Lewati ke konten
Opini

Bulan Safar Sial? Ini Penjelasan Hadis Sahih tentang Mitos Musibah di Bulan Safar

Kang DoelJuli 18, 20263 menit baca47 dilihat
Bulan Safar Sial
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.idOPINI  – Memasuki bulan Safar 1448 Hijriah, kepercayaan bahwa bulan ini identik dengan kesialan dan musibah kembali ramai diperbincangkan di tengah masyarakat. Tak sedikit orang yang memilih menunda pernikahan, membuka usaha, bahkan membatalkan perjalanan karena menganggap bulan Safar membawa nasib buruk.

Lantas, benarkah Bulan Safar Sial seperti yang selama ini dipercaya sebagian masyarakat?

Dalam ajaran Islam, anggapan tersebut justru telah dijelaskan secara tegas oleh Rasulullah SAW melalui hadis sahih yang menjadi rujukan para ulama hingga saat ini.

Sabtu, 18 Juli 2026, umat Islam telah memasuki bulan Safar 1448 Hijriah. Kalender Hijriah Indonesia mencatat tanggal 3 Safar, sedangkan Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah mencatat 4 Safar. Meski terdapat perbedaan metode penanggalan, tidak ada satu pun yang menyatakan bulan Safar sebagai bulan pembawa kesialan.

Bulan Safar Sial? Hadis Sahih Rasulullah SAW Menjawabnya

Dilansir dari hadis sahih yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari Nomor 5707 dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya:

“Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada kesialan karena pertanda tertentu, tidak ada keyakinan buruk terhadap burung hantu, dan tidak ada kesialan pada Safar.”

Hadis tersebut menjadi dasar kuat bahwa Rasulullah SAW menolak berbagai keyakinan masyarakat Arab jahiliah yang menganggap waktu, benda, maupun peristiwa tertentu memiliki kekuatan membawa kesialan.

Para ulama memang memiliki beberapa penafsiran mengenai kata “Safar” dalam hadis tersebut. Namun, seluruh penafsiran bermuara pada satu kesimpulan bahwa bulan Safar tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan keburukan di luar ketetapan Allah SWT.

Penjelasan serupa juga disampaikan dalam berbagai kajian keislaman yang dipublikasikan NU Online dan Muhammadiyah yang menegaskan bahwa tidak terdapat dalil sahih yang menyatakan bulan Safar merupakan bulan sial bagi umat Islam.

Musibah Tidak Memilih Bulan dalam Kalender Hijriah

Al-Qur’an juga tidak pernah menyebut bulan Safar sebagai bulan pembawa musibah.

Allah SWT berfirman dalam Surat At-Tagabun ayat 11:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa musibah sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah SWT, bukan ditentukan oleh nama bulan dalam kalender Hijriah.

Musibah dapat terjadi pada Safar, Ramadan, Syawal, ataupun bulan lainnya. Demikian pula rezeki, kebahagiaan, kesembuhan, kelahiran anak, hingga keberhasilan dalam usaha juga dapat terjadi kapan saja atas izin Allah SWT.

Karena itu, menjadikan bulan Safar sebagai penyebab datangnya musibah merupakan keyakinan yang tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.

Bolehkah Menikah dan Membuka Usaha pada Bulan Safar?

Pertanyaan lain yang kerap muncul adalah mengenai hukum menikah, pindah rumah, membuka usaha, maupun melakukan perjalanan jauh pada bulan Safar.

Jawabannya, tidak terdapat hadis sahih yang melarang umat Islam melakukan berbagai aktivitas tersebut pada bulan Safar.

Keputusan untuk menikah ataupun membuka usaha seharusnya didasarkan pada kesiapan, kemampuan finansial, keamanan, serta pertimbangan yang rasional.

Menunda perjalanan karena cuaca buruk atau mengundur pernikahan karena keterbatasan biaya merupakan bentuk ikhtiar yang dibenarkan dalam Islam. Namun, menundanya hanya karena takut bulan Safar membawa kesialan tidak memiliki landasan syariat yang kuat.

Tidak Ada Amalan Khusus Wajib pada Bulan Safar

Sebagian masyarakat juga meyakini adanya ritual tertentu yang wajib dilakukan untuk menolak bala ketika memasuki bulan Safar.

Padahal, tidak ditemukan hadis sahih yang secara khusus memerintahkan pelaksanaan salat, puasa, maupun ritual tertentu hanya karena datangnya bulan Safar.

Umat Islam tetap dianjurkan memperbanyak amal saleh yang telah jelas tuntunannya, seperti:

  • Salat wajib dan sunnah.
  • Membaca Al-Qur’an.
  • Berzikir dan berdoa.
  • Bersedekah.
  • Berpuasa sunnah.
  • Menjaga silaturahmi.
  • Menolong sesama.

Seluruh amalan tersebut dilakukan karena merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT yang berlaku sepanjang waktu, bukan karena adanya ancaman musibah pada bulan Safar.

Pada akhirnya, bulan Safar hanyalah salah satu bulan dalam kalender Hijriah yang tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan kesialan maupun keberuntungan. Yang perlu dijaga oleh seorang Muslim bukanlah rasa takut terhadap sebuah nama bulan, melainkan menjaga iman, ilmu, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT dalam menjalani kehidupan.(doel)

ADS BANNER
728 x 90

Kang Doel

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di lintasjabar.id

Berita SebelumnyaKasus Pengeroyokan Dobo Picu Reaksi Warga, Polres Banjar Beri Penjelasan Berita SelanjutnyaDari Psikolog ke Pahlawan Dunia, Kebangkitan Ferran Torres
Iklan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *