Lewati ke konten
Opini

Dari Jawa Barat ke Provinsi Sunda, Kini Sejarah Seolah Memanggil Pulang

Kang DoelJuli 4, 20263 menit baca36 dilihat
Provinsi Sunda, Sejarah seolah Memanggil Pulang
ADS BANNER
728 x 90

lintasjabar.idOPINI – Bagi banyak orang, perdebatan tentang perubahan nama Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda mungkin hanya soal administrasi pemerintahan. Namun bagi sebagian warga Tatar Pasundan, ini adalah percakapan tentang ingatan yang panjang, tentang nama yang pernah hidup, lalu perlahan menghilang dari lembar resmi negara.

Sebelum Indonesia merdeka, masyarakat di bagian barat Pulau Jawa lebih akrab menyebut tanah mereka sebagai Tatar Sunda, Pasundan, atau Soendalanden. Istilah itu tidak sekadar menandai wilayah geografis, tetapi juga menjadi rumah bagi bahasa, adat, dan peradaban yang tumbuh berabad-abad lamanya.

Kini, ketika DPRD Jawa Barat kembali mengkaji usulan pergantian nama menjadi Provinsi Sunda, banyak warga merasa sejarah lama seperti mengetuk pintu dan meminta untuk kembali dikenang.

Ketika Kemerdekaan Datang, Nama Jawa Barat Dipilih Demi Keseragaman

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, pemerintah Indonesia membentuk delapan provinsi pertama, termasuk Provinsi Jawa Barat. Penamaan itu mengikuti pendekatan geografis: Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Keputusan tersebut dianggap penting pada masa awal kemerdekaan karena negara yang baru lahir membutuhkan sistem administrasi yang sederhana dan seragam untuk menyatukan berbagai daerah dalam satu identitas nasional.

Nama “Sunda” tidak hilang dari kehidupan masyarakat, tetapi tidak lagi menjadi identitas resmi pemerintahan. Ia tetap hidup dalam bahasa ibu, kesenian, sastra, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi sebagian budayawan, inilah awal ketika identitas budaya Sunda perlahan berpindah dari ruang administrasi menuju ruang kebudayaan semata.

Dari Pasundan ke Jawa Barat, Sejarah Pernah Mengambil Jalan Berbeda

Perjalanan sejarah wilayah ini juga tidak selalu lurus. Pada masa Republik Indonesia Serikat, pernah berdiri Negara Pasundan yang kemudian melebur kembali ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1950.

Nama Pasundan sendiri telah lama menjadi simbol identitas masyarakat Sunda yang membentang dari Banten hingga Sungai Cipamali di perbatasan Jawa Tengah. Bahkan Jakarta pada masa lalu juga termasuk dalam wilayah budaya Sunda.

Namun perjalanan sejarah, pemekaran wilayah, dan dinamika politik membuat peta administrasi berubah. Jakarta berdiri sendiri, Banten menjadi provinsi baru pada tahun 2000, dan Jawa Barat tidak lagi menjadi daerah paling barat di Pulau Jawa.

Ironisnya, nama Jawa Barat tetap bertahan, sementara istilah Sunda hanya tinggal dalam kenangan kolektif masyarakatnya.

Kini Wacana Provinsi Sunda Kembali Menggema

Lebih dari satu dekade terakhir, para budayawan dan akademisi terus memperjuangkan pengembalian nama Sunda ke dalam nomenklatur resmi pemerintahan. Upaya itu pernah mengemuka pada 2009, 2015, 2020, dan kini kembali memperoleh ruang pembahasan di DPRD Jawa Barat.

Mereka berpendapat bahwa nama Sunda memiliki kekuatan sejarah, sosiologis, dan psikologis yang dapat memperkuat jati diri masyarakat Jawa Barat.

Namun suara lain mengingatkan bahwa Jawa Barat hari ini juga merupakan rumah bagi budaya Cirebonan, Betawi, dan berbagai komunitas lain yang ikut membentuk wajah provinsi ini.

Karena itu, perubahan nama tidak hanya membutuhkan dasar hukum, tetapi juga kesepakatan batin seluruh masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Bukan Sekadar Nama, Tetapi Tentang Ingatan Kolektif

Wacana Provinsi Sunda pada akhirnya bukan hanya perdebatan tentang papan nama kantor pemerintahan atau perubahan dokumen administratif. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam: ingatan kolektif sebuah masyarakat terhadap akar sejarahnya sendiri.

Barangkali yang sedang dicari masyarakat Sunda hari ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan pengakuan bahwa peradaban yang pernah melahirkan Prabu Siliwangi, Pajajaran, Galuh, dan Pasundan masih memiliki tempat terhormat dalam Indonesia modern.

Apakah nama Jawa Barat akan tetap bertahan, atau suatu hari kembali menjadi Provinsi Sunda, sejarah yang akan menjawabnya.

Namun satu hal yang pasti: bagi jutaan warga di tanah Pasundan, Sunda tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk dipanggil pulang.(Doel)

ADS BANNER
728 x 90

Kang Doel

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di lintasjabar.id

Berita Sebelumnya“Provinsi Sunda” Menggema, Luka Identitas Warga Jawa Barat Kembali Terbuka
Iklan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *