Dedi Mulyadi Bahas Masa Depan Papua di Lembur Pakuan
- account_circle Redaktur Lintas Jabar
- calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
- visibility 180
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
lintasjabar.id, BERITA JAWA BARAT – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan publik nasional setelah menerima kunjungan tokoh agama dan akademisi asal Papua di Lembur Pakuan, Subang. Pertemuan tersebut membahas paradigma pembangunan Papua yang dinilai perlu lebih menitikberatkan pada pendekatan budaya, penguatan sumber daya manusia, dan penghormatan terhadap kearifan lokal.
Pertemuan tersebut berlangsung pada 17 Mei 2026, saat pengurus pusat komunitas profesional global Analisis Papua Strategis (APS) melakukan kunjungan kehormatan untuk bertemu Dedi Mulyadi.
Dalam agenda itu, rombongan disebut mendiskusikan arah pembangunan Papua ke depan, termasuk menyerahkan undangan resmi kepada Dedi Mulyadi untuk hadir sebagai pembicara utama dalam konferensi tahunan APS di Jayapura.
Ketua Analisis Papua Strategis yang juga akademisi Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih, Laus Rumayom, menilai Papua membutuhkan pendekatan pembangunan yang lebih inovatif dan kontekstual.

Menurutnya, pembangunan Papua tidak cukup hanya bertumpu pada pendekatan keamanan atau model teknokratis semata, tetapi harus menyentuh nilai budaya masyarakat setempat.
Ia menyebut konsistensi Dedi Mulyadi dalam mengangkat budaya lokal di Jawa Barat menjadi salah satu referensi menarik yang dinilai bisa memberi perspektif baru bagi pembangunan Papua.
Dedi Mulyadi Soroti Kearifan Lokal Papua
Dalam pertemuan tersebut, Dedi Mulyadi disebut menyambut positif diskusi yang berlangsung.
Ia menyoroti pentingnya melihat Papua bukan hanya dari sisi potensi sumber daya alam, tetapi juga dari kekayaan budaya dan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat adat.
Menurut Dedi, sejumlah praktik hidup masyarakat Papua justru menunjukkan bentuk kearifan ekologis yang tinggi.
Salah satu yang disinggung adalah rumah pohon tradisional masyarakat Korowai yang dinilai mencerminkan kemampuan masyarakat lokal hidup selaras dengan lingkungan tanpa merusak ekosistem.
Dedi juga menilai cara pandang terhadap Papua perlu diubah.
Menurutnya, ukuran pembangunan tidak selalu harus disamakan dengan model industrialisasi modern yang justru berpotensi menimbulkan eksploitasi berlebihan terhadap alam.
Papua, kata dia, memiliki karakteristik sosial dan geografis yang membutuhkan pendekatan pembangunan berbeda.
Fokus pada SDM Muda Papua
Dalam diskusi tersebut, Dedi Mulyadi juga disebut menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia muda Papua.
Pengembangan SDM dinilai harus diarahkan ke sektor-sektor strategis berbasis keunggulan wilayah.
Beberapa sektor yang disebut antara lain pertambangan yang dikelola oleh putra daerah, kelautan, transportasi, ekologi, hingga pembangunan infrastruktur penunjang yang sesuai kebutuhan wilayah.
Selain itu, pembangunan Papua juga dinilai perlu dijauhkan dari polarisasi politik berlebihan agar fokus utama tetap pada kesejahteraan masyarakat.
Pertemuan tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh agama, termasuk pendeta yang aktif dalam pendampingan sosial dan kebangsaan bagi generasi muda Papua.
Diskusi itu memperlihatkan adanya upaya mendorong model pembangunan yang tidak hanya berbicara soal ekonomi, tetapi juga identitas budaya, kualitas manusia, dan keberlanjutan lingkungan.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan kawasan timur Indonesia, gagasan seperti ini menjadi menarik karena menawarkan pendekatan yang lebih manusiawi dan berbasis karakter daerah.
Dengan nama besar Dedi Mulyadi yang dikenal kuat dengan narasi budaya lokal, pembahasan soal Papua ini pun menjadi perhatian publik. (hs)
- Penulis: Redaktur Lintas Jabar


Saat ini belum ada komentar