan Prioritas Anggaran

    Rp841 Juta untuk Sarung? Mahasiswa Tasikmalaya Pertanyakan Prioritas Anggaran

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Redaktur Lintas Jabar
    • visibility 26
    • 0Komentar

    LintasJabar.Id, BERITA TASIKMALAYA – Kebijakan pengadaan sarung di tengah efisiensi anggaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Tasikmalaya Tahun Anggaran 2026 menuai kritik dari kalangan mahasiswa. Perhimpunan Mahasiswa Independen Tasikmalaya (PAMIT) menilai kebijakan tersebut menunjukkan adanya ketidaktepatan prioritas dalam penggunaan anggaran publik. Berdasarkan dokumen perencanaan pengadaan yang beredar, total anggaran pengadaan sarung di […]

  • Dedi Mulyadi Minta Maaf Tak ke Kampung Naga, Titip Pesan Jaga Galunggung

    Dedi Mulyadi Minta Maaf Tak ke Kampung Naga, Titip Pesan Jaga Galunggung

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Deny Heryanto
    • visibility 42
    • 0Komentar

    lintas jabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat mengunjungi Kampung Naga dalam agenda kunjungannya ke Tasikmalaya, Senin (4/5/2026). Alasan utama ketidakhadirannya adalah kondisi akses menuju lokasi yang terbatas. Jalan menuju kampung adat tersebut dikenal sempit dan hanya bisa dilalui dengan kapasitas terbatas. “Jalannya hanya satu dan sempit. […]

  • Kopi Bunar Tasikmalaya-lintasjabar

    Kopi Bunar Tasikmalaya dari Kampung Ke Pasar Internasional

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Deny Heryanto
    • visibility 213
    • 0Komentar

    lintasjabar.id, BERITA TASIKMALAYA – Produk kopi lokal asal Kabupaten Tasikmalaya kembali mencuri perhatian. Kopi Bunar, yang dikembangkan masyarakat Kampung Bunihurip, Kecamatan Pagerageung, berhasil menembus pasar Jepang dan menjadi salah satu produk unggulan daerah yang mulai dikenal di kancah internasional. Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Wakil Bupati Tasikmalaya Asep Sopari Al Ayubi […]

  • Boxing Van Java Sukses Digelar di GOR Dadaha Tasikmalaya

    Boxing Van Java Sukses Digelar di GOR Dadaha Tasikmalaya

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Deny Heryanto
    • visibility 31
    • 0Komentar

    LintasJabar.Id, BERITA TASIKMALAYA – Atmosfer olahraga tarung menyelimuti GOR Dadaha, Kota Tasikmalaya, akhir pekan ini. Ratusan petinju muda dari berbagai daerah memadati arena dalam ajang Boxing Van Java, kejuaraan tinju amatir yang berlangsung selama tiga hari dan sukses menyedot perhatian masyarakat. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 358 peserta ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Jumlah itu terdiri dari […]

  • Peran Penting Media Lokal, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Soroti Fungsi Strategis Pers Daerah

    Peran Penting Media Lokal, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Soroti Fungsi Strategis Pers Daerah

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Redaktur Lintas Jabar
    • visibility 34
    • 0Komentar

    LintasJabar.Id BERITA TASIKMALAYA — Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara, menegaskan bahwa peran penting media lokal tidak dapat dipandang sebelah mata dalam mendorong pembangunan daerah. Hal tersebut disampaikannya dalam forum penyiaran di Tasikmalaya, Selasa (21/4/2026), yang menjadi momentum refleksi atas posisi strategis pers daerah di tengah dinamika informasi saat ini. Dalam keterangannya, Diky mengaku […]

  • Komisi III Sidak Dapur SPPG: Puluhan Dapur Terancam Ditutup

    Komisi III Sidak Dapur SPPG: Puluhan Dapur Terancam Ditutup

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Redaktur Lintas Jabar
    • visibility 39
    • 0Komentar

    LintasJabar.Id, BERITA TASIKMALAYA — Temuan mengejutkan terungkap dalam inspeksi mendadak yang dilakukan DPRD Kota Tasikmalaya. Melalui agenda Komisi III Sidak Dapur SPPG, dewan menemukan salah satu dapur penyedia makanan bergizi di wilayah Singkup, Kecamatan Purbaratu, telah beroperasi selama berbulan-bulan tanpa mengantongi izin resmi. Fakta ini memicu kekhawatiran serius, mengingat dapur tersebut memproduksi makanan untuk kelompok […]

expand_less